Ilustrasi seseorang tertidur setelah melakukan sleep call. (Freepik)
JawaPos.com – Di era digital, kebutuhan untuk tetap terhubung sering kali mengalahkan kebutuhan untuk beristirahat.
Salah satu bentuk nyata dari fenomena ini adalah sleep call, kebiasaan menelepon atau melakukan panggilan video hingga tertidur bersama.
Praktik ini belakangan populer di kalangan anak muda, baik pasangan romantis maupun teman dekat, sebagai bentuk keintiman baru di tengah keterbatasan jarak.
Secara psikologis, sleep call berakar pada kebutuhan manusia untuk merasa didampingi. Menurut penelitian Arsy & Rahmawati (2023), kebiasaan ini tidak hanya tentang komunikasi, tetapi juga menjadi bentuk emotional reassurance atau cara untuk mengurangi rasa sepi, cemas, atau kesepian sebelum tidur.
Dalam hubungan romantis, pasangan yang melakukan sleep call merasa lebih dekat dan aman karena kehadiran suara atau gambar pasangan memberikan rasa tenang layaknya tidur bersama di ruang yang sama.
Namun dari sisi kesehatan, kebiasaan ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Henry dan Tjhin (2024) melakukan survei terhadap 193 responden di Indonesia dan menemukan bahwa lebih dari 50% responden mengalami gangguan tidur, seperti sulit tidur atau insomnia ringan, akibat panggilan telepon atau video di malam hari.
Sebagian besar melakukan panggilan pada pukul 22.00 hingga lewat tengah malam, bahkan ada yang sampai dini hari.
Gangguan yang dilaporkan meliputi rasa kantuk di pagi hari, kualitas tidur menurun, hingga gangguan konsentrasi keesokan harinya.
Gangguan tidur ini tidak hanya disebabkan oleh lamanya panggilan, tetapi juga oleh faktor teknologi.
Henry & Tjhin mencatat bahwa perangkat yang panas, suara bising dari koneksi, dan paparan cahaya layar menambah stimulasi sensorik ketika tubuh seharusnya bersiap beristirahat.
Hal ini sejalan dengan temuan Alimoradi (2022) yang menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital menjelang tidur dapat menurunkan produksi melatonin, hormon pengatur siklus tidur, sekaligus meningkatkan risiko stres dan kelelahan mental.
Fenomena sleep call juga memiliki kesamaan pola dengan kondisi “on-call” yang diteliti Ziebertz. (2017).
Dalam eksperimennya, individu yang berada dalam kondisi on-call—yakni harus siap menerima panggilan kapan pun di malam hari—mengalami tidur yang lebih dangkal dan terfragmentasi.
Meskipun sleep call dilakukan atas keinginan sendiri dan bukan kewajiban kerja, kondisi psikologis “tetap terhubung” atau “tidak boleh menutup telepon” menciptakan tingkat kewaspadaan serupa yang menghambat tidur pulas.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
