
RAMAH LINGKUNGAN: Saat siang, tak perlu menyalakan lampu di kamar anak (foto atas) dan ruang diskusi di lantai dua. Jendela besar membuat udara dan cahaya memenuhi ruangan.
JawaPos.com - Ukuran rumah yang mungil tidak menjadi halangan untuk mengeksplorasi interior. Dengan bujet minim, rumah tetap bisa cantik. Misalnya, gaya unfinished yang diterapkan Gayuh Budi Utomo pada huniannya.
---
RUMAH Gayuh Budi Utomo di kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo, tersebut memang hanya berukuran 6 x 12 meter. Tetapi, rumah itu terlihat artistik. Dindingnya yang hanya diplester jauh dari kata kusam. Pintu kayunya tampak tua tapi kukuh. Sulur-sulur tanaman yang merambat di sela-sela pagar berdesain kotak-kotak tak beraturan makin menambah keunikan fasad depan.
Kebetulan, Gayuh sangat suka dengan budaya Jawa. Karena itu, dia memberikan sentuhan etnik dalam huniannya yang berkonsep unfinished. ’’Biar nggak membosankan,’’ ujar Gayuh ketika ditemui pekan lalu.
Ya, dari luar, rumah Gayuh sekilas seperti bergaya minimalis. Ditandai dengan garis dan sudut tajam serta dominasi warna hitam dan putih pada pagar. Namun, dilihat lebih dekat, dinding garasi ternyata dibiarkan telanjang tanpa acian semen. Warna kelabu dan tekstur kasar plester memberikan nuansa yang berbeda.
Masuk ke ruang tamu, nuansa etnik Jawa terasa kental. Dinding plester dipadukan dengan furnitur serbakayu dengan ukiran khas Jawa. Menurut dia, suasana kuno tersebut mampu menjadi sarana refreshing dari hiruk pikuk perkotaan. ’’Kita selalu rindu suasana desa yang tenang. Kenapa tak coba kita ciptakan untuk hunian sendiri saja,’’ kata pria yang lahir di Ponorogo tersebut.
Selain kursi anyaman Jawa, terdapat dinding gebyok yang menjadi pemisah dengan ruang tengah. Nuansa tradisional makin terasa dengan pemilihan lantai motif kepanjen. Arsitek lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur itu mengatakan, motif kepanjen sangat sesuai dengan suasana etnik Jawa.
Selain ruang tamu, lantai 1 rumah tersebut terdiri atas ruang tengah, kamar mandi, satu kamar tidur, dan dapur. Di ruang tengah, tak banyak perabot. Hanya beberapa meja kayu dan minibar yang terhubung dengan dapur.
Saat membangun rumah, Gayuh tidak ingin mengeluarkan banyak bujet. Karena itu, dia berusaha memaksimalkan barang bekas untuk dijadikan furnitur. Salah satunya diterapkan melalui meja minibar yang terbuat dari daun pintu bekas. ’’Saya dan teman-teman kerja sering berdiskusi di tempat ini sambil ngopi,’’ ujarnya.
Agar dinding plester itu tidak tampak polos, Gayuh ’’menghiasnya’’ dengan pipa air. Ya, pipa yang sejatinya terdapat di dalam tembok justru diletakkan mengular di permukaan tembok. Kemudian, kain batik digantung di beberapa sudut ruangan pada pipa tersebut. Batik-batik itu adalah koleksi sang istri, Dian Agustin.
Rumah Gayuh juga ramah lingkungan. Jendela kaca yang bisa dibuka lebar terdapat di berbagai sudut. Di antaranya, di communal space ruang tengah, atap dapur, dan ruang diskusi di lantai 2. Cahaya serta angin segar leluasa memenuhi ruang. Tanpa AC ataupun lampu, penghuni rumah bisa tetap merasa nyaman.
Tak banyak ruangan di lantai 2. Hanya ada ruang diskusi dan satu kamar. Sekeliling ruang diskusi dilengkapi dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan depan rumah. Jendela itu juga dibuat dari jendela bekas. Bentuknya tak beraturan. Karat dan bagian-bagiannya yang lapuk justru memperindah ruangan. ’’Siang atau malam, ruang diskusi ini memberi suasana santai dan sejuk,’’ ujar Gayuh.
Jika dilihat dengan saksama, bagian plafon ruang diskusi dibiarkan setengah terbuka. Dengan begitu, terlihat bagian dalam plafon yang lapuk dan berlumut. Sebenarnya, itu adalah air hujan yang merembes. ’’Tapi, kok malah jadi motif alam yang unik, ya udah saya biarkan terlihat,’’ ujar pria 40 tahun itu.
Selain jendela, Gayuh memanfaatkan beberapa barang bekas untuk perabotan ruangan tersebut. Misalnya, meja dan rak buku dari pintu krepyak serta lesung kayu jati sebagai wadah mainan anak-anak.
Gayuh memanfaatkan sisa ruang di lantai 2 untuk kamar tidur. Lantai kamar itu dibuat dari papan kayu bekas pintu rumah. Tapi, tenang saja, lantai tersebut kuat karena diberi penyangga besi di bawahnya. Beberapa jendela diaplikasikan pada dinding sebagai ventilasi udara dan jalan masuk cahaya matahari. ’’Meski nggak luas, ruang jadi nggak terkesan sumpek,’’ tandas dia. (adn/c7/na)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
