Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Februari 2025 | 19.43 WIB

7 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Dikecewakan Orang Tua Menurut Psikologi, Berlangsung Saat Tumbuh Dewasa!

Kepribadian dikecewakan orang tua menurut psikologi. (Freepik/ freepik) - Image

Kepribadian dikecewakan orang tua menurut psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Hubungan antara orang tua dan anak adalah salah satu fondasi utama dalam pembentukan kepribadian. Namun, tidak semua pengalaman dalam keluarga berjalan mulus.

Beberapa orang yang sering dikecewakan oleh orang tua selama masa pertumbuhan mungkin menunjukkan ciri kepribadian tertentu saat dewasa. Psikologi mengungkapkan bahwa pola ini bisa terus berlangsung dan memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan dunia.

Dilansir dari geediting.com pada Selasa (4/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh ciri kepribadian orang yang saat tumbuh dewasa selalu dikecewakan oleh orang tua mereka menurut Psikologi.

  1. Sulitnya membangun kepercayaan

Mereka yang tumbuh dengan kekecewaan dari orangtua seringkali mengembangkan masalah kepercayaan yang mendalam di masa dewasa. Ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain ini berakar dari pengalaman masa kecil ketika figur yang seharusnya paling dapat diandalkan justru berulang kali mengecewakan.

Pola ini kemudian termanifestasi dalam berbagai bentuk seperti sikap skeptis berlebihan terhadap niat orang lain dan keengganan untuk membuka diri secara emosional. Yang lebih memprihatinkan, ketakutan akan kekecewaan ini seringkali mendorong mereka untuk melakukan sabotase-diri dalam hubungan, menciptakan siklus negatif yang terus berulang.

  1. Kecenderungan menyalahkan diri

Individu yang sering dikecewakan orangtuanya cenderung mengembangkan kebiasaan menyalahkan diri sendiri atas segala situasi. Mereka seringkali menginternalisasi kesalahan bahkan dalam situasi yang sebenarnya di luar kendali mereka, menciptakan citra diri negatif yang sulit dihilangkan.

Pola pikir ini bisa sangat merusak hubungan interpersonal karena mereka cenderung mengambil tanggung jawab yang tidak semestinya dalam setiap konflik. Kesalahan persepsi ini berakar dari masa kecil di mana kekecewaan orangtua sering disampaikan seolah-olah itu adalah kesalahan sang anak.

  1. Obsesi akan kesempurnaan

Perfeksionisme menjadi ciri khas yang sering muncul pada mereka yang pernah mengalami kekecewaan berulang dari orangtua. Dorongan untuk menjadi sempurna ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan yang berkembang dari keinginan mendapatkan pengakuan orangtua, namun sayangnya terbawa hingga dewasa dalam berbagai aspek kehidupan.

Kondisi ini sering menimbulkan tingkat stres yang tinggi dan kelelahan mental karena selalu mengejar standar yang tidak realistis. Perilaku ini juga dapat memicu penghindaran tugas karena takut tidak bisa mencapai hasil yang sempurna.

  1. Kesulitan mengekspresikan emosi

Tumbuh dalam lingkungan di mana ekspresi emosi tidak didukung atau bahkan ditolak dapat mengakibatkan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan di masa dewasa. Mereka cenderung menekan emosi mereka karena khawatir akan penolakan atau ketidaksetujuan dari orang lain.

Pola ini sering menyebabkan kesalahpahaman dalam hubungan karena ketidakmampuan mengkomunikasikan perasaan secara efektif. Akibat lebih jauh, penumpukan emosi yang tidak terungkapkan ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

  1. Menekan kebutuhan pribadi

Pengalaman masa kecil di mana kebutuhan pribadi sering diabaikan membentuk pola perilaku menekan keinginan diri sendiri hingga dewasa. Individu dengan latar belakang seperti ini sering merasa bahwa kebutuhan mereka tidak sepenting kebutuhan orang lain, sehingga selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas diri sendiri.

Mereka cenderung mengatakan “tidak apa-apa” meski sebenarnya memiliki kebutuhan atau keinginan yang berbeda. Perilaku ini seringkali berujung pada perasaan tidak terpenuhi dan kekecewaan yang terpendam.

  1. Pergulatan dengan harga diri

Mereka yang tumbuh dengan kekecewaan orangtua sering mengembangkan masalah harga diri yang serius. Perjuangan internal ini bisa terlihat dari kebutuhan konstan akan validasi eksternal dan kecenderungan meremehkan pencapaian pribadi.

Mereka mungkin kesulitan menerima pujian dan selalu merasa perlu membuktikan diri, meski sudah mencapai banyak hal. Perasaan “tidak cukup baik” ini berakar dari pengalaman masa kecil di mana mereka merasa tidak layak mendapatkan kasih sayang atau perhatian.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore