Ilustrasi benda legendaris era 1970-an yang kini bikin nostalgia dan dirindukan banyak orang (Geediting)
JawaPos.com - Bagi mereka yang tumbuh besar di era 1970-an, ada satu hal yang tak tergantikan: pengalaman hidup yang terasa lebih nyata, lebih perlahan, dan lebih bermakna.
Tanpa notifikasi ponsel, tanpa media sosial, dan tanpa layar sentuh, kehidupan dijalani dengan ritme yang sangat berbeda.
Menurut ulasan yang dikutip dari rezeki dan hoki, Minggu (11/01), berikut delapan benda ikonik dari tahun 1970-an yang kini terasa seperti harta nostalgia.
Telepon putar (rotary phone) menuntut kesabaran. Setiap angka harus diputar dan menunggu kembali ke posisi awal. Tak ada pesan teks atau voice note, semua komunikasi harus dilakukan secara langsung lewat suara.
Karena harus berdiri di dekat telepon, orang benar-benar fokus pada lawan bicara. Percakapan terasa lebih personal dan penuh perhatian.
Setiap minggu, TV Guide menjadi “kitab suci” hiburan. Dari majalah kecil ini, orang merencanakan acara yang akan ditonton selama satu minggu penuh.
Tidak ada fitur replay atau streaming. Jika terlambat, maka episode favorit akan benar-benar terlewat. Inilah yang membuat menonton televisi terasa seperti sebuah acara penting.
Set ensiklopedia adalah simbol prestise dan komitmen terhadap pendidikan. Jika ingin mencari informasi tentang negara, sejarah, atau ilmu pengetahuan, semua harus dicari di buku tebal ini.
Meski informasinya sering sudah tidak terbaru, ensiklopedia menjadi sumber utama belajar dan menyelesaikan tugas sekolah.
Membuat mixtape adalah bentuk kasih sayang. Orang duduk berjam-jam menunggu lagu favorit diputar di radio, lalu merekamnya dengan hati-hati.
Setiap kaset adalah hasil kurasi pribadi yang penuh emosi. Tidak sekadar playlist, tetapi sebuah pesan tersirat untuk orang yang menerimanya.
Di era film kamera, satu rol hanya berisi 24 atau 36 foto. Setiap jepretan harus dipikirkan matang-matang.
Orang tak bisa langsung melihat hasilnya. Mereka harus menunggu beberapa hari hingga film dicetak. Hasilnya pun penuh kejutan, dari foto buram hingga momen tak terduga yang justru terasa sangat hidup.
Sebelum GPS, perjalanan dilakukan dengan peta kertas. Merencanakan rute berarti membuka peta besar di meja dan menandai jalur dengan stabilo.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
