
Ilustrasi Hewan Mitologi asal Indonesia. (pexels.com/arthouse studio).
JawaPos.com – Hewan mitologis kerap kita temui dalam dongeng atau film dan sinetron yang berbasis pada cerita lokal, fabel dan dongeng.
Sebagai contoh, dalam film produksi Hollywood kita kerap melihat visualisasi kuda terbang (unicorn) atau naga bersayap ala Eropa.
Tidak hanya di Barat, di Asia pun, khususnya Tiongkok, dalam film atau drama serialnya kita kerap melihat hewan mitologis mereka seperti naga tiongkok yang panjang seperti ular.
Demikian juga dengan Indonesia, dengan beragamnya tradisi dan suku di negara ini, memungkinkan berserakannya hewan-hewan mitologis yang kerap divisualisasikan dalam sinetron maupun film.
Bahkan, lambang negara dan juga sejumlah lembaga negara kerap mengadaptasi hewan mitologis sebagai simbol dari lembaga tersebut.
Garuda
Garuda melekat dalam memori kita sebagai bangsa Indonesia, karena hewan mitologi ini menjadi lambang negara Republik Indonesia dengan julukan garuda pancasila. Interpretasi umum atas ciri-ciri fisik garuda adalah berbulu emas, berwajah putih, dan memiliki sayap merah. Garuda mempunya sayap dan paruh seperti elang, sementara badannya mirip manusia.
Konon ukurannya sangat besar sehingga matahari terhalangi olehnya. Kisah garuda ada dalam kepercayaan Hindu dan Buddha, yang tertuang dalam kitab Mahabharata dan Purana asal India. Garuda dikenal sebagai raja burung dan tunggangan dewa batara Wisnu. Garuda juga dikenal di Jepang dengan nama Karura. Selain jadi lambang negara di Indonesia, garuda juga jadi simbol negara di Thailand dengan sebutan Phra Khrut.
Kuda Sembrani
Hewan mitologi ini berasal dari Jawa. Kuda sembrani adalah kuda bersayap yang sangat berani dan dapat terbang. Serupa dengan Pegasus, hewan mitologi dari Yunani. Dalam narasi pewayangan, kuda sembrani merupakan hewan tunggangan Batara Wisnu selain garuda. Rakyat Jawa menyebut Kuda sembrani sebagai tunggangan raja, ratu dan senopati. Salah satu legenda mengatakan bahwa kuda sembrani milik Sultan Agung pernah kabur dari kerajaan Mataram Islam, kemudian singgah di Pantai Madasari, Pangandaran, Jawa Barat.
Ebu Gogo
Mahluk mitologi ini berasal dari cerita rakyat dari Flores, khususnya di Nagekeo. Wujudnya serupa dengan Leprechaun, sejenis peri atau kurcaci setinggi 1 meter. Ebu Gogo memiliki ciri-ciri fisik dengan hidung yang lebar dan pendek, wajahnya lebar, dan mulutnya besar, dan juga telinganya menjulur, serta badan dipenuhi bulu. Ebu dalam bahasa Flores berarti nenek, sedangkan gogo berarti pemakan segala. Ebu gogo disebut sebagai nenek karena memiliki payudara yang menjuntai panjang. Sosoknya sangat menyeramkan dan rakus dengan makanan apa saja. Bahkan, ia juga bisa makan daging manusia, maka dia digambarkan dengan perut yang besar.
Ia juga sangat gesit dan dapat berlari dengan cepat. Cara mereka berkomunikasi adalah dengan cara berbisik, dan kadang suka meniru suara manusia. Menurut legenda, ebu gogo terlihat sekitar 400 tahun yang lalu saat penjajah dari Portugis dan Belanda datang. Ada yang mengatakan bahwa mereka punah karena dibasmi oleh penjajah karena dianggap hama. Kini ebu gogo menjadi cerita rakyat
Ahool

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
