Ilustrasi: Pria maskulin (Pexels)
JawaPos.com - Ada perbedaan besar antara maskulinitas tradisional dan toxic masculinity. Perbedaannya bermuara pada dampak. Maskulinitas toksik memaksakan stereotip bahwa pria harus menyembunyikan emosi mereka, selalu tampil 'tangguh', dan tidak pernah menunjukkan kerentanan.
Namun, maskulinitas tradisional tidak menuntut standar yang tidak realistis ini. Sebaliknya, maskulinitas tradisional mengakui bahwa pria, seperti halnya semua orang, adalah manusia dan memiliki berbagai macam emosi dan kekuatan.
Masalah dengan toxic masculinity adalah bahwa hal tersebut dapat membahayakan pria dalam jangka panjang. Dan sebagai seseorang yang pernah mengalaminya, saya telah belajar bahwa ada empat pelajaran merusak yang dapat diajarkan oleh toxic masculinity kepada pria.
Dalam artikel ini, saya akan membagikan empat hal tersebut kepada Anda hal-hal yang diajarkan oleh toxic masculinity, kepada para pria yang dapat merugikan kita dari waktu ke waktu. Dikutip dari geediting, berikut 4 hal yang diajarkan maskulinitas toksik kepada pria yang membahayakan mereka dalam jangka panjang:
1) Pria sejati tidak menangis
Salah satu pelajaran paling berbahaya yang ditanamkan oleh toxic masculinity pada pria adalah bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan.
Stereotip ini, lebih sering diabadikan dengan kalimat, “pria sejati tidak menangis.”
Ini adalah keyakinan yang merusak yang membuat pria enggan mengekspresikan perasaan mereka dan dapat menyebabkan penindasan emosional.
Pikirkanlah tentang hal ini. Berapa kali Anda mendengar seorang anak laki-laki disuruh “jantan” saat dia kesal? Retorika semacam inilah yang dapat menyebabkan kerusakan emosional jangka panjang.
Emosi adalah bagian dari menjadi manusia, dan tidak masalah untuk mengekspresikannya, apa pun jenis kelamin Anda. Namun, toxic masculinity mengajarkan pria sebaliknya, mendorong mereka ke sudut di mana mereka merasa harus terus menerus menunjukkan kekuatan dan ketabahan.
Tapi mari kita luruskan satu hal: kekuatan yang sesungguhnya datang dari mengakui dan mengekspresikan emosi Anda. Hal ini tidak membuat Anda menjadi kurang dari seorang pria. Bahkan, itu menunjukkan bahwa Anda adalah manusia.
2) Menjadi rentan adalah hal yang tidak boleh dilakukan
Maskulinitas beracun mengajarkan kita bahwa kerentanan adalah tanda kelemahan. Saya secara pribadi telah merasakan sengatan dari pelajaran berbahaya ini.
Saya ingat suatu waktu di awal usia dua puluhan ketika saya mengalami masa-masa sulit. Saya merasa tersesat, tidak yakin dengan jalur karier saya, dan berjuang dengan putus cinta. Alih-alih menghubungi teman atau keluarga, saya malah memendam semuanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
