Ilustrasi gambar dari Pinterest @aritzie
JawaPos.com - Senyum yang terlihat baik-baik saja, bisa jadi ada luka yang tak pernah diceritakan.
Banyak orang memilih memendam masalah, meyakini bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya. Padahal, tidak semua rasa sakit bisa hilang hanya dengan dipendam.
Melalui podcast, dr. Tirta mengupas tuntas persoalan kesehatan mental, khususnya depresi. Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi diri sendiri sekaligus menghilangkan stigma bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.
Masih banyak yang menganggap depresi sama dengan rasa sedih biasa. Faktanya, depresi merupakan gangguan jiwa yang membutuhkan penanganan serius.
Seseorang yang mengalami depresi tidak hanya merasakan kesedihan berkepanjangan. Mereka juga bisa kehilangan semangat hidup, menarik diri dari lingkungan, mengalami perubahan pola tidur dan nafsu makan, hingga terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Pada kondisi yang lebih berat, depresi bahkan dapat memicu halusinasi, baik berupa suara maupun penglihatan yang tidak nyata.
Karena itu, mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar kondisi tidak berkembang semakin parah.
Self-Diagnose bisa menjadi bumerang pada kehidupan. Di era media sosial, informasi tentang kesehatan mental begitu mudah ditemukan. Sayangnya, kemudahan ini juga melahirkan kebiasaan baru yang berbahaya, yaitu self-diagnose.
Dr. Tirta mengingatkan bahwa membaca daftar gejala di internet bukan berarti seseorang dapat menyimpulkan dirinya mengalami depresi atau gangguan mental tertentu. Kesalahan dalam memahami informasi justru dapat menimbulkan kecemasan berlebihan dan memperburuk kondisi psikologis.
Diagnosis yang tepat hanya bisa dilakukan oleh psikolog atau psikiater melalui pemeriksaan profesional.
Laki-Laki Juga Berhak Menangis
Salah satu pembahasan yang paling menyentuh adalah mengenai stigma terhadap pria.
Sejak kecil, banyak laki-laki diajarkan untuk selalu kuat, tidak menangis, dan tidak mengeluh. Akibatnya, mereka terbiasa memendam emosi hingga akhirnya mengalami tekanan mental yang tidak pernah tersalurkan.
Menurut dr. Tirta, keberanian untuk bercerita bukanlah tanda kelemahan. Justru mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja merupakan bentuk keberanian yang sesungguhnya.
Terkadang, yang Dibutuhkan Hanya Seseorang yang Mau Mendengarkan
Tidak semua orang membutuhkan solusi saat sedang bercerita. Terkadang, mereka hanya ingin didengar tanpa dihakimi.
Karena itu, dr. Tirta mengingatkan ketika ada teman yang sedang mencurahkan isi hatinya. Hindari membandingkan masalah mereka dengan pengalaman pribadi. Dengarkan dengan empati, berikan ruang untuk berbicara, dan tunjukkan bahwa mereka tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Sikap sederhana seperti ini dapat menjadi dukungan emosional yang sangat berarti.
Tekanan hidup tidak bisa dihindari, tetapi setiap orang memiliki cara berbeda untuk menghadapinya. Ada yang memilih berlari, berolahraga, menikmati musik, membaca buku, menekuni hobi, atau melakukan aktivitas lain yang membuat pikiran lebih tenang.
Inilah yang disebut sebagai defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Selama dilakukan dengan cara yang sehat dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, setiap orang bebas menemukan cara terbaik untuk menjaga keseimbangan emosinya.
Saat kondisi mental mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan. Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bukan berarti seseorang lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Dr. Tirta juga mengingatkan bahwa informasi adalah pedang bermata dua. Di satu sisi dapat memberikan pengetahuan, tetapi di sisi lain bisa menyesatkan jika tidak disaring dengan bijak. Karena itu, menjaga kesehatan mental perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari menjaga kesehatan fisik, memperkuat spiritualitas, membangun hubungan sosial yang sehat, hingga memperoleh pendampingan profesional bila diperlukan.
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan menunggu hingga luka batin berubah menjadi beban yang sulit dipikul. Beranilah bercerita, jangan terjebak dalam self-diagnose, dan jangan ragu mencari bantuan dari tenaga profesional.
Ingat, kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Meminta pertolongan bukanlah tanda menyerah, melainkan langkah pertama menuju proses pemulihan dan kehidupan yang lebih baik.
***