Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 03.01 WIB

Asal Usul Zodiak: Dari Rasi Bintang ke Ramalan Kepribadian Modern

Ilustrasi 12 rasi bintang zodiak yang dalam astrologi diyakini berkaitan dengan kepribadian seseorang. (Chloe Jeong/PEOPLE)

JawaPos.com - Zodiak merupakan sabuk imajiner yang terdiri dari 12 rasi bintang di langit, jalur yang dilalui Matahari, Bulan, dan planet-planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari Bumi. Dilansir dari Britannica, dalam astrologi diyakini bahwa posisi benda langit tersebut saat seseorang lahir akan memengaruhi jalan hidup maupun sifat kepribadiannya. Hingga kini, zodiak tetap menjadi bagian penting dalam budaya populer modern, dengan jutaan orang yang rutin membaca ramalan horoskop harian mereka.

Menurut National Geographic, praktik astrologi pertama kali muncul di Mesopotamia kuno sekitar milenium kedua sebelum Masehi. Di kota Babilonia, bintang dan planet digunakan untuk menafsirkan pertanda dari para dewa. Hanya orang tertentu yang dianggap berhak melakukan penafsiran ini. Para pendeta Babilonia diberi tugas khusus untuk merinci bagaimana fenomena langit akan memengaruhi masyarakat, terutama raja dan negara.

Orang Yunani kemudian memberi nama 12 tanda zodiak berdasarkan rasi bintang tertentu dan menghubungkannya dengan tanggal tertentu sesuai orbit Matahari. Dua belas tanda tersebut adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpius, Sagittarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces. Bahkan, kata “zodiak” berasal dari frasa Yunani zōdiakos kyklos yang berarti “lingkaran hewan.”

Namun, citra astrologi mulai goyah ketika pengadilan sihir merebak di Inggris pada abad ke-15. Saat itu, astrologi dianggap dekat dengan sihir dan paganisme, sehingga beberapa penguasa mulai menjauhkan diri dari ramalan pribadi.

Masa Renaisans justru menjadi titik balik berkembangnya astrologi di ranah pribadi dan filosofis. Saat masyarakat mulai menyeimbangkan ajaran Kristen dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam, praktik horoskop individu semakin marak. 

Namun, dominasi astrologi mulai meredup dengan munculnya Revolusi Ilmiah dan Zaman Pencerahan. Pada akhir abad ke-17, astrologi jarang lagi dipraktikkan secara serius.

Baru pada awal abad ke-20 horoskop kembali populer. Pada 1930, surat kabar Sunday Express di Inggris menerbitkan ramalan ulang tahun untuk Putri Margaret, ditulis oleh astrolog terkenal R.H. Naylor.

Kini, horoskop justru semakin populer, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Menurut para ahli, di luar asal-usul astronomisnya, astrologi bisa menciptakan rasa kebersamaan dan mempererat ikatan sosial. Sebuah survei dari National Science Foundation tahun 2014 bahkan menunjukkan lebih dari separuh milenial percaya astrologi adalah ilmu.

Menurut astronom Sten Odenwald, alasan orang terus tertarik pada astrologi berkaitan dengan fenomena psikologis yang disebut self-selection atau kecenderungan memilih tafsir yang sesuai dengan harapan pribadi. “Orang cenderung membesar-besarkan hal positif, melupakan yang negatif, dan begitulah cara kerja pikiran kita,” ujarnya, dikutip dari Time Magazine.

Dengan demikian, meskipun zodiak tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan modern, ketertarikan manusia untuk menatap langit demi mencari jawaban atas kehidupannya tetap bertahan hingga kini, bahkan semakin kuat di era digital.

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore