Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Desember 2024 | 21.30 WIB

8 Standar Ganda yang Tidak Boleh Ditelan Mentah-Mentah, Bisa Bikin Frustrasi

Ilustrasi bingung dan frustasi. (pexels.com) - Image

Ilustrasi bingung dan frustasi. (pexels.com)

JawaPos.com - Standar ganda adalah sesuatu yang sering kali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak selalu disadari, hal ini dapat membuat seseorang merasa bingung, tidak dihargai, bahkan frustrasi. 

Biasanya, standar ganda terjadi ketika aturan atau harapan diterapkan secara tidak konsisten kepada individu atau kelompok tertentu. 

Dilansir dari laman Geediting.com pada Minggu (22/12), berikut ini adalah delapan standar ganda yang tidak boleh kamu telan mentah-mentah.

1. Kamu Bereaksi Berlebihan

Pernah mendengar frasa seperti, “Kamu terlalu sensitif” atau “Saya hanya bersikap jujur”? Ini adalah salah satu bentuk standar ganda yang sering muncul. 

Ketika seseorang merasa bebas mengungkapkan opininya, tetapi mengabaikan perasaan orang lain, mereka sebenarnya sedang menciptakan ketidakadilan. 

Perasaan dan reaksi setiap orang itu valid, terlepas dari apakah itu dianggap “berlebihan” oleh orang lain. Mengabaikan emosi seseorang dengan alasan seperti ini hanya akan memperburuk suasana hati dan mengurangi rasa saling menghormati.

2. Dicap sebagai Orang yang 'Ambisius' atau 'Suka Memerintah'

Jika kamu pernah disebut ambisius atau suka memerintah, jangan langsung merasa bersalah. Dalam banyak kasus, ini adalah standar ganda yang mengaitkan sifat dominan atau proaktif seseorang dengan hal negatif, terutama jika dikaitkan dengan gender. 

Dalam masyarakat yang terkadang membatasi ekspresi kepribadian tertentu, label ini dapat memengaruhi bagaimana orang melihat dirimu atau bahkan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri. Padahal, bersikap ambisius adalah hal yang normal dan tidak ada yang salah dengan itu.

3. Harapan Emosional Berdasarkan Gender

Standar ganda juga sering muncul dalam ekspresi emosi. Misalnya, pria sering kali dianggap tidak boleh menangis karena dianggap lemah, sementara wanita lebih diterima jika menunjukkan emosinya di depan umum. 

Harapan emosional berdasarkan gender ini sangat tidak adil karena setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi. Emosi bukanlah sesuatu yang harus dibatasi oleh norma-norma sosial yang kaku.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore