Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Juni 2026 | 01.25 WIB

Kepribadian Anak Dibentuk Sejak Dini: Parenting Empatik Jadi Kunci Menciptakan Generasi Tangguh

Ilustrasi photo dari Pinterest @zoei

 

 
 
JawaPos.com - Setiap orang tua tentu menginginkan anak yang percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat.
 
Namun, kepribadian anak tidak terbentuk dalam semalam, apalagi hanya melalui aturan yang ketat atau hukuman.
 
Karakter seorang anak lahir dari pengalaman yang mereka rasakan setiap hari—bagaimana mereka diperlakukan, didengarkan, dipahami, dan dicintai oleh orang-orang terdekatnya.
 
Inilah pesan utama yang mengemuka dalam perbincangan inspiratif antara Bilal Faranov dan Rensia Sanvira mengenai konsep parenting yang lebih berkelas, penuh empati, dan berorientasi pada hubungan jangka panjang antara orang tua dan anak.
 
Alih-alih menekankan kepatuhan semata, diskusi tersebut mengajak orang tua memahami bahwa membesarkan anak berarti membentuk manusia seutuhnya—bukan sekadar mengendalikan perilakunya.
 
Anak Tidak Sedang Melawan, Mereka Sedang Berjuang
 
Di balik setiap tangisan, ledakan emosi, atau sikap keras kepala seorang anak, sering kali tersimpan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
 
Rensia Sanvira mengajak orang tua mengubah sudut pandang. Ketika anak menunjukkan perilaku yang dianggap "menyulitkan", sesungguhnya mereka sedang menghadapi pergulatan emosi yang belum mampu mereka pahami sendiri.
 
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberi label seperti "nakal", "bandel", atau "pemalas". Yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan harga diri anak. Sebab, kata-kata yang terus diulang orang tua perlahan dapat berubah menjadi cara anak memandang dirinya sendiri.
 
Koneksi Emosional Adalah Jalan Tercepat Menuju Perubahan
 
Banyak orang tua berharap anak langsung memahami kesalahannya setelah dimarahi. Padahal, ilmu perkembangan otak menunjukkan hal yang berbeda.
 
Saat anak merasa takut, dipermalukan, atau diteriaki, otaknya masuk ke dalam mode bertahan hidup (survival mode). Dalam kondisi tersebut, kemampuan berpikir logis dan menerima pelajaran justru menurun.
 
Karena itulah, Rensia menekankan pentingnya membangun koneksi sebelum memberikan koreksi.
 
Pelukan, sentuhan hangat, atau kalimat sederhana seperti, "Ayah dan Ibu ingin memahami apa yang kamu rasakan," mampu membuat anak merasa aman. Dari rasa aman itulah mereka lebih siap mendengarkan, belajar, dan berubah.
 
Orang Tua Adalah Cermin Pertama bagi Anak
 
Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
 
Cara orang tua mengendalikan emosi, menyelesaikan konflik, meminta maaf, hingga memperlakukan pasangan akan menjadi "buku pelajaran" pertama bagi anak dalam memahami kehidupan.
 
Karena itu, memutus rantai trauma bukan berarti menciptakan masa kecil yang sempurna tanpa masalah.
 
Sebaliknya, yang terpenting adalah memastikan anak tidak pernah merasa menghadapi kesulitannya seorang diri.
 
Ketika anak tahu bahwa keluarganya selalu menjadi tempat paling aman untuk kembali, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan memiliki kesehatan emosional yang lebih baik.
 
Meminta Maaf Justru Menguatkan Wibawa Orang Tua
 
Masih banyak anggapan bahwa orang tua tidak boleh meminta maaf kepada anak karena dianggap dapat mengurangi kewibawaan.
 
Padahal, menurut Rensia, keberanian mengakui kesalahan merupakan salah satu bentuk keteladanan terbaik.
 
Saat orang tua berkata, "Maaf, tadi Ayah atau Ibu terlalu emosi," anak belajar bahwa setiap orang bisa berbuat salah, tetapi orang yang dewasa adalah mereka yang berani bertanggung jawab dan memperbaikinya.
 
Sikap sederhana ini juga membangun kepercayaan yang membuat hubungan dalam keluarga semakin hangat dan terbuka.
 
Hargai Kejujuran Sebelum Membahas Kesalahan
 
Tidak sedikit anak memilih berbohong karena takut dimarahi. Rensia menyarankan agar orang tua memberikan apresiasi terlebih dahulu ketika anak berani berkata jujur.
 
Kalimat sederhana seperti, "Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya," mampu menciptakan rasa aman yang membuat anak tidak takut bersikap jujur di masa depan.
 
Setelah itu, barulah orang tua mengajak anak mencari solusi bersama. Dengan cara ini, anak belajar bahwa kejujuran selalu lebih berharga daripada menyembunyikan kesalahan.
 
Hubungan Suami Istri Menjadi Pondasi Pendidikan Anak
 
Parenting tidak dimulai ketika anak lahir, tetapi ketika suami dan istri membangun hubungan yang sehat.
 
Anak menyerap cara orang tuanya berbicara, menyelesaikan konflik, menunjukkan kasih sayang, hingga menghargai satu sama lain. Semua itu akan membentuk cara mereka menjalin hubungan saat dewasa nanti.
 
Karena itu, menjaga keharmonisan rumah tangga bukan hanya demi kebahagiaan pasangan, tetapi juga menjadi hadiah terbesar bagi perkembangan emosional anak.
 
Mengajarkan Anak Menghargai Diri Melalui Penampilan
 
Dalam diskusi tersebut, Rensia juga mengangkat sudut pandang yang menarik mengenai pentingnya menjaga penampilan.
 
Menurutnya, berpakaian rapi, menjaga kebersihan, dan merawat diri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan cara menghargai diri sendiri.
 
Ia mengajarkan anak bahwa kesan pertama sering kali membuka pintu komunikasi. Ketika seseorang mampu menghormati dirinya sendiri, orang lain pun cenderung lebih mudah memberikan rasa hormat yang sama.
 
Kepribadian anak tidak dibentuk oleh seberapa sering mereka dimarahi, melainkan oleh seberapa sering mereka merasa dicintai, dipahami, dan diterima.
 
Anak yang tumbuh dalam keluarga yang mengedepankan empati, komunikasi, dan rasa aman akan memiliki pondasi emosional yang lebih kuat.
 
Mereka belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, kejujuran adalah keberanian, dan keluarga selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang.
 
Melalui pemikiran Bilal Faranov dan Rensia Sanvira, kita diingatkan bahwa tugas orang tua bukan sekadar membesarkan anak hingga dewasa, tetapi membentuk manusia yang mampu mencintai dirinya sendiri, menghargai orang lain, serta menghadapi kehidupan dengan hati yang sehat dan penuh empati.
 
Itulah warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada generasi berikutnya.
 
 
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore