Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Oktober 2025 | 16.06 WIB

Fenomena Social Loafing: Saat Bekerja dalam Kelompok Justru Bikin Malas

Ilustrasi social loafing (Freepik) - Image

Ilustrasi social loafing (Freepik)

JawaPos.com - Dalam dunia kerja maupun perkuliahan, kerja tim sering dianggap sebagai kunci untuk mencapai hasil yang maksimal. Namun, siapa sangka, bekerja dalam kelompok justru bisa membuat sebagian orang menjadi kurang bersemangat atau bahkan menurunkan produktivitasnya.

Fenomena ini dikenal dengan istilah social loafing. Seperti dilansir dari Alodokter, social loafing kerap muncul tanpa disadari, terutama pada kelompok yang besar atau kurang memiliki pembagian peran yang jelas.

Sementara itu, menurut Halodoc, social loafing bukan hanya masalah malas semata, melainkan bentuk respons psikologis terhadap dinamika kelompok. Ketika seseorang merasa kontribusinya tidak terlalu penting atau tidak akan terlihat oleh anggota lain, mereka cenderung menurunkan tingkat usahanya.

Inilah yang membuat kerja kelompok terkadang tidak berjalan seimbang, ada yang bekerja keras, ada pula yang hanya ikut nama tanpa kontribusi berarti.

Mengenal Lebih dalam Tentang Social Loafing

Social loafing adalah kecenderungan seseorang untuk menurunkan tingkat usaha saat bekerja dalam kelompok dibandingkan saat bekerja sendiri. Kondisi ini biasanya disebabkan karena anggota merasa hasil akhirnya tidak akan terlalu bergantung pada dirinya. Dalam kelompok yang besar, individu sering merasa tidak diperhatikan, sehingga motivasi mereka pun ikut menurun.

Social loafing juga bisa diartikan sebagai bentuk “penurunan rasa tanggung jawab sosial”. Ketika hasil kerja bersifat kolektif, individu tidak merasa terbebani oleh tekanan evaluasi pribadi, sehingga mereka berasumsi kontribusi kecilnya tidak akan berdampak besar pada hasil akhir kelompok.

Penyebab Social Loafing

1. Kurangnya akuntabilitas individu

Dalam kelompok besar, kontribusi setiap anggota sulit diukur, membuat seseorang merasa tidak terlalu penting dan akhirnya berusaha lebih sedikit.

2. Tidak ada pembagian tugas yang jelas

Ketika peran dan tanggung jawab tidak dijabarkan dengan tegas, sebagian anggota mungkin berpikir bahwa orang lain akan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

3. Kurangnya motivasi dan rasa memiliki

Rasa keterikatan emosional terhadap kelompok yang rendah bisa membuat seseorang enggan berpartisipasi aktif.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore