Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Juni 2021 | 00.01 WIB

Terungkap 54 Persen Perempuan Tak Akur dengan Mertua, Apa Sebabnya?

Ilustrasi. Ambil hati ibu mertua dengan tujuh langkah. - Image

Ilustrasi. Ambil hati ibu mertua dengan tujuh langkah.

JawaPos.com - Menikah dan berumah tangga tak hanya menyatukan dua individu, melainkan juga kedua keluarga. Tak jarang, adanya perbedaan kebiasaan bahkan kebudayaan yang dibawa dari masing-masing keluarga, muncul beragam konflik dalam rumah tangga. Tak jarang juga menantu dan mertua yang tak akur bisa memicu konflik dengan pasangan.

Berdasarkan survei online yang dilakukan oleh Teman Bumil dan Populix terhadap 995 responden istri di seluruh Indonesia, sekitar 54 persen di antaranya mengaku sempat merasa kesulitan saat ingin menjalin hubungan baik dengan mertua.

Dalam situasi yang ideal, tentunya mertua dan menantu diharapkan bisa saling menerima perbedaan yang ada, sehingga terciptalah keharmonisan. Namun, tak bisa dipungkiri jika perbedaan latar belakang sifat, kebiasaan, dan lain-lain menjadi faktor yang membuat hubungan menantu dan mertua kerap menemukan hambatan.

Hal ini pun diungkapkan oleh 36 persen ibu di Indonesia yang bersedia menjadi responden survei Teman Bumil dan Populix. Tak hanya perbedaan sifat dan kebiasaan, adanya ekspektasi dari masing-masing pihak juga dapat memicu timbulnya konflik antara mertua dan menantu.

"Terkadang mertua kan punya kriteria tertentu, ya. Sebenarnya dua-duanya sih, termasuk menantu juga, sudah punya asumi atau persepsi, inginnya punya anak atau mertua yang seperti apa. Nah, keinginan yang berbeda-beda itu yang biasanya bisa membuat ribut antara mertua dan menantu," jelas Psikolog Ajeng Raviando, dalam wawancara ekslusif seperti dalam keterangan resmi Teman Bumil, Kamis (3/6).

Tidak bisa dipungkiri jika setiap keluarga memiliki kebudayaan dan kebiasaan masing-masing yang mungkin berbeda dengan yang biasa dilakukan. Karenanya, menurut Ajeng, masa orientasi selama pacaran atau sebelum menikah juga bisa menjadi bekal penting untuk menjalin relasi yang harmonis dengan mertua.

Selain itu, penting untuk diingat bahwa bagaimanapun juga, seorang menantu adalah 'new comer' dalam keluarga pasangan yang memang sebelumnya sudah memiliki kebiasaan tersendiri. Maka dari itu, kunci penting keharmonisan seorang menantu dan mertua adalah kesediaan menantu untuk bisa membuka mata, memperhatikan, dan mengobservasi kebiasaan-kebiasaan tersebut.

"Kan ya namanya orang baru, ya harusnya kan sebagai menantu yang berusaha untuk lebih mengenal, lebih memahami, kira-kira aturannya seperti ini. Ya pasti memang belum paham, tapi perlu menyesuaikan diri si Pendatang baru ini, bukan yang sudah terbiasa dengan tradisi lama atau dalam hal ini mertuanya," tambah Ajeng.

Menantu dan Mertua Bisa Akur Juga

Meski demikian, 8 dari 10 responden ternyata juga berhasil memiliki hubungan yang baik dengan mertua mereka. Selain karena keterbukaan untuk memahami sifat dan kebiasaan mertua, faktor lain yang cukup dominan dalam menciptakan hubungan yang baik dengan mertua adalah dukungan dan sikap netral dari pasangan.

Keterbukaan pasangan terhadap istri, terlebih mengenai kehidupan. Di samping itu, perlakuan yang menyenangkan dari mertua, seperti membantu sang istri saat kesulitan, memberikan saran, atau hanya sekadar mendengarkan keluh kesah sang istri, juga bisa sangat mendukung terciptanya hubungan yang harmonis dengan mertua.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore