Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Mei 2026 | 18.10 WIB

Jika Kamu Pernah Meminta Maaf Karena Menangis, Kamu Mungkin Pernah Mengalami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang meminta maaf karena menangis (Magnific/armmypicca) - Image

seseorang yang meminta maaf karena menangis (Magnific/armmypicca)


JawaPos.com - Ada orang yang sejak kecil terbiasa menangis tanpa merasa bersalah. Tapi ada juga yang setiap kali air mata keluar, langsung diikuti rasa malu, lalu refleks berkata: “maaf…”—seolah-olah menangis adalah kesalahan.

Dalam psikologi perkembangan, kebiasaan ini sering tidak muncul begitu saja. Ia biasanya terbentuk dari pengalaman berulang di masa kecil dan remaja yang membentuk cara seseorang memandang emosi, terutama emosi yang dianggap “lemah” seperti kesedihan.

Kalau kamu pernah meminta maaf karena menangis, bukan berarti kamu “terlalu sensitif” atau “lemah”. Bisa jadi, ada pengalaman psikologis tertentu yang pernah kamu alami saat tumbuh dewasa.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 kemungkinan yang sering dijelaskan dalam perspektif psikologi.

1. Kamu Pernah Diajarkan Bahwa Menangis Itu “Berlebihan”

Di banyak keluarga atau lingkungan, ada pesan tidak langsung seperti:

“Jangan cengeng.”
“Nangis terus, kayak anak kecil.”
“Gitu aja nangis?”

Pesan seperti ini membuat anak belajar bahwa menangis bukan respon yang diterima. Dalam psikologi, ini disebut emotional invalidation (emosi tidak divalidasi).

Akibatnya, saat dewasa:

Kamu merasa perlu meminta maaf ketika menangis
Kamu menganggap emosimu “terlalu banyak”
Kamu menahan diri bahkan ketika sedang sangat sedih
2. Kamu Tumbuh di Lingkungan yang Minim Ruang Emosi

Beberapa orang tumbuh di lingkungan yang fokus pada:

logika
prestasi
ketahanan mental

Bukan pada ekspresi emosi.

Dalam psikologi perkembangan, ini bisa membentuk emotional suppression habit—kebiasaan menekan emosi.

Hasilnya:

menangis terasa seperti “gangguan”
kamu merasa harus cepat “normal lagi”
ada rasa bersalah setelah menunjukkan kesedihan
3. Kamu Pernah Merasa Menjadi “Beban” Saat Sedih

Jika dulu setiap kamu menangis:

orang tua kesal
orang sekitar tidak nyaman
atau kamu diminta “berhenti”

otakmu bisa mengasosiasikan emosi dengan “mengganggu orang lain”.

Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan fear of burdening others (takut membebani orang lain).

Makanya saat dewasa:

kamu minta maaf saat menangis
kamu lebih memilih diam saat sedih
kamu menyembunyikan emosi agar orang lain nyaman
4. Kamu Belajar Bahwa Emosi Harus Dikontrol, Bukan Dirasakan

Ada perbedaan besar antara:

mengatur emosi (healthy regulation)
menekan emosi (suppression)

Orang yang sering meminta maaf karena menangis biasanya lebih dekat ke pola kedua.

Dalam jangka panjang, ini bisa membuat:

kamu sulit mengenali emosi sendiri
kamu merasa “tidak boleh” terlihat rapuh
kamu lebih nyaman memproses semua secara rasional, bukan emosional
5. Kamu Pernah Mendapat Respons Negatif Saat Menangis

Pengalaman kecil tapi berulang seperti:

ditertawakan saat menangis
diabaikan
dibandingkan dengan orang lain yang “lebih kuat”

bisa membentuk emotional shame conditioning (kondisi malu terhadap emosi).

Hasilnya:

menangis = rasa malu
kamu merasa perlu minta maaf agar “dimaafkan karena merasa”
6. Kamu Mengaitkan Nilai Diri dengan “Kuat atau Tidaknya Kamu”

Dalam beberapa budaya dan lingkungan, “kuat” sering disamakan dengan:

tidak menangis
tidak mengeluh
selalu tegar

Ini bisa membentuk conditional self-worth—harga diri yang bergantung pada performa.

Akhirnya:

menangis terasa seperti kegagalan
kamu takut terlihat “tidak kuat”
kamu minta maaf karena merasa “jatuh dari standar”
7. Kamu Sebenarnya Sangat Peka, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Cara Mengelolanya

Ini poin yang sering terlewat.

Banyak orang yang mudah menangis bukan “lemah”, tapi:

sangat sensitif secara emosional
punya empati tinggi
mudah menangkap suasana sekitar

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan high emotional sensitivity.

Masalahnya bukan pada emosinya, tapi:

tidak diajarkan cara mengekspresikan dengan aman
tidak diberi ruang untuk memahami emosi

Akhirnya, satu-satunya cara yang muncul adalah menangis—dan rasa bersalah ikut menyertainya.

Penutup: Menangis Bukan Hal yang Perlu Dimintakan Maaf

Menangis adalah respons biologis dan psikologis yang normal. Itu adalah cara tubuh:

meredakan tekanan
memproses emosi
memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang penting

Kalau kamu pernah meminta maaf karena menangis, itu bukan tanda kamu “berlebihan”. Itu lebih sering tanda bahwa dulu kamu tidak diberi ruang aman untuk merasa.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore