Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 15.14 WIB

Orang yang Tidak Pernah Merasa Benar-Benar Dicintai Saat Kecil Sering Memiliki 9 Kebiasaan “Aneh” Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak pernah merasa dicintai saat kecil. (Freepik/wavebreakmedia_micro) - Image

seseorang yang tidak pernah merasa dicintai saat kecil. (Freepik/wavebreakmedia_micro)


JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat jelas. Beberapa di antaranya tersembunyi dalam cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku sehari-hari. Salah satu pengalaman yang paling membentuk kepribadian adalah masa kecil—khususnya apakah seseorang merasa benar-benar dicintai atau tidak.

Menurut psikologi, anak yang tumbuh tanpa rasa dicintai yang cukup—baik karena kurangnya perhatian, kehangatan emosional, atau validasi—sering mengembangkan mekanisme bertahan hidup yang terbawa hingga dewasa. Mekanisme ini kadang terlihat sebagai “kebiasaan aneh”, padahal sebenarnya adalah cara mereka melindungi diri.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 kebiasaan yang sering muncul:

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Mereka cenderung selalu waspada. Bahkan ketika seseorang menunjukkan niat baik, ada suara kecil di dalam diri mereka yang berkata, “Hati-hati, ini bisa berakhir menyakitkan.”

Hal ini terjadi karena di masa kecil, orang yang seharusnya memberi rasa aman justru tidak melakukannya secara konsisten. Akibatnya, kepercayaan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit diberikan.

2. Terlalu Mandiri (Hingga Menolak Bantuan)

Sekilas terlihat kuat dan mandiri, tapi sebenarnya ini adalah bentuk pertahanan. Mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri sejak kecil, sehingga merasa tidak nyaman bergantung pada orang lain.

Bagi mereka, meminta bantuan terasa seperti kelemahan—atau bahkan berisiko ditolak.

3. Selalu Merasa “Tidak Cukup”

Walaupun sudah berusaha keras, ada perasaan dalam diri bahwa mereka belum cukup baik, belum cukup pintar, atau belum cukup layak untuk dicintai.

Ini sering berasal dari kurangnya validasi emosional di masa kecil, sehingga mereka tumbuh dengan standar internal yang sangat keras.

4. Sulit Menerima Pujian

Ketika dipuji, mereka cenderung menolak atau meremehkan pujian tersebut.
Contoh: “Ah, itu cuma kebetulan.”

Bukan karena rendah hati, tetapi karena mereka tidak benar-benar percaya bahwa mereka layak mendapatkan apresiasi.

5. Takut Ditinggalkan (Attachment Anxiety)

Mereka bisa sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan, bahkan yang kecil sekalipun. Pesan yang tidak dibalas, perubahan nada suara, atau jarak emosional sedikit saja bisa memicu kecemasan besar.

Di baliknya ada ketakutan lama: “Orang akan pergi, seperti dulu.”

6. Terlalu Menyenangkan Orang Lain (People Pleasing)

Mereka sering berusaha keras untuk membuat orang lain bahagia, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.

Ini adalah strategi tidak sadar untuk “mendapatkan cinta” yang dulu terasa kurang:
“Kalau aku cukup baik, mungkin aku akan diterima.”

7. Kesulitan Mengenali Emosi Sendiri

Karena di masa kecil perasaan mereka mungkin diabaikan atau tidak divalidasi, mereka tumbuh tanpa pemahaman yang jelas tentang emosi sendiri.

Akibatnya, mereka bisa merasa “kosong” atau bingung dengan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

8. Overthinking dalam Hubungan

Mereka cenderung menganalisis segala hal secara berlebihan:

“Kenapa dia bilang begitu?”
“Apakah dia marah?”
“Aku salah apa?”

Pikiran ini muncul karena mereka terbiasa mencari tanda-tanda bahaya untuk melindungi diri dari rasa sakit.

9. Sulit Merasa Dicintai, Bahkan Saat Dicintai

Ini mungkin yang paling menyakitkan.
Meski berada dalam hubungan yang sehat, mereka tetap merasa ada sesuatu yang kurang.

Bukan karena pasangannya tidak cukup mencintai, tetapi karena sistem emosional mereka belum terbiasa menerima cinta secara utuh.

Penutup: Ini Bukan Kesalahan Mereka

Penting untuk dipahami bahwa kebiasaan-kebiasaan ini bukanlah kelemahan, melainkan hasil adaptasi dari masa lalu. Mereka adalah bukti bahwa seseorang pernah berusaha bertahan dalam kondisi emosional yang tidak ideal.

Kabar baiknya, pola-pola ini bisa dipahami dan perlahan diubah. Dengan kesadaran, refleksi diri, dan—jika perlu—bantuan profesional, seseorang bisa belajar untuk:

mempercayai lagi,
menerima cinta,
dan yang paling penting: mencintai dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, setiap orang berhak merasa dicintai—tidak peduli bagaimana masa kecilnya dulu.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore