
Masyarakat berkumpul saat menyaksikan fashion week di Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (22/7/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan aturan tegas dengan menerapkan jam malam di kawasan Stasiun BNI City, Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Tempat ini sekarang
JawaPos.com - Tren Citayam Fashion Week di Dukuh Atas, Sudirman, menjadi viral terinspirasi dari pekan mode dunia. Anak-anak muda yang berasal dari Citayam dan Bojong Gede pinggiran ibukota Jakarta itu bergaya dengan busana mereka dengan melintasi zebra cross. Menurut Kritikus Mode Sonny Muchlison, setiap orang memiliki selera dan gaya dalam berbusana.
Makanya, kata dia, saat anak-anak muda di Citayam Fashion Week bergaya dengan sesuai style mereka, itu adalah sebuah kebebasan dalam berbusana. Baginya, semua pilihan mereka harus diapresiasi. Tak lagi harus memikirkan brand atau harga dalam berbusana, Citayam Fashion Week menjadi bentuk atau sisi lain dari kebebasan berekspresi dalam berbusana.
“Kita apresiasi ya gaya busana mereka. Dengan model apa adanya dari mereka, bisa bergaya itu saya apresiasi,” ungkapnya kepada JawaPos.com, Senin (25/7).
Photo
Masyarakat berkumpul saat menyaksikan fashion week di Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (22/7). Tempat ini sekarang jadi lokasi nongkrong para pemuda yang sering disebut bocah Sudirman, Citayam, Depok, dan Bojonggede atau SCBD. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Menurutnya, Citayam Fashion Week tak memikirkan lagi apakah itu barang KW atau tiruan sekadar membeli di Tanah Abang atau pasar lainnya, yang penting adalah bergaya. Ia berharap semua pihak jangan memanfaatkan ajang ini.
“Mau harga berapa, mau KW, enggak pakai dipikirin lagi. Yang penting mereka bisa bergaya. Harus bisa. Mau pakai sepatu Rp 15 ribu, celana Rp 20 ribu, sebisa mungkin mereka pakai dan gaya. Dan itu kita hargai sebagai effort seorang ingin berpenampilan. Berpakaian itu kan hak asasi manusia,” ungkapnya.
Mengapa mereka bergaya bukan di Citayam atau wilayah Depok? Menurut Sonny, anak-anak muda yang berasal dari pinggiran ibukota tentu ingin melihat suasana yang berbeda. Salah satunya adalah latar belakang gedung perkotaan tak hanya sekadar pepohonan. Didukung dengan akses kemudahan dan media sosial, maka ini menjadi viral.
“Ya gak apa-apa. Ini kebebasan berkreasi dan berekspresi. Aksesnya mudah, sebagian ada yang putus sekolah, ya mereka datang karena media sosial. Sesimple itu,” tutupnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
