
Ilustrasi weton yang diharap lebih waspada mulai satu suro 2024 (Freepik,/wayhomestudio)
JawaPos.com - Malam satu suro merupakan pertanda masuknya tahun baru pada Kalender Jawa. Malam satu suro juga bertepatan dengan satu Muharram pada Kalender Hijriyah.
Perhitungan Kalender Jawa dan Kalender Hijriyah memiliki perbedaan. Hal ini terkadang cukup membingungkan bagi sebagian orang, khususnya orang-orang awam, di mana kebingungan tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam metode perhitungan.
Dilansir JawaPos.com dari kanal YouTube Channel Jawa pada Selasa (16/7), di dalam metode perhitungan Kalender Jawa ini ada yang disebut satu Windu, di mana satu Windu ini terdiri dari delapan tahun.
Jadi, perbedaan paling menonjol dari Kalender Jawa ini terletak pada penetapannya yang berputar selama delapan tahun. Masing-masing tahun juga sudah memiliki hari dan pasaran yang bertepatan dengan satu suro.
Misalnya, jika tahun 2023 satu suro jatuh pada Jumat Pon dan pada Kalender Hijriyah satu Muharram jatuh pada Rabu Legi. Maka, pada tahun 2024 satu suro jatuh pada Selasa Pahing dan satu Muharram jatuh pada Ahad Kliwon atau 7 Juli.
Namun, berdasarkan pertimbangan dari kebijakan pemerintah, yakni Kementerian Agama, satu Muharram yang ada dalam Kalender Hijriyah Ahad Kliwon, kemudian dirubah menjadi Senin Legi.
Misalnya, jika tahun 2023 satu suro jatuh pada Jumat Pon, kemudian tahun 2024 satu suronya jatuh pada hari Selasa Pahing, maka delapan tahun yang akan datang, sekitar tahun 2032, satu suronya juga akan jatuh di hari dan pasaran Selasa Pahing, dan itu akan terus berputar seperti itu.
Perhitungan Kalender Jawa, terutama perhitungan Kalender Jawa Aboge memang lebih rumit, sehingga tidak setiap orang bisa memahami dan terkadang menimbulkan kebingungan. Maka wajar banyak orang bertanya tentang kapan datangnya malam satu suro atau tanggal satu suro.
Pada tahun 2024 ini, satu suro jatuh pada hari Selasa Pahing, maka Jatingarang atau larangan hari ini adalah sebagai berikut:
1. Selasa Pahing
2. Rabu Pon
3. Kamis Wage
Mereka yang memiliki weton yang sama yang masuk dalam Jatingarang atau larangan hari, maka harus lebih waspada, lebih prihatin, dan harus lebih bersabar, karena biasanya menemukan kesulitan-kesulitan di dalam perekonomian mereka.
Hal ini sudah diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat jawa. Sebagai orang jawa, seharusnya kita tahu tentang hal ini, sehingga kita bisa lebih waspada dan tahu ikhtiar apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari hal-hal yang buruk, serta kehidupan kita bisa mengalami peningkatan.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
