
Para model membawakan koleksi “Blood” karya Migi Rihasalay di SFP 2025. (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com-Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025 kembali menjadi ruang eksplorasi kreatif bagi para desainer yang ingin menantang batas estetika. Gelaran yang berlangsung 14–16 November di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 ini mengangkat tema “Rebellion”, membuka kesempatan bagi para pelaku mode untuk menyajikan karya yang lebih bebas, ekspresif, dan berani.
Dari deretan desainer yang tampil, salah satu koleksi yang paling menyita perhatian adalah “Blood” karya Migi Rihasalay. Koleksi ini langsung mencuri spotlight sejak look pertama melangkah di runway, bukan hanya karena permainan warnanya yang dramatis, tetapi juga narasi simbolik yang kuat di baliknya.
Makna Darah dan Pengorbanan di Atas Runway
Melalui 12 look bernuansa merah-putih, Migi menghadirkan interpretasi emosional tentang kehidupan, kematian, hingga pengorbanan manusia. Baginya, darah bukan sekadar elemen visual, tetapi simbol universal yang melekat pada pengalaman manusia.
“Darah itu kehidupan sekaligus kehilangan. Termasuk pengorbanan perempuan saat melahirkan dan mereka yang bertumpah darah memperjuangkan sesuatu,” ujar Migi usai pertunjukan. Pesan itu tercermin lewat gradasi warna yang tampak mengalir lembut, seolah menjadi representasi pergerakan darah yang hidup di tubuh.
Eksperimen Kanvas dan Gradasi Halus
Keunikan lain dari koleksi ini adalah material yang digunakan. Migi memilih kain kanvas sebagai media utama agar setiap busana bisa benar-benar dilukis. Dengan cat khusus untuk natural fiber, ia menciptakan efek warna yang dibiarkan jatuh secara natural—mirip tetesan darah yang meresap perlahan.
Menurutnya, tantangan terbesar ada pada gradasi. “Harus halus, tidak boleh terlihat bercak. Gradasi itu ciri khas saya,” jelasnya.
Pendekatan ini membuat setiap look terasa seperti karya seni yang berpindah dari kanvas ke tubuh model.
Detail Handmade: Payet hingga Spider Lily
Kekuatan koleksi “Blood” tidak berhenti pada pewarnaan. Migi menambahkan banyak detail handmade yang mempertegas simbolisme karyanya. Payet dijahit manual satu per satu, sementara kepala model dihiasi bunga spider lily, yang secara kultural sering dikaitkan dengan kematian, perpisahan, dan perjalanan menuju akhir.
Proses pengerjaan satu busana memakan waktu sekitar dua hari, termasuk melukis, membuat gradasi, hingga merangkai ornamen. Tingkat kerumitannya membuat tiap look tampil unik dengan pesan visual yang kuat.
Interpretasi Berani untuk Tema “Rebellion”
Koleksi “Blood” menjadi contoh bagaimana tema “Rebellion” diterjemahkan secara konseptual. Migi tidak hanya memberontak melalui teknik dan material yang tidak lazim, tetapi juga melalui keberanian mengangkat simbol yang sarat makna emosional.
Dengan eksplorasi kanvas, gradasi intens, serta detail handmade yang kaya cerita, “Blood” menjadi salah satu koleksi yang paling berkesan di SFP 2025. Karya ini menunjukkan bahwa pemberontakan dalam mode tidak selalu soal bentuk ekstrem—kadang justru hadir lewat narasi yang jujur dan menyentuh. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
