Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Agustus 2023 | 01.37 WIB

Tip "Basa-basi" yang Tidak Menyakiti saat Jumpa Kawan Lama

Ilustrasi mengobrol

Bertemu kawan yang lama tidak berjumpa, banyak hal yang ingin ditanyakan. Atau, justru sulit menemukan obrolan pembuka. Sebelum berbasa-basi, penting untuk tahu siapa kawan bicara kita dan bagaimana latar belakangnya. Sebab, pertanyaan yang sama bisa menuai reaksi berlainan saat diajukan pada orang yang berbeda.

---

ADA orang yang merasa sensitif saat disinggung perihal kondisi fisik. Yang lain merasa tidak nyaman bicara soal kehidupan percintaan. Ada juga yang menolak diajak berbincang tentang pekerjaan. Situasinya tidak bisa selalu dipukul rata. Penilaiannya akan kembali pada seberapa kita mengenali kawan bicara kita sehingga pertanyaan yang terlontar akan dirasa relevan dan menyentuh, tetapi tidak intrusif.

Komentar soal Fisik Tidak Selalu Berarti Tidak Etis

Bayangkan ada seorang teman yang kita tahu kerap mengunggah di media sosial upayanya untuk menurunkan atau menaikkan berat badan dengan cara mengatur diet dan berolahraga. Lalu, suatu waktu kita bertemu dan berkomentar, ’’wah, kelihatan lebih ramping/berisi ya sekarang’’. Ketika komentar kita sejalan dengan ekspektasi yang ingin dicapainya, dia akan merasa diapresiasi dan jadi lebih bersemangat untuk bercerita lebih lanjut.

Yang jadi kurang etis adalah ketika komentar tersebut muncul tanpa pengetahuan akan konteks, apalagi jika disertai dengan tendensi negatif seperti menyindir atau merendahkan.

Menyimak secara Aktif Respons Kawan Bicara

Kiat ini bisa membantu kita menyaring bahan obrolan dan menentukan arah perbincangan yang sekiranya berkenan bagi mereka. Sebutlah pertanyaan sederhana dengan redaksi umum seperti ’’sekarang kerja di mana?’’ Jawaban kawan bicara pada pertanyaan itu akan membantu kita menyusun arah perbincangan selanjutnya.

Katakanlah dia menjawab, ’’oh, di dalam kota sini aja’’. Jawaban yang singkat dan terlalu abstrak demikian, apalagi disertai dengan nada yang agak ketus, bisa jadi menunjukkan keengganan kawan bicara kita untuk membahas topik tersebut lebih dalam.

Berbeda jika dia menjawab dengan menyebut nama perusahaan atau bahkan jabatannya dengan nada antusias. Kemungkinan kita bisa mengembangkan obrolan pada jalur ini jauh lebih besar. Berarti, topik tersebut bukan termasuk hal sensitif bagi kawan bicara kita.

Meski demikian, perlu diperhatikan sejak awal bahwa kita menyampaikan pertanyaan pembuka tersebut dengan nada yang netral dan rasa ingin tahu yang murni, tanpa disertai intensi negatif apa pun.

Komunikasi Dua Arah

Lama tidak bertemu, wajar jika merasa ingin tahu banyak hal seputar kabar terbaru teman kita. Namun, perlu diperhatikan agar komunikasinya berlangsung dua arah. Ada waktunya kita berbicara, ada gilirannya pula kita mendengar dan menyimak. Dengan begitu, obrolannya tidak berujung jadi sekadar ”monolog” atau bahkan ’’interogasi”.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore