Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Juli 2026 | 15.40 WIB

7 Alasan Tekanan Sosial yang Membuat Orang Tetap Berada dalam Hubungan Toxic Menurut Psikologi

seseorang yang berada dalam hubungan toxic. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang bertanya-tanya mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas menyakitkan. Dari luar, jawabannya mungkin terlihat sederhana: "Kalau tidak bahagia, mengapa tidak pergi?" Namun, dalam kenyataannya, keputusan untuk mengakhiri hubungan toxic jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Psikologi menjelaskan bahwa seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh perasaannya sendiri, tetapi juga oleh tekanan sosial yang datang dari keluarga, teman, lingkungan, budaya, hingga norma masyarakat. Tekanan-tekanan ini dapat membuat seseorang merasa bersalah, takut, atau bahkan yakin bahwa bertahan adalah satu-satunya pilihan yang benar.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/7), terdapat tujuh alasan utama menurut psikologi mengapa tekanan sosial dapat membuat seseorang tetap berada dalam hubungan yang tidak sehat.

1. Takut Dianggap Gagal dalam Menjalin Hubungan

Salah satu bentuk tekanan sosial yang paling kuat adalah ketakutan terhadap penilaian orang lain. Banyak orang merasa bahwa mengakhiri hubungan berarti mengakui kegagalan.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini berkaitan dengan social evaluation, yaitu kecenderungan manusia untuk sangat memperhatikan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lingkungan. Ketika keluarga, teman, atau masyarakat menganggap hubungan yang langgeng sebagai simbol kesuksesan, seseorang menjadi lebih memilih bertahan meskipun menderita.

Akibatnya, kebahagiaan pribadi dikorbankan demi menjaga citra di mata orang lain.

2. Norma Budaya yang Mengajarkan untuk Selalu Bertahan

Di berbagai budaya, seseorang diajarkan bahwa hubungan harus dipertahankan apa pun yang terjadi. Kalimat seperti "semua hubungan pasti ada masalah", "pasangan harus saling menerima kekurangan", atau "bertahan adalah bukti cinta sejati" sering kali disampaikan dengan niat baik.

Namun, psikologi membedakan antara konflik yang sehat dengan hubungan yang penuh manipulasi, kekerasan emosional, atau penyalahgunaan.

Ketika norma budaya lebih menekankan ketahanan daripada keselamatan emosional, seseorang dapat mengabaikan tanda-tanda bahwa hubungannya sudah tidak lagi sehat.

3. Tekanan dari Keluarga

Keluarga sering kali memiliki harapan besar terhadap hubungan seseorang. Ada yang sudah mengenal pasangan bertahun-tahun, telah merencanakan pernikahan, atau bahkan telah menjalin hubungan antarkeluarga.

Tekanan ini membuat seseorang merasa bahwa mengakhiri hubungan berarti mengecewakan banyak orang.

Dalam psikologi keluarga, harapan kolektif semacam ini dapat menciptakan konflik antara kebutuhan pribadi dengan kewajiban sosial. Akibatnya, individu lebih memilih mengorbankan dirinya daripada menghadapi rasa bersalah karena mengecewakan keluarga.

4. Investasi Waktu dan Perasaan yang Sudah Terlalu Besar

Semakin lama seseorang menjalani hubungan, semakin sulit pula untuk mengakhirinya.

Fenomena ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan mempertahankan suatu keputusan karena merasa sudah menginvestasikan terlalu banyak waktu, tenaga, uang, maupun emosi.

Seseorang mungkin berpikir:

"Sudah lima tahun bersama."
"Sayang kalau semua ini sia-sia."
"Mungkin dia akan berubah."

Padahal, keputusan terbaik seharusnya didasarkan pada kondisi hubungan saat ini, bukan hanya pada besarnya pengorbanan di masa lalu.

5. Takut Kesepian dan Dikucilkan

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sosial. Menurut teori Need to Belong yang dikembangkan oleh Roy Baumeister dan Mark Leary, rasa memiliki merupakan kebutuhan psikologis yang sangat mendasar.

Karena itu, sebagian orang lebih memilih tetap berada dalam hubungan yang menyakitkan daripada menghadapi kemungkinan hidup sendiri.

Tekanan sosial juga dapat memperkuat rasa takut tersebut, misalnya ketika lingkungan sering mempertanyakan status hubungan seseorang atau menganggap lajang sebagai sesuatu yang negatif.

Dalam kondisi seperti ini, rasa takut terhadap kesepian dapat terasa lebih besar daripada rasa sakit akibat hubungan toxic itu sendiri.

6. Lingkungan Menganggap Perilaku Toxic sebagai Hal yang Wajar

Tidak semua lingkungan memiliki standar hubungan yang sehat. Ada komunitas atau keluarga yang menganggap perilaku seperti cemburu berlebihan, mengontrol pasangan, memanipulasi emosi, hingga merendahkan pasangan sebagai sesuatu yang normal.

Ketika seseorang terus-menerus melihat perilaku tersebut dianggap biasa, ia bisa mengalami normalisasi perilaku.

Akibatnya, tanda-tanda hubungan toxic menjadi sulit dikenali. Bahkan korban dapat mulai percaya bahwa semua pasangan memang bersikap seperti itu.

Psikologi menunjukkan bahwa persepsi seseorang terhadap hubungan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia tumbuh dan berinteraksi.

7. Harapan dari Lingkungan Bahwa Pasangan Akan Berubah

Tekanan sosial tidak selalu berbentuk kritik. Terkadang, tekanan datang dalam bentuk harapan.

Ucapan seperti:

"Dia sebenarnya orang baik."
"Nanti juga berubah."
"Kasih dia kesempatan lagi."
"Semua orang bisa berubah."

dapat membuat seseorang terus memberikan kesempatan meskipun pola perilaku toxic terus berulang.

Psikologi mengenal konsep optimism bias, yaitu kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan kemungkinan hasil positif dibandingkan kenyataan yang ada.

Harapan yang terus dipupuk oleh lingkungan dapat membuat seseorang mengabaikan pola perilaku yang sebenarnya sudah berulang selama bertahun-tahun.

Bagaimana Menghadapi Tekanan Sosial Ini?

Menghadapi tekanan sosial bukanlah hal yang mudah. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu:

Kenali perbedaan antara konflik hubungan yang normal dan perilaku yang bersifat toxic.
Dengarkan perasaan serta kebutuhan diri sendiri, bukan hanya pendapat orang lain.
Bangun dukungan dari teman atau keluarga yang mampu memberikan perspektif objektif.
Jangan merasa bersalah karena memilih keselamatan emosional.
Jika hubungan melibatkan manipulasi, kekerasan emosional, atau kekerasan fisik, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental.
Penutup

Bertahan dalam hubungan toxic bukan selalu karena seseorang lemah atau tidak memiliki keberanian untuk pergi. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut dipengaruhi oleh tekanan sosial yang sangat kuat, mulai dari norma budaya, harapan keluarga, rasa takut terhadap penilaian orang lain, hingga keyakinan bahwa pasangan suatu saat akan berubah.

Memahami faktor-faktor psikologis ini membantu kita melihat bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Alih-alih menghakimi, dukungan, empati, dan informasi yang benar justru menjadi hal yang paling dibutuhkan agar seseorang dapat mengambil keputusan terbaik bagi kesehatan mental dan kesejahteraan dirinya.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore