ILUSTRASI: Kafe dan sajian kopi dalam kemasan cup. (Instagram @titikkoma.mdn)
JawaPos.com – Perkembangan zaman mengubah budaya menyeruput kopi (ngopi). Selama ini kopi murah diidentik dengan tubruk dan kopi saset. Sementara kopi di kafe dianggap elite dan harga mahal.
Dinamika itu ditangkap oleh usaha rintisan yang mengubah stigma ngopi mahal dengan harga terjangku, tetapi tetap mengutamakan citarasa. Selama ada banyak jenis varian kopi yang disajikan di kafe, minimarket, atau kedai kopi. Mulai dari kopi saset, kemasan dalam botol, kemasan dalam kaleng, dan dalam cangkir yang disajikan di kafe.
Semenjak munculnya inovasi kopi keliling, kopi dengan sajian menarik tetap terbeli. Harganya beragam. Mulai dari Rp 8 ribu hingga Rp 20 ribu. Kopi keliling dijajakan motor listrik.
Biasanya kopi keliling hadir dengan ‘gerobak’ eye-catching dengan warna yang menyala. Bahkan, para penjualnya dilengkapi seragam. Bukan asal-asalan, biasanya cup yang digunakan memiliki ciri khas masing-masing. Tak jarang hal-hal tersebut menarik banyak perhatian orang hingga berkeliaran di media sosial (medsos).
Jika dilihat dari perspektif ekonomi kreatif, kopi keliling adalah salah satu bentuk UMKM yang berkembang pesat dengan modal kecil. Saat ini kehadirannya mulai menjamur terlebih di kota-kota besar. Penyajian yang praktis, pilihan beragam, rasa yang tak kalah dengan kopi-kopi di kafe, serta menyediakan sistem pembayaran digital menjadi daya tarik utama pesatnya perkembangan usaha ini.
Di tengah gaya hidup urban yang penuh tekanan, kehadiran kopi keliling menjawab kebutuhan ngopi harian tanpa membuat kantong bolong. Jika dibandingkan, sekali ngopi di kafe dengan budget sekitar Rp 50 ribuan secangkir. Di kopi keliling uang sebanyak itu bisa mendapatkan 5-6 cup.
Tidak heran kopi keliling bak penyelamat khususnya bagi mahasiswa bahkan sampai pekerja kantoran yang setiap hari membutuhkan kadar fokus yang tinggi dan asupan kafein. Beberapa brand yang cukup populer menjual kopi keliling di antaranya, Jago Coffee & Sejuta Jiwa.
Jago Coffee dikenal sebagai pionir dengan sepeda listrik dengan desain minimalis, lengkap dengan kotak penyimpanan yang rapi untuk menyajikan kopi fresh di jalanan. Cara ini bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga mendukung tren green lifestyle yang semakin digemari anak muda perkotaan.
Selain itu, Jago Coffee juga mengadopsi sistem digitalisasi penuh. Pemesanan dan pembayaran bisa dilakukan melalui aplikasi maupun QRIS, membuat transaksi lebih cepat dan efisien. Lewat jagocoffee.com, mereka menyajikan aplikasi mobile sendiri yang memungkinkan pelanggan memesan kopi dari lokasi terdekat, mirip konsep ride-hailing tetapi untuk ngopi.
Menariknya lagi, mereka juga menawarkan sistem kemitraan yang disebut “Jagoan”. Lewat skema ini, anak muda yang ingin punya usaha bisa bergabung tanpa perlu pusing soal resep, branding, atau peralatan. Biaya kemitraan pun relatif terjangkau dibanding membuka kafe besar, sehingga menjadi solusi menarik bagi generasi muda yang ingin mencoba bisnis F&B dengan risiko rendah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
