Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Agustus 2024 | 02.32 WIB

8 Pengalaman Luka Masa Kecil yang Membuat Anda Sulit Mengungkapkan Perasaan Menurut Psikologi, Simak Apa Saja!

Ilustrasi seseorang yang kesulitan mengungkapkan perasaan karena memiliki trauma di masa kecil. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang kesulitan mengungkapkan perasaan karena memiliki trauma di masa kecil. (Freepik)

JawaPos.com – Kesulitan dalam mengungkapkan perasaan adalah hal yang umum dialami oleh banyak orang. Namun, tahukah Anda bahwa akar permasalahan ini sering kali bermula dari pengalaman masa kecil? 

Masa kecil adalah periode kritis dalam perkembangan seseorang, di mana pengalaman-pengalaman yang dialami dapat meninggalkan jejak mendalam pada jiwa. 

Menurut psikologi, Luka emosional yang dialami di masa kecil, seperti pengabaian, penolakan, atau trauma, dapat membentuk cara seseorang berinteraksi dengan dunia dan dirinya sendiri.

Salah satu dampak yang sering terlihat adalah kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara terbuka. Mereka mungkin merasa takut akan penolakan, penghakiman, atau bahkan hukuman jika mereka menunjukkan kerentanan mereka. 

Akibatnya, mereka memilih untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan membangun tembok pelindung di sekitar hati mereka.

Dilansir dari laman The Expert Editor, Selasa (13/8), Jawa Pos akan membahas delapan pengalaman masa kecil yang umum dialami oleh orang-orang yang kesulitan mengungkapkan perasaan mereka. Simak sampai akhir!

1. Pengalaman Diabaikan dan Tidak Divalidasi Perasaannya

Ketika anak-anak merasa perasaannya diabaikan atau diremehkan, mereka belajar untuk menekan emosi mereka. Mereka mungkin merasa bahwa perasaan mereka tidak penting atau tidak pantas untuk diungkapkan. Hal ini dapat membuat mereka kesulitan untuk terbuka tentang perasaan mereka saat dewasa.

2. Tumbuh di Lingkungan yang Tidak Membahas Emosi

Jika anak-anak tumbuh di lingkungan di mana emosi tidak dibicarakan atau dianggap tabu, mereka mungkin tidak belajar bagaimana mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan mereka dengan sehat. Akibatnya, mereka mungkin merasa canggung atau tidak nyaman saat harus berbicara tentang emosi mereka.

3. Terpapar pada Gagasan Bahwa Kerentanan Emosi adalah Kelemahan

Banyak budaya atau keluarga yang mengajarkan bahwa menunjukkan kerentanan adalah tanda kelemahan. Anak-anak yang tumbuh dengan pesan ini mungkin belajar untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan menampilkan citra diri yang kuat dan mandiri.

4. Terpapar pada Respon Emosional yang Tidak Konsisten

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore