
Ilustrasi seseorang yang tumbuh sebagai anak semata wayang
JawaPos.com - Mengasuh anak memang tidak mudah. Salah satunya adalah memberi pujian untuk membangun kepercayaan diri anak, namun cara memberikan pujian yang kurang tepat justru dapat membawa dampak yang berlawanan.
Bukannya mendorong mereka untuk berkembang, pujian tersebut malah bisa membuat mereka terjebak dalam pola pikir yang salah atau bahkan menurunkan motivasi mereka. Apakah artinya kita harus berhenti memuji anak sama sekali? Tentu saja tidak.
Tujuannya adalah membantu anak tumbuh dengan pola pikir berkembang (growth mindset) yang akan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan hidup. Untuk itu, dalam artikel ini, ada 8 pujian yang sebaiknya dihindari, dilansir dari Readers Digest, Kamis (23/2).
“Kamu pintar sekali!”
Pujian seperti ini mungkin terdengar positif, tetapi sebenarnya bisa membuat anak terjebak dalam pola pikir tetap atau fixed mindset. Ketika anak percaya bahwa kepintaran adalah hal bawaan lahir, mereka cenderung merasa gagal saat menghadapi kesulitan.
Sebagai gantinya, pujilah usaha mereka, dengan perkataan, “Kamu bekerja keras sekali untuk memahami pelajaran ini. Hasilnya sangat baik!” Dengan begitu, anak akan memahami bahwa keberhasilan datang dari kerja keras, bukan semata-mata bakat bawaan.
“Bagus, kamu dapat nilai A!”
Meskipun membanggakan prestasi anak adalah hal yang wajar, fokus pada hasil semata bisa menjadi bumerang. Anak mungkin merasa bahwa nilai merupakan satu-satunya ukuran keberhasilan, sehingga mereka lebih fokus pada hasil daripada proses belajar. Untuk itu cobalah ganti pujian ini dengan, “Kamu benar-benar berusaha keras mempersiapkan ujian ini, dan itu terlihat dari hasilnya.”
“Gambar kamu cantik sekali!”
Meskipun gambar mereka terlihat bagus, terlalu sering memberikan pujian seperti ini dapat membuat anak bergantung pada validasi dari orang lain. Sebaliknya, fokuslah pada usaha dan detail karya mereka, seperti “Aku suka bagaimana kamu menggunakan warna-warna ini. Apa yang menginspirasimu membuat gambar ini?” Dengan begitu, anak belajar menghargai proses kreatifnya sendiri.
“Kamu anak baik!”
Memuji anak sebagai “baik” bisa membuat mereka berpikir bahwa nilai diri mereka bergantung pada penilaian orang lain. Lebih baik, berikan pujian pada tindakan spesifik mereka, misalnya “Kamu sangat baik saat membantu adikmu tadi. Itu tindakan yang penuh perhatian.”
“Kamu cantik sekali!”
Pujian berdasarkan penampilan sering kali menanamkan pesan bahwa nilai diri seseorang bergantung pada tampilan fisik. Sebagai alternatif, pujilah kemampuan mereka, seperti “Aku bangga melihat caramu menyelesaikan masalah tadi.”
“Kerja bagus!”

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
