Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 November 2024 | 21.04 WIB

4 Alasan Psikologi dari Remaja yang Melakukan 'Sadfishing' di Media Sosial, Apakah Bisa Meningkat Seiring Bertambahnya Usia?

Ilustrasi orang yang melakukan sadfishing di media sosial. - Image

Ilustrasi orang yang melakukan sadfishing di media sosial.

JawaPos.com - Sadfishing merupakan istilah yang digunakan para pengguna media sosial untuk mempublikasikan keadaan emosinya, terutama rasa sedih. Tujuan mereka melakukan itu tak lain hanya ingin mendapat simpati.

Namun mengutip dari laman Klik Dokter, bahwa mereka yang melakukan sadfishing memiliki dampak bahaya seperti tidak bisa mengendalikan diri sendiri, tidak mendapatkan respon, merasa frustasi, dan memicu munculnya gangguan mental.

Menariknya, sadfishing ini kerap dilakukan oleh para remaja apalagi saat mereka putus cinta atau kecewa ketika tidak dapat pengakuan yang baik dari lingkungan sosialnya.

Melansir dari laman Psychology Today, inilah 4 alasan psikologi dari remaja yang melakukan sadfishing di media sosial :

1. Menjadikan Denial sebagai Coping Mechanism

Denial atau penyangkalan adalah salah satu coping mechanism seseorang untuk menghindari perasaan atau kejadian yang menyakitkan. Remaja yang menyangkal masalah emosionalnya akan berkoar-koar di media sosial hanya untuk validasi dan simpati.

Pelarian ini sama sekali tidak membantu mengelola emosi atau menyelesaikan masalah yang mendasarinya, sehingga akan membuat mereka lari dari tanggung jawab.

2. Keracunan

Ketika seseorang berada di bawah pengaruh alkohol, daya tahannya akan menurun dan penilaiannya terganggu. Hal ini dapat menyebabkan postingan impulsif, mengungkapkan kesedihan mereka yang bertujuan mendapatkan perhatian.

3. Mencari Perhatian

Perilaku mencari perhatian yang berhubungan dengan gangguan kepribadian. Penelitian ini menemukan bahwa remaja dengan ciri-ciri gangguan kepribadian histrionik lebih rentan terhadap sadfishing, karena mereka mencari perhatian dan validasi yang berlebihan, serta merasa tidak nyaman saat tidak menjadi pusat perhatian.

4. Keterikatan dengan Rasa Cemas

Sadfishing juga dapat disebabkan oleh gaya keterikatan yang cemas, menurut penelitian hal ini ditandai dengan kebutuhan tinggi untuk mendapatkan persetujuan dan rasa takut akan penolakan.

Peneliti juga menemukan bahwa selama masa remaja , anak laki-laki cenderung lebih sering melakukan sadfishing, tetapi akan menurun seiring bertambahnya usia. Di sisi lain, anak perempuan justru sering melakukan sadfishing seiring bertambahnya usia.

Jadi dengan hal tersebut kita dapat mengetahui bahwa tren sadfishing ini cukup mengerikan bagi kesejahteraan mental, ditambah lagi dengan naluri perempuan yang dominan perasaan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore