
BERMANFAAT: Putu Putri Indira Sari mengolah sampah organik makanan dengan metode ecoenzyme di rumahnya di kawasan Sidosermo Minggu (9/5). Metode tersebut diyakini efektif untuk mengurangi sampah sisa makanan di rumah. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Lebaran identik dengan menu makanan berlimpah. Suguhan penganan untuk keluarga wajib disiapkan. Banyak pula dengan parsel berupa makanan yang dikirimkan kerabat. Bagaimana mengatasi sisa makanan berlebihan tersebut?
---
SISA makanan, seperti jenis sampah lainnya, juga bisa mengeluarkan gas metana ke atmosfer. Dampaknya adalah efek rumah kaca dan perubahan iklim yang mulai dirasakan saat ini. Membiarkan sisa makanan langsung ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang terbuka ke udara bebas sama saja dengan membiarkan produksi gas metana berkelanjutan.
”Padahal, sampah organik itu jumlahnya 40 sampai 50 persen dari total sampah yang kita produksi sehari-hari,” ucap penggiat lingkungan Putu Putri Indira Sari. Masalah tumpukan sampah bisa berkurang drastis jika pengolahan sampah organik mulai dilakukan di rumah-rumah. Jadi, TPA hanya fokus mengolah sampah yang perlu alat spesifik saja. Bukan semua jenis sampah yang sudah campur aduk.
Secara umum, ada dua cara pengolahan sisa makanan yang dibagikan Indi, sapaan Putu Putri Indira Sari. Pertama, dengan mengubah sampah-sampah organik tersebut jadi kompos. Proyeknya cukup sederhana. Bahan yang digunakan adalah tong cat yang sudah tak terpakai. ”Kalau rumah tangga personal, tong yang dipakai memang tidak usah yang besar sekali,” tuturnya. Siapkan pula saringan untuk di bagian dasar tong dan cairan EM4 untuk membantu proses pembuatan kompos.
”Caranya mudah banget. Sampah organik tinggal dimasukkan dalam tong, lalu disemprot cairan EM4,” jelas Indi. Sampah-sampah organik yang bisa diproses adalah sisa makanan, sampah tanaman gugur, dan kertas-kertas. Beberapa jenis kertas yang tidak bisa diproses adalah kertas minyak dan majalah karena bahannya tak lagi murni dari olahan pohon. Sedangkan makanan yang dihindari adalah daging-dagingan dan tulang. ”Cenderung bikin bau dan mengundang belatung,” sambungnya saat ditemui Minggu (9/5).
Tumpukan sampah organik bisa ditambah setiap saat. Jika memang ada sisa makanan, bisa langsung dimasukkan dalam tong dan disemprot larutan EM4. ”Dicek juga. Kalau masih terlalu basah, bisa ditambah dengan daun kering dan diaduk,” imbuh alumnus Teknik Lingkungan ITS itu. Tong harus ditutup rapat dan hanya dibuka saat menambahkan sampah organik baru. Hal ini untuk mempercepat penguraian dan menghindari bakteri jahat masuk ke dalamnya.
Kompos bisa langsung digunakan saat sampah organik sudah hancur menyerupai tanah asli. ”Memang butuh waktu ya. Kalau satu tong penuh, bisa tiga bulan,” jabar alumnus Universitas Twente di Belanda itu. Menurutnya, hasil kompos tersebut sudah cukup menyuburkan berbagai jenis tanaman rumahan miliknya.
Cara pengolahan sampah organik yang kedua adalah dengan metode ekoenzim. Bahan yang diperlukan adalah botol bekas berukuran besar, slang, dan air gula jawa. Dua botol bekas dilubangi tutupnya, kemudian dikaitkan dengan slang. Pastikan rongga slang dan tutup botol dilapisi lem agar tertutup rapat. Botol bekas tersebut kemudian diisi dengan air gula jawa dan sampah organik yang ingin diolah. ”Untuk metode ini, sampah yang bisa diolah itu jenis sayur-sayuran dan kulit buah-buahan,” jelas Indi.
Sisa sayur dan kulit buah tersebut dimasukkan ke botol dan dicampur dengan larutan gula jawa, dengan perbandingan 1:3 untuk larutan gula jawa dan sampah organik. Jaga supaya botol tidak terlalu penuh. Botol lainnya yang terhubung dengan slang cukup diisi air. Gunanya untuk mengeluarkan gas yang diproduksi saat proses ekoenzim. ”Karena kalau terlalu penuh, atau tidak dihubungkan dengan botol lain, bisa jadi gelembungnya terlalu banyak dan botol jadi meledak,” tambahnya.
Baca Juga: Anang Hermansyah-Ashanty Salat Idul Fitri di Dubai
Lama-kelamaan, air akan berubah warna menyerupai warna sampah sayur atau kulit buah. Dalam waktu tiga bulan, air hasil ekoenzim bisa digunakan untuk mengepel lantai, mencuci piring, hingga jadi pupuk tambahan. ”Sisa sampahnya bisa jadi belum hancur. Nah, itu bisa digunakan lagi untuk larutan baru,” ujarnya.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
