Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Maret 2025 | 16.06 WIB

Berhenti Selalu Mengatakan 'Ya': Cara Melepaskan Kebiasaan Menyenangkan Orang Lain dan Menetapkan Batasan yang Sehat

Ilustrasi orang yang selalu mengatakan "Ya". (freepik). - Image

Ilustrasi orang yang selalu mengatakan "Ya". (freepik).

JawaPos.com-Apakah Anda pernah menemukan diri Anda berkata "ya" pada sesuatu yang sebenarnya tidak ingin Anda lakukan? Saya juga pernah berada di posisi itu—berulang kali. Suatu hari, saya sadar bahwa kebiasaan ini membuat saya lelah secara fisik dan emosional. Dari menghadiri acara yang tidak saya nikmati hingga mengambil pekerjaan ekstra di kantor saat saya sendiri sudah kewalahan, saya terus mengatakan "ya" demi menjaga citra sebagai orang yang baik dan bisa diandalkan. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri siklus tersebut.

Artikel ini akan membahas bagaimana saya akhirnya berhenti dari kebiasaan tersebut, bagaimana memahami dampak emosional dari selalu menyenangkan orang lain, serta strategi praktis untuk menetapkan batasan dengan lebih baik.

Kebiasaan menyenangkan orang lain sering kali dimulai dengan niat baik. Kita ingin membantu orang lain, menjaga hubungan, atau menghindari konflik. Namun, tanpa disadari, kita mulai mengorbankan diri sendiri demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Vocational Behavior, individu yang tidak menetapkan batasan yang jelas cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Tekanan ini dapat menyebabkan kelelahan kronis, kecemasan, dan bahkan krisis identitas.

Ketika saya mulai menyadari betapa seringnya saya mengiyakan sesuatu yang seharusnya saya tolak, saya bertanya pada diri sendiri:

Mengapa saya takut mengatakan tidak?

Apa yang saya khawatirkan jika saya menolak permintaan seseorang?

Apakah saya benar-benar ingin melakukan hal ini, atau saya hanya merasa berkewajiban?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini membuka mata saya bahwa saya telah menempatkan kebutuhan orang lain di atas kesejahteraan saya sendiri.

Baca Juga: Rahasia Kebiasaan Orang Bahagia: 5 Langkah Sederhana untuk Hidup Lebih Positif dan Bermakna

Dampak Emosional dari Selalu Mengatakan Ya

Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada Sabtu, 8 Maret 2025. Ketika kita terus-menerus berkata "ya" tanpa mempertimbangkan kebutuhan kita sendiri, emosi kita yang akan menanggung akibatnya. Beberapa dampak negatif yang saya rasakan termasuk:

1. Kelelahan Fisik dan Mental

Saya sering kali merasa lelah dan kehabisan energi. Saya berusaha memenuhi setiap permintaan, tetapi itu justru menguras tenaga saya sendiri.

2. Rasa Bersalah yang Berlebihan

Ketika akhirnya saya mengatakan tidak, saya merasa bersalah dan takut mengecewakan orang lain. Rasa bersalah ini membuat saya kembali ke kebiasaan lama.

3. Kehilangan Identitas Diri

Saya begitu sibuk menyenangkan orang lain sehingga saya lupa siapa diri saya sebenarnya. Saya tidak lagi memiliki waktu untuk hal-hal yang saya sukai dan benar-benar penting bagi saya.

Kesadaran ini membawa saya pada keputusan penting: saya harus mulai menetapkan batasan dan berhenti merasa bersalah ketika saya menolak sesuatu.

Belajar mengatakan "tidak" bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan latihan, kesadaran diri, dan keberanian untuk menetapkan batasan. Berikut adalah beberapa strategi yang saya gunakan:

1. Berhenti Sejenak Sebelum Menjawab

Alih-alih langsung mengatakan "ya," saya mulai membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum memberikan jawaban. Bahkan menghitung hingga tiga detik sebelum merespons dapat membantu saya menghindari keputusan impulsif.

2. Gunakan Jawaban yang Sopan Namun Tegas

Tidak perlu kasar atau merasa bersalah ketika menolak sesuatu. Berikut beberapa contoh jawaban yang bisa digunakan:

"Terima kasih sudah mengundang saya, tapi saya harus melewatkannya kali ini."

"Saya ingin membantu, tapi saat ini saya tidak punya cukup waktu."

"Saya tidak bisa berkomitmen untuk itu sekarang, mungkin lain kali."

3. Kenali Prioritas Anda

Saya mulai menilai permintaan yang datang berdasarkan prioritas saya. Jika sesuatu tidak sesuai dengan nilai atau tujuan saya saat ini, saya belajar untuk menolaknya dengan sopan.

4. Latihan Menghadapi Rasa Takut akan Konflik

Salah satu alasan utama saya sulit mengatakan tidak adalah ketakutan akan konflik. Namun, saya menyadari bahwa sebagian besar orang akan menghormati batasan kita jika kita menyampaikannya dengan jujur dan sopan.

Baca Juga: 7 Tanda Seseorang Mengukur Nilai Hidup dari Uang: Mengapa Kekayaan Bukan Satu-Satunya Tolok Ukur Kesuksesan dan Harga Diri

Saya tidak hanya berhenti di teori, tetapi juga menerapkan strategi ini dalam kehidupan sehari-hari. Saya mulai dengan hal-hal kecil:

Saya menolak undangan yang tidak benar-benar ingin saya hadiri.

Saya tidak lagi mengambil pekerjaan ekstra yang tidak mendukung tujuan karier saya.

Saya mengalokasikan lebih banyak waktu untuk diri saya sendiri dan hal-hal yang saya nikmati.

Perubahan ini tidak hanya meningkatkan kebahagiaan saya, tetapi juga kualitas hubungan saya dengan orang-orang di sekitar saya. Mereka mulai melihat saya sebagai seseorang yang lebih otentik dan menghormati batasan saya.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mulai menerapkan kesadaran penuh (mindfulness) dalam pengambilan keputusan. Saya meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk merenungkan pilihan saya dan memastikan bahwa saya tidak kembali ke pola lama.

Saya juga menyadari bahwa mengatakan "tidak" bukanlah tanda egoisme. Justru, dengan menjaga kesejahteraan saya sendiri, saya bisa hadir dengan lebih baik bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan saya.

Menghentikan kebiasaan mengatakan "ya" pada segala hal adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saya belajar bahwa:

Saya tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang.

Menetapkan batasan bukan berarti saya tidak peduli—justru itu adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Orang-orang yang benar-benar menghargai saya akan memahami keputusan saya.

Jadi, jika Anda merasa terbebani karena selalu berkata "ya," ingatlah bahwa Anda berhak untuk menentukan batasan. Berani mengatakan "tidak" adalah langkah penting menuju kehidupan yang lebih sehat, bahagia, dan autentik.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore