alexametrics

Gaya Kerja Milenial yang Gampang Resign Hingga Tuntut Gaji Tinggi

26 Juli 2019, 09:58:21 WIB

JawaPos.com – Kaum milenial dan Gen-Z memiliki gairah bekerja yang masih segar. Mereka memiliki banyak ide kreatif yang dibutuhkan perusahaan. Di sisi lain, karena semangat yang masih membara, membuat milenial juga sulit mengendalikan emosinya. Dilema yang dihadapi perusahaan adalah ketika para milenial menuntut gaji besar hingga ancaman mundur dari pekerjaan (resign) hanya dalam hitungan bulan.

Dilansir dari Bussiness Mirror, Jumat (26/7), sejumlah perusahaan mengungkapkan pengalamannya memiliki karyawan usia milenial dan Gen-Z. Para perusahaan mengeluhkan betapa sulitnya mencari atau mempertahankan karyawan dari kalangan milenial. Para milenial sering izin untuk berlibur atau alasan urusan keluarga. Atau masalah lainnya, milenial juga datang terlambat ke kantor namun itu hanya beberapa kasus.

Karena sebagian besar generasi milenial tumbuh di zaman di mana perangkat memberikan banyak informasi yang mereka butuhkan dengan mengklik tombol dengan jempol. Mereka dapat mengambil foto, mempostingnya di media sosial untuk dilihat oleh siapa pun di seluruh dunia secara instan. Kebiasaan itu membuat mereka juga perlu mendapatkan jumlah kepuasan instan yang sama dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Milenial menyukai umpan balik instan, tetapi ketika tugas yang diberikan kepada mereka tidak berjalan sesuai keinginan mereka, mereka tampaknya mudah berkecil hati. Milenial yang tidak bahagia selalu mengundurkan diri, mencari pekerjaan yang sempurna yang akan membuat mereka bahagia sesuai versi mereka.

Sebenarnya, di satu sisi, perusahaan mengagumi betapa banyak gairah yang dimiliki para milenial dalam pekerjaan, namun perusahaan juga harus mengevaluasi seberapa besar kebahagiaan dan kepuasan yang dibutuhkan milenial.

Ilustrasi karyawan bekerja di kantor. (Istimewa)

Beda dengan Generasi 1980an

Beda dengan generasi 1980an, mereka lulus dari universitas lalu segera mencari pekerjaan. Tidak ada liburan keluarga atau liburan bersama teman-teman. Patuh terhadap segala peraturan perusahaan. Mereka mengejar pengalaman, bukan gaji.

Ingin Gaji Tinggi

Baru-baru ini media sosial Twitter viral seorang netizen milenial yang menolak tawaran gaji sebesar Rp 8 juta di sebuah perusahaan. Postingan tersebut diunggah oleh akun @WidasSatyo yang mengaku berasal dari lulusan kampus ternama. Dia menolak gaji itu karena merasa tak sebanding dengan nama dan gengsi kampus terbaik tempat dia mengenyam bangku kuliah.

“Jadi gue diundang interview kerja perusahaan lokal. Dan nawarin kisaran 8 juta doang. Hello meskipun gue fresh graduate gue lulusan UI pak. Univesitas Indonesia. Jangan disamain ama fresh graduate kampus lain dong ah. Level UI mah udah perusahaan LN(luar negeri), kalau lokal mah oke aja asal harga cucok,” katanya dalam cuitannya.

Media Relation Universitas Indonesia Egia Tarigan menjelaskan lulusan UI berdasarkan Tracer Study 2018 memiliki rata-rata masa tunggu mendapatkan pekerjaan 3 bulan. Menanggapi cuitan itu, Egia menegaskan identitas netizen tersebut juga belum dapat dipastikan apakah benar alumni UI atau bukan.

“Namanya juga anak-anak di dalam berekspresi melalui sosial media. Kalau ditanya tanggapannya ya saya juga enggak bisa banyak berpendapat. Pertama identitasnya enggak ketahuan, bisa jadi bukan alumni kami? Kedua, ya kalaupun benar itu alumni kami, sangat tidak bijak kalau kami langsung menggeneralisir pendapat dia tersebut sebagai pendapat seluruh lulusan UI. Mahasiswa UI di manapun kelak kalian berkarya, jangan lupa tetap perkaya diri dengan ilmu dan selalu rendah hati,” tegas Egia kepada JawaPos.com.

Perusahaan Harus Jadi Zona Nyaman

Ilustrasi milenial mengundurkan diri dari perusahaan. (Istimewa)

Tidak setiap peran pekerjaan atau perusahaan cenderung menawarkan pekerjaan yang disukai atau diinginkan oleh Generasi Z dan milenial. Semua pengusaha atau perusahaan dapat menerapkan praktik terbaik untuk menumbuhkan lingkungan kerja yang lebih positif untuk meningkatkan strategi agar milenial betah di sebuah perusahaan dan menjadi zona nyaman bagi mereka

1. Kenyamanan Setara Gaji

Generasi Z sudah memiliki tingkat kesadaran sosial dasar berkat pengenalan awal pembelajaran sosial-emosional di sekolah. Perusahaan dapat menginvestasikan pembelajaran sosial-emosional agar dapat menarik calon Generasi Z yang ingin pengalaman kerja mereka menawarkan lingkungan yang sehat secara emosional serta gaji yang sesuai.

2. Tawaran Pendidikan

Secara umum, kelompok generasi baru ini telah datang ke tempat kerja dengan modal pendidikan yang baik. Generasi Z menghargai pembelajaran. Untuk menjaga kualitas, tawarkan mereka pendidikan formal dan informal untuk meningkatkan kemampuan mereka.

3. Jangan Terlalu Stres

Masalah kesehatan mental, termasuk kelelahan, mewabahi Generasi Z, menurut hasil survei Asosiasi Psikologis Amerika. Tidak heran, jika mereka sudah tak nyaman biasanya dengan mudah mengundurkan diri. Manajer mungkin bisa menawarkan fleksibilitas kepada Generasi Z kapan dan bagaimana mereka menyelesaikan tugas. Menyajikan kebebasan bisa memberi karyawan kesempatan untuk mengendalikan jadwal mereka dan mengukir prioritas mereka sendiri, yang membantu meredam potensi perasaan frustrasi.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads