Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 21.17 WIB

Sudah Diterapkan di Jepang dan Eropa, Mungkinkah Sistem Kerja 4 Hari Sepekan Diterapkan di Indonesia?

Ilustrasi Work Life Balance dengan 4 hari kerja sepekan. (Freepik)

JawaPos.com - Indonesia selama ini menganut sistem waktu kerja lima hari dan dua hari libur. Umumnya diterapkan oleh di lingkungan pemerintah, BUMN, maupun swasta. Kini di beberapa negara sudah mengalami pergeseran yang mengubah sistem kerja empat hari dan libur tiga hari. Fenomena ini akankah bisa diterapkan di Indonesia? 

Di luar negeri sistem empat hari kerja filosofinya untuk mengantisipasi kejenuhan (burnout) dan ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tujuan utamanya bukanlah sekadar mengurangi jam kerja, melainkan menggeser fokus dari durasi ke produktivitas berbasis hasil. 

Dilansir Euronews Konsep intinya sederhana. Bekerja lebih cerdas, bukan lebih lama. Dengan gaji dan beban kerja yang tetap, waktu yang lebih singkat mendorong inovasi dan efisiensi, sekaligus memberikan ruang bagi pemulihan mental dan fisik. 

Katalis dan Bukti Nyata Pergeseran Paradigma

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Pandemi Covid-19 berperan sebagai katalis, memaksa banyak perusahaan untuk mengeksplorasi fleksibilitas yang sebelumnya dianggap mustahil. Dari pengalaman ini, terbukti bahwa kinerja optimal tidak selalu bergantung pada kehadiran fisik di kantor. 

Berbagai uji coba di seluruh dunia telah memperkuat argumen ini:

  • Inggris Raya dan Portugal:

Uji coba berskala besar membuktikan model 100:80:100—100% gaji untuk 80% waktu, dengan komitmen 100% produktivitas—berhasil diterapkan. Laporan dari euronews.com dan yahoonews.uk menunjukkan bahwa 92% perusahaan di Inggris Raya memutuskan untuk melanjutkan skema ini secara permanen, menegaskan efektivitasnya. 

  • Jerman:

Negara yang sudah dikenal dengan jam kerja pendek ini meluncurkan program percontohan dengan 45 perusahaan. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan, tetapi juga menjadi strategi untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja. 

  • Islandia:

Negara ini menjadi pelopor dengan uji coba berskala besar pada tahun 2015-2019. Hasilnya sangat positif, menyebabkan hampir 90% populasi pekerja di sana kini memiliki jam kerja yang lebih pendek, mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan. 

  • Jepang:

Merespons tingginya kasus kematian akibat kerja berlebihan (karoshi), pemerintah mendorong korporasi besar seperti Microsoft untuk menguji model ini. Hasilnya luar biasa: produktivitas melonjak hingga 40%, membuktikan bahwa istirahat yang lebih panjang dapat memacu inovasi dan efisiensi. 

Menuju Masa Depan yang Lebih Seimbang

Tentu saja, penerapan model kerja empat hari bukanlah tanpa tantangan. Sektor-sektor tertentu, seperti layanan kesehatan atau manufaktur, mungkin menghadapi kendala operasional. Namun, esensi dari pergerakan ini adalah adaptasi. Masa depan dunia kerja akan semakin menuntut kita untuk berpikir di luar kebiasaan lama.

Sistem ini mengundang kita untuk membayangkan sebuah masa depan di mana pekerjaan tidak lagi mendominasi seluruh aspek kehidupan. Dengan waktu ekstra untuk keluarga, hobi, atau pengembangan diri, kita bisa menjadi individu yang lebih utuh.  

Model kerja empat hari bukan hanya tentang efisiensi ekonomi, melainkan juga tentang menciptakan masyarakat yang lebih sehat, bahagia, dan berdaya. Ini adalah langkah maju menuju era di mana kerja dan hidup dapat berjalan seiring, saling mendukung satu sama lain.  

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore