Seorang wanita yang mengalami mimpi buruk (Dok. Pexels)
JawaPos.com - Pernah tiba-tiba terbangun di tengah malam karena mimpi buruk? Atau malah pernah menyaksikan orang lain berteriak, berkeringat, bahkan menangis saat tidur tapi sulit dibangunkan? Bisa jadi itu bukan sekadar mimpi buruk biasa, tapi night terror. Dua hal ini sering disamakan, padahal memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda.
Dilansir dari Healthline pada Kamis (29/05), berikut adalah penjelasan lengkap mengenai perbedaan nightmare dan night terror, mulai dari fase tidur tempat keduanya terjadi, hingga faktor-faktor penyebabnya. Pemahaman ini penting agar Anda bisa mengenali jenis gangguan tidur yang dialami dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Apa Bedanya Nightmare dan Night Terror?
Meski sama-sama terjadi saat tidur dan bisa terasa menakutkan, nightmare dan night terror memiliki perbedaan mendasar dalam hal waktu kemunculan, fase tidur, hingga reaksi tubuh yang ditimbulkan.
Nightmare atau mimpi buruk biasanya terjadi pada sepertiga akhir malam, ketika tubuh sedang berada dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Dalam kondisi ini, seseorang cenderung bisa terbangun dengan sendirinya dan mengingat dengan jelas isi mimpinya. Pemicu umumnya adalah stres, trauma, atau pengalaman emosional tertentu. Saat mengalami mimpi buruk, seseorang mungkin hanya bergumam atau mengerang pelan saat tidur.
Sementara itu, night terror atau teror malam biasanya muncul di awal malam saat tubuh berada dalam fase tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement), tepatnya pada fase tidur gelombang lambat. Kondisi ini lebih intens: seseorang bisa menjerit, berkeringat, bahkan berlari dalam keadaan tidak sadar. Yang membuatnya berbeda, night terror sulit dibangunkan dan orang yang mengalaminya biasanya tidak mengingat kejadian tersebut sama sekali keesokan harinya.
Apa Saja Penyebab Nightmare?
1. Stres dan Trauma
Mimpi buruk sering kali mencerminkan kekhawatiran yang sedang kita alami. Otak manusia cenderung menyederhanakan ancaman atau tekanan hidup ke dalam simbol mimpi. Misalnya, perasaan terasing dari orang-orang terdekat bisa saja muncul dalam mimpi berupa bencana seperti banjir atau kebakaran.
Bagi penderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), mimpi buruk bahkan bisa berulang dan sangat nyata, seolah-olah menghidupkan kembali pengalaman traumatis yang pernah dialami. Kondisi ini sangat mengganggu kualitas tidur dan kesehatan mental secara umum.
2. Pengalaman di Masa Kecil
Menurut teori stress acceleration, pengalaman negatif di masa bayi atau balita dapat memengaruhi pembentukan sistem respons ketakutan otak. Jika perkembangan emosi dipaksa berlangsung terlalu cepat karena tekanan, maka saat dewasa seseorang bisa lebih rentan mengalami mimpi buruk. Bahkan pengalaman yang terdengar sepele, seperti ruam popok yang parah, bisa menjadi sumber trauma bagi anak kecil.
3. Pengaruh Obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat meningkatkan kemungkinan munculnya mimpi buruk. Contohnya:

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
