Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Maret 2025 | 13.56 WIB

8 Perilaku yang Ditunjukkan Saat Perempan Belum Sembuh dari Luka Masa Lalu, Menurut Psikologi

Perempuan yang masih terjerat luka masa lalu. (freepik) - Image

Perempuan yang masih terjerat luka masa lalu. (freepik)

JawaPos.com - Bagi beberapa perempuan, masa lalu selalu menyisakan bekas yang sulit dihapuskan. Bagus jika masa lalu itu adalah kenangan baik. Namun jika tidak, hal itu bisa memicu perilaku yang kurang baik di masa kini. 

Luka yang terjadi di masa kecil pada perempuan bisa membentuk cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku—bahkan tanpa disadari.
 
Banyak perempuan tumbuh dewasa dan merasa sudah meninggalkan masa lalu di belakang. Namun, beberapa pola kebiasaan tetap bertahan, menjadi tanda bahwa luka itu belum sepenuhnya sembuh.
 
 
Jika kamu sering merasa terjebak dalam pola emosional yang sama atau bertanya-tanya mengapa bereaksi dengan cara tertentu dalam hubungan, kamu tidak sendiri. 
 
Menurut psikologi, berikut delapan tanda yang sering muncul pada perempuan yang belum benar-benar pulih dari luka masa kecil, dikutip dari Blog Herald, Senin (10/3).
 
1. Sulit Menetapkan Batasan
 
Mengatakan "tidak" terasa berat. Meski sedang lelah atau tidak nyaman, mereka tetap berusaha menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.
 
Bukan berarti mereka tidak ingin memiliki batasan, tapi ada ketakutan akan penolakan, konflik, atau dicap egois. Mungkin sejak kecil mereka diajarkan bahwa cinta dan penerimaan bergantung pada seberapa banyak mereka memberi atau berkorban.
 
Akibatnya, mereka tumbuh menjadi orang yang terlalu memaksakan diri dan mengabaikan kebutuhan sendiri. Padahal, terus-menerus memberi tanpa batas justru bisa membuat lelah secara emosional.
 
2. Sering Meminta Maaf, Bahkan Saat Tidak Bersalah
 
 
Apakah kamu pernah meminta maaf meski bukan kesalahanmu? Misalnya, seseorang menabrakmu di supermarket, tapi kamu yang malah bilang, “Maaf!”
 
Banyak perempuan memiliki kebiasaan ini tanpa menyadarinya. Sering kali, ini berakar dari pengalaman masa kecil di mana mereka harus selalu menjaga kedamaian di sekitar mereka.
 
Meminta maaf menjadi cara mereka menghindari konflik dan memastikan semua orang nyaman, meskipun itu berarti mengabaikan diri sendiri.
 
Namun, perlahan mereka perlu belajar bahwa mereka tidak harus bertanggung jawab atas segala hal. Perasaan dan keberadaan mereka sah, tanpa perlu selalu meminta maaf.
 
3. Sulit Menerima Pujian
 
Saat seseorang memuji penampilan atau hasil kerja mereka, reaksi pertamanya adalah meremehkan. “Ah, cuma kebetulan saja,” atau “Bukan apa-apa, kok.”
 
Mereka terbiasa menolak apresiasi karena sejak kecil jarang mendapat validasi, atau hanya mendapat pujian jika memenuhi standar tertentu.
 
Lama-kelamaan, mereka mulai merasa tidak layak mendapat penghargaan, sehingga pujian justru terasa tidak nyaman.
 
Namun, belajar menerima pujian dengan tulus—cukup dengan mengucapkan “terima kasih”—bisa membantu mengubah cara pandang mereka terhadap diri sendiri.
 
4. Sulit Mempercayai Orang Lain
 
Mereka ingin percaya, tapi ada bagian dalam diri yang selalu ragu. Bahkan dalam hubungan dekat, selalu ada ketakutan bahwa orang lain akan pergi, mengecewakan, atau mengkhianati mereka.
 
 
Ketidakpercayaan ini bukan tanpa alasan. Jika masa kecil mereka penuh dengan janji yang diingkari atau kurangnya perhatian emosional, mereka akan tumbuh dengan tembok perlindungan yang tinggi.
 
Masalahnya, tembok itu tidak hanya menahan rasa sakit—tetapi juga menghalangi hubungan yang sehat. Untuk sembuh, mereka perlu menyadari bahwa tidak semua orang akan mengulang luka masa lalu. Kepercayaan bisa dibangun perlahan.
 
5. Sering Overthinking
 
Mereka cenderung memikirkan ulang setiap percakapan, menganalisis setiap kata, dan khawatir apakah mereka telah membuat orang lain kesal.
 
Bahkan keputusan kecil—seperti memilih kata dalam pesan teks atau outfit yang akan dikenakan—bisa berubah menjadi dilema panjang.
 
Overthinking bukan sekadar kebiasaan, tetapi mekanisme bertahan hidup yang dipelajari sejak kecil. Jika mereka tumbuh di lingkungan yang penuh ketidakpastian atau konsekuensi berat atas kesalahan, mereka akan terbiasa waspada terhadap segala hal.
 
Namun, hidup dalam ketakutan akan kesalahan itu melelahkan. Mereka perlu belajar bahwa tidak semua hal harus dianalisis secara berlebihan—kadang, sesuatu memang sesederhana yang terlihat.
 
6. Terlihat Mandiri, Tapi Sebenarnya Takut Bergantung pada Orang Lain
 
Dari luar, mereka tampak seperti sosok yang kuat dan bisa mengurus semuanya sendiri. Mereka jarang meminta bantuan dan jarang menunjukkan kelemahan.
 
Namun, di balik kemandirian itu, ada ketakutan untuk bergantung pada orang lain. Jika sejak kecil mereka sering dikecewakan, mereka mungkin belajar bahwa satu-satunya orang yang bisa diandalkan adalah diri mereka sendiri.
 
Masalahnya, tidak ada manusia yang bisa hidup sepenuhnya sendirian. Menolak bantuan tidak menghilangkan rasa sakit—hanya menyembunyikannya lebih dalam.
 
Kekuatan sejati bukan berarti melakukan segalanya sendirian, tetapi juga tahu kapan harus menerima dukungan dari orang lain.
 
7. Merasa Bersalah Saat Beristirahat
 
 
Saat akhirnya mengambil waktu untuk beristirahat, ada suara di kepala yang berkata, “Kamu harusnya melakukan sesuatu yang lebih berguna.”
 
Mereka merasa istirahat adalah sesuatu yang harus "diperoleh"—bukan hak yang memang mereka miliki.
 
Ini sering terjadi pada mereka yang tumbuh dalam lingkungan di mana cinta dan penerimaan didasarkan pada prestasi. Jika mereka hanya dipuji saat berprestasi atau membantu orang lain, mereka akan percaya bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa produktif mereka.
 
Padahal, istirahat bukanlah kemewahan—melainkan kebutuhan. Mereka perlu belajar bahwa mereka tetap berharga, bahkan saat tidak sedang "melakukan" apa pun.
 
8. Sangat Keras pada Diri Sendiri
 
Tak peduli seberapa banyak yang mereka capai, mereka selalu merasa belum cukup baik. Mereka terus mengkritik diri sendiri, mengulang kesalahan di kepala, dan menetapkan standar yang hampir mustahil untuk diri mereka sendiri.
 
Sikap ini bukan muncul begitu saja. Ini adalah pola yang terbentuk sejak kecil, ketika mereka merasa harus "layak" dicintai dengan menjadi sempurna.
 
Namun, tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, kritik diri yang berlebihan tidak akan mengubah masa lalu—hanya akan membuat mereka tetap terjebak di dalamnya.
 
Lantas, Bagaimana Cara Mengatasinya?
 
 
Jika kamu melihat dirimu dalam beberapa tanda ini, ingatlah: kamu tidak sendirian, dan kamu tidak rusak. Pola-pola ini bukan berarti ada yang salah denganmu—hanya tanda bahwa ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
 
Kesadaran adalah langkah pertama dalam perjalanan penyembuhan. Dengan menyadari pola-pola ini, kamu bisa mulai mempertanyakan, menantang, dan perlahan melepaskannya.
 
Penyembuhan bukan tentang "memperbaiki" diri sendiri, tetapi tentang memberikan diri sendiri pengertian dan kasih sayang yang mungkin belum pernah kamu dapatkan sebelumnya. Dan itu adalah sesuatu yang benar-benar pantas kamu dapatkan.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore