
Ilustrasi ghibah online. (freepik)
JawaPos.com-Bulan ramadhan sudah di depan mata. Ibadah puasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum, namun juga mengendalikan diri dari berbagai godaan yang hadir di kehidupan sehari-hari.
Perkembangan zaman justru membuat berbagai perbuatan yang seharusnya dihindari kini menjadi hal yang dianggap wajar. Padahal gaya hidup modern ini bertabrakan dengan makna puasa.
Terutama pada era digital yang kerap bertebaran berita hoaks, ujaran kebencian, dan komentar-komentar provokatif di media sosial. Kondisi tersebut kerap memicu emosi, mengganggu ketenangan hati, dan membuat seseorang menjadi mudah marah.
Tidak hanya menghilangkan pahala puasa, beberapa perbuatan yang sudah dilazimkan ini bisa membuat anda terjerumus ke dalam dosa.
Mengutip informasi dari laman /sulut.kemenag.go.id dan kotayogya.baznas.go.id tujuh pola hidup di era digital ini bertentangan dengan ibadah puasa itu sendiri. Jika tidak mulai dikendalikan sejak saat ini, maka makna puasa bisa hilang secara perlahan.
Kesibukan duniawi
Bulan ramadhan kerap terasa berat karena banyak orang tetap sibuk mengejar target pekerjaan disaat berpuasa. Ambisi duniawi sering membuat ibadah terlewat bahkan terabaikan, padahal ramadhan adalah momen yang tepat untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Namun, sebagian orang justru memilih lembur demi bonus dibandingkan menjalankan ibadah seperti tarawih, tadarus, ataupun bersilaturahmi dengan sesama muslim.
Distraksi digital
Ngabuburit bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk scrolling media sosial. Namun kebiasaan ini kerap dijadikan pembenaran sampai membuat ibadah terabaikan. Tanpa kita sadari, waktu berharga habis hanya untuk memantau layar, sampai enggan membantu orang lain dan minim interaksi dengan keluarga.
Konten negatif di medsos
Perkembangan zaman digital yang semakin pesat membuat berbagai informasi tidak bisa difilter dengan akurat. Banyak masyarakat yang sulit membedakan konten fakta dan hoax, termasuk konten berisikan fitnah, ujaran kebencian, fake news, dan kalimat permusuhan. Belum lagi konten-konten yang tidak etis berseliweran di berbagai platform seperti TikTok, IG, FB, X, Threads .
Konsumerisme
Inti dari puasa adalah mengajarkan kita untuk hidup zuhud, sederhana, dan mampu menahan keinginan. Namun, dalam praktiknya kebiasaan yang sering dinormalisasi masyarakat adalah anggapan bahwa ramadhan hanya datang sekali, sehingga banyak orang yang mewajarkan untuk belanja berlebihan (konsumerisme). Bukannya belajar hidup secukupnya, bulan puasa justru berubah menjadi ajang konsumtif, di mana perilaku boros dibenarkan dan segala cara dilakukan demi memenuhi keinginan lapar mata yang tidak terkendali.
Pamer ibadah
Riya termasuk dalam bentuk memamerkan ibadah di media sosial selama bulan ramadhan. Termasuk unggahan status, story, atau konten tertentu yang menampilkan kebaikan pribadi secara berlebihan. Ibadah yang dilakukan tidak semata-mata ikhlas pada Allah, tetapi sebagai sarana membangun citra pribadi di ruang digital. Ibadah bulan ramadhan justru bergeser menjadi media pamer, dan bukan niat tulus membantu sesama yang membutuhkan

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
