Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 01.35 WIB

Cek 7 Alasan Banyak Generasi Boomer Menghindari ChatGPT, Menurut Psikologi

Ilustrasi. (Pexels.com) - Image

Ilustrasi. (Pexels.com)

JawaPos.com - Jika kamu pernah mendengar seorang kerabat Baby Boomer bertanya, “Sebenarnya apa itu ChatGPT, dan kenapa aku harus percaya padanya?”, kamu tidak sendirian. 

Nada pertanyaannya jarang terdengar sinis—lebih sering terdengar hati-hati, seperti saat seseorang mencoba memahami mobil tanpa pengemudi yang tiba-tiba muncul di jalan masuk rumah.

Dan ternyata, kehati-hatian itu bukan sekadar naluri. Puluhan tahun riset tentang adopsi teknologi (dan juga soal proses penuaan) menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua cenderung dipandu oleh perpaduan antara motivasi, kekhawatiran, dan kebiasaan berpikir yang cukup bisa diprediksi.

Berikut adalah tujuh ciri psikologis yang paling sering ditemukan oleh para peneliti pada Generasi Baby Boomer yang cenderung menghindari teknologi seperti ChatGPT, seperti dilansir dari VegOut.

Tentu saja, ada banyak pengecualian. Anggap ini sebagai lensa untuk memahami, bukan label yang membatasi.

1. Kecemasan terhadap Teknologi Semakin Meningkat

Jauh sebelum kecerdasan buatan jadi topik utama, para peneliti sudah mengamati apa yang disebut teknophobia atau gabungan antara rasa takut dan frustrasi yang muncul saat seseorang harus berhadapan dengan perangkat digital baru.

Sebuah studi terhadap orang dewasa berusia 53–88 tahun menemukan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi memengaruhi kemauan untuk mencoba perangkat lunak baru, bahkan ketika keterampilan dasarnya cukup memadai.

Antarmuka ChatGPT yang tampak sederhana justru membuat pengguna merasa bahwa kalau terjadi kesalahan, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Ditambah dengan pemberitaan soal “halusinasi AI”, rasa khawatir yang awalnya ringan bisa berubah menjadi penghindaran total.

2. Lebih Nyaman dengan Rutinitas yang Sudah Terbentuk

Kebiasaan itu seperti jalan tol bagi otak—sekali terbentuk, segalanya jadi lebih mudah dan otomatis. Karena Boomer memiliki waktu puluhan tahun lebih lama dalam membangun rutinitas, seperti mencari informasi lewat Google, menelepon pustakawan, atau membaca manual, beralih ke ChatGPT terasa seperti membangun jalan baru dari nol.

Inilah yang disebut bias status quo atau kecenderungan untuk tetap pada hal yang sudah dikenal meskipun ada pilihan yang lebih efisien. 

3. Merasa Kurang Percaya Diri dalam Menggunakan AI

Self-efficacy atau keyakinan bahwa kamu bisa melakukan sesuatu dengan sukses adalah kunci dalam mencoba hal baru. Dalam survei, banyak orang dewasa yang lebih tua merasa kurang percaya diri saat harus memecahkan masalah teknologi.

Padahal, perbedaannya kadang bukan pada kemampuan, tapi pada persepsi. Sifat ChatGPT yang terbuka—“Tanya apa saja”—bisa membuat pengguna merasa tidak tahu harus mulai dari mana. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore