Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Juli 2025 | 03.43 WIB

5 Kebiasaan Kecil Orang Kelas Menengah Bawah yang Membuat Mereka Mustahil Meraih Kesuksesan Finansial

Ilustrasi. (Pexels.com) - Image

Ilustrasi. (Pexels.com)

JawaPos.com - Banyak orang tumbuh di lingkungan yang bisa dibilang kelas menengah ke bawah. Bukan hidup dalam kemiskinan ekstrem, tapi juga jauh dari kata nyaman. 

Kalau ditelusuri lebih dalam, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang terlihat wajar tapi sebenarnya menjadi penghalang menuju kesuksesan sejati.

Bukan hal klise seperti “tidak bekerja keras” atau “malas-malasan”. Justru sebaliknya, ini adalah kebiasaan yang sering dilakukan tanpa sadar. Terlihat masuk akal, tapi sebenarnya diam-diam menyabotase potensi.

Dilansir dari VegOut, berikut lima kebiasaan yang tampak biasa tapi bisa membuat seseorang terjebak dalam kehidupan yang begitu-begitu saja. Beberapa mungkin terasa familier dan itu justru pertanda baik.

1. Mengabaikan literasi keuangan

Ada satu fakta menarik yang perlu dipahami: orang dengan literasi keuangan rendah cenderung sangat takut ambil risiko. Mereka lebih nyaman menyimpan uang di tabungan atau deposito, daripada berinvestasi. 

Sementara mereka yang lebih paham keuangan justru merasa nyaman menaruh uangnya di saham, properti, dan bentuk investasi lain yang lebih berani.

Dan, siapa yang biasanya punya literasi keuangan rendah? Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Ini seperti siklus yang berulang karena topik uang jarang dibahas secara mendalam di rumah.

Kalimat seperti “uang tidak tumbuh di pohon” atau “kita tidak mampu” sudah jadi mantra sehari-hari. Jarang ada pembicaraan soal bagaimana membangun kekayaan, cara investasi, atau strategi membuat uang bekerja untukmu.

Padahal, faktanya sederhana: kalau kamu tidak memahami uang, uang juga tidak akan “memahami” kamu. Kabar baiknya? Belajar soal keuangan sekarang jauh lebih mudah dari sebelumnya.

2. Membiarkan tekanan finansial mengaburkan penilaian

Hidup dalam tekanan finansial yang konstan bisa membuat siapa pun sulit berpikir jernih. Bahkan menurut penelitian, dampaknya setara dengan kehilangan semalam penuh tidur atau penurunan IQ hingga 13 poin. Serius.

Ketika kepala terus-menerus dipenuhi kecemasan soal tagihan, utang, atau kebutuhan sehari-hari, maka otak akan masuk mode bertahan. Dan dalam mode itu, kemampuan mengambil keputusan jangka panjang jadi tumpul.

Masalahnya bukan hanya kurang uang tapi juga kualitas keputusan yang dibuat saat stres berat.

Langkah awal yang penting? Sadar bahwa tekanan itu sedang mengaburkan pandangan. Baru setelah itu bisa mulai membangun kebiasaan membuat keputusan dengan kepala dingin, bukan dari tempat ketakutan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore