JawaPos.com - Hidup di kelas menengah ke bawah kerap diwarnai dilema: antara kebutuhan nyata dan keinginan sederhana.
Ada rasa ingin merayakan hidup, tetapi bayangan rekening yang menipis atau cicilan yang menunggu sering membuat seseorang diliputi rasa bersalah setelah membeli sesuatu.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (6/9), psikologi menyebut fenomena ini sebagai buyer’s remorse—penyesalan setelah berbelanja—yang lebih sering dialami oleh orang dengan keterbatasan finansial.
Menariknya, ada pola yang sama: keputusan-keputusan kecil yang terlihat sepele bagi sebagian orang, justru menjadi beban emosional besar bagi mereka yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah.
Mari kita bahas delapan di antaranya.
1. Membeli Kopi atau Minuman Kekinian di Luar
Bagi sebagian orang, Rp25 ribu–Rp40 ribu untuk segelas kopi adalah angka biasa.
Namun, bagi yang tumbuh dalam kondisi terbatas, itu berarti setara dengan satu kali makan siang sederhana.
Setelah meneguknya, muncul pikiran, “Harusnya uang ini bisa buat beli lauk untuk dua hari.”
Inilah dilema kecil yang menandakan betapa kuatnya pola pikir hemat melekat.
2. Mengganti HP Padahal yang Lama Masih Bisa Dipakai
Teknologi bergerak cepat, dan iklan membuat kita ingin selalu terlihat up to date.
Namun, bagi mereka yang terbiasa berhitung ketat, membeli HP baru sering diiringi rasa bersalah.
Ada pertanyaan batin: “Kenapa aku harus keluar jutaan, padahal HP lama masih nyala, meski layarnya retak?”
Rasa ini muncul dari memori masa lalu: barang dipakai sampai benar-benar rusak.
3. Nongkrong di Restoran atau Kafe Mewah
Makan enak sesekali seharusnya sah-sah saja. Tapi ketika tagihan datang—tiga digit ribu hanya untuk sekali makan—bayangan biaya listrik, sewa rumah, atau kebutuhan anak langsung menekan hati.
Menurut psikologi kelas sosial, orang yang berasal dari bawah sering menginternalisasi rasa bersalah ini karena terbiasa memandang uang sebagai sumber keamanan, bukan kesenangan.
4. Membeli Baju atau Sepatu Branded
Barang bermerek seringkali menjadi simbol status. Namun, ketika seseorang dari kelas menengah ke bawah akhirnya memberanikan diri membeli sepasang sepatu mahal, rasa bangga itu tidak bertahan lama.
Sebaliknya, muncul bisikan hati: “Dengan harga ini aku bisa beli tiga pasang sepatu biasa.”
Rasa bersalah muncul karena terbiasa memandang fungsi, bukan gengsi.
5. Mengeluarkan Uang untuk Hobi atau Hiburan
Menonton konser, membeli buku mahal, atau berlangganan layanan streaming sering dianggap “kemewahan.”
Bagi orang dari latar belakang sederhana, ini bisa terasa seperti pengkhianatan terhadap prinsip hemat keluarga.
Akibatnya, hobi yang seharusnya memberi kebahagiaan malah tercampur rasa berdosa.
6. Membayar untuk Jasa yang Bisa Dikerjakan Sendiri
Memanggil ojek online untuk jarak dekat, menggunakan jasa laundry, atau pesan makanan lewat aplikasi sering memunculkan rasa bersalah.
Pikiran spontan muncul: “Kenapa aku enggak jalan kaki aja?” atau “Baju bisa dicuci sendiri, ngapain bayar lebih?”
Kebiasaan mengutamakan efisiensi biaya membuat keputusan praktis jadi terasa seperti kemewahan.
7. Membeli Hadiah untuk Diri Sendiri
Hadiah untuk orang lain biasanya tidak terlalu dipertanyakan. Tapi begitu membeli sesuatu hanya untuk memanjakan diri—misalnya parfum mahal atau tiket liburan singkat—rasa bersalah menyerang.
Hal ini berakar pada pola pikir pengorbanan: kebahagiaan pribadi sering dikesampingkan demi kebutuhan keluarga atau hal yang lebih “berguna.”
8. Menggunakan Kartu Kredit atau Cicilan
Bagi banyak orang, cicilan adalah strategi finansial normal. Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga berpenghasilan terbatas, berutang identik dengan “masalah.”
Sehingga, setiap kali gesek kartu kredit atau mengambil cicilan, meskipun untuk kebutuhan wajar, muncul rasa bersalah dan khawatir tidak mampu membayar di kemudian hari.
Penutup: Bukan Sekadar Uang, Tapi Pola Asuh Finansial
Perasaan bersalah ini bukan berarti salah sepenuhnya. Justru, ia lahir dari nilai hidup yang diwariskan: kehati-hatian, menghargai uang, dan kemampuan beradaptasi.
Namun, psikologi modern mengingatkan bahwa rasa bersalah yang berlebihan bisa merusak hubungan dengan diri sendiri.
Belajar menyeimbangkan—antara hemat dan menikmati hidup—adalah kunci.
Karena pada akhirnya, bukan hanya seberapa banyak uang yang kita punya, tapi bagaimana kita mengizinkan diri untuk merasa layak bahagia, meski berasal dari latar belakang sederhana.
***