Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Februari 2025 | 20.55 WIB

7 Frasa yang Sering Digunakan Orang untuk Terlihat Pintar, Padahal Sebaliknya Menurut Psikologi

Ilustrasi ngobrol dengan percaya diri membuat situasi yang semakin lebih asik.

 
JawaPos.com - Banyak orang yang mencoba untuk terlihat pintar dengan menggunakan frasa tertentu saat berbicara. Coba ingat masa sekolah dulu. Pasti ada teman yang suka memakai kata-kata rumit supaya terdengar lebih cerdas, kan?
 
Kalimat seperti 'Saya cukup cerdik' atau 'Itu sama sekali tidak relevan'a sering keluar dari mulut mereka. Tapi tahukah Anda, menggunakan kata-kata sulit bukan berarti lebih pintar, malah kadang justru sebaliknya?
 
Jangan salah paham. Punya kosakata luas itu bagus. Masalahnya adalah ketika orang sengaja memakai kata-kata yang terlalu rumit hanya untuk terdengar intelektual. Padahal, kecerdasan sejati justru terletak pada cara berkomunikasi yang jelas dan efektif.
 
 
Jadi, kalau Anda pernah bertanya-tanya apakah seseorang benar-benar pintar atau hanya sok pintar, artikel ini untuk Anda! Berikut tujuh frasa yang sering dipakai untuk terdengar cerdas tapi sebenarnya tidak perlu.
 
1. "Memanfaatkan" bukannya "Menggunakan"
 
Ini klasik! Banyak orang lebih memilih mengatakan "memanfaatkan" (utilize) dibanding "menggunakan" (use), seolah-olah itu terdengar lebih intelektual. Padahal, dalam banyak situasi, kata "menggunakan" sudah cukup jelas dan lebih alami. 
 
Misalnya, bukannya berkata "Saya memanfaatkan sumber daya ini", cukup katakan "Saya menggunakan sumber daya ini". Bahasa yang simpel justru lebih efektif. Jadi, jangan ragu untuk tetap sederhana!
 
2. "Menurut pendapat saya"
 
Kalimat ini terdengar sopan, tapi sering dipakai dengan cara yang kurang tulus. Misalnya, seseorang berkata, "Menurut pendapat saya, strategi ini salah total." Kalimat ini terdengar lebih halus, tapi tetap saja menyampaikan kritik yang tajam.
 
Jadi, kalau seseorang terlalu sering mengatakan "Menurut pendapat saya", coba perhatikan: apakah mereka benar-benar bersikap sopan atau justru sedang berusaha terdengar lebih intelektual?
 
3. "Mulai sekarang dan seterusnya"
 
Frasa seperti "ergo", "henceforth", atau "herewith" mungkin cocok dalam dokumen resmi atau karya sastra klasik, tapi terasa janggal dalam percakapan sehari-hari.
 
Menggunakan kata-kata ini dalam obrolan biasa justru bisa membuat Anda terdengar kaku atau sok tahu. Alih-alih terdengar cerdas, Anda malah bisa tampak berlebihan. Jadi, kecuali Anda sedang menulis surat resmi atau skrip drama Shakespeare, lebih baik gunakan bahasa yang lebih alami!
 
4. "Ini adalah pedang bermata dua"
 
Frasa ini sering dipakai untuk menggambarkan situasi yang punya sisi positif dan negatif. Tapi masalahnya, banyak orang menggunakannya tanpa memahami maknanya dengan benar.
 
Misalnya, jika seseorang berkata, "Memiliki banyak pengikut di media sosial adalah pedang bermata dua," tapi hanya membahas sisi negatifnya, berarti mereka tidak benar-benar memahami metafora ini.
 
Jadi, kalau ingin terdengar pintar, pastikan Anda tahu arti sebenarnya sebelum memakai frasa tertentu!
 
5. "Per se"
 
Kata "per se" berasal dari bahasa Latin dan berarti "dengan sendirinya". Misalnya, "Saya tidak benci filmnya per se, tapi aktingnya buruk."
 
Masalahnya, banyak orang menggunakan "per se" tanpa benar-benar membutuhkannya. Ini sering terjadi karena frasa Latin terdengar lebih keren atau intelektual. Tapi ingat, komunikasi yang efektif lebih penting daripada sekadar terdengar pintar.
 
6. "Saya tidak setuju"
 
Frasa ini terdengar sopan, tapi bisa juga digunakan untuk menunjukkan superioritas intelektual secara halus. Misalnya, seseorang berkata dengan nada merendahkan, "Saya tidak setuju dengan analisis Anda." Terkesan sopan, tapi sebenarnya menyiratkan bahwa mereka merasa lebih pintar.
 
Tidak ada yang salah dengan tidak setuju, tapi cara menyampaikannya juga penting. Alih-alih sekadar berkata "Saya tidak setuju", coba gunakan pendekatan yang lebih terbuka seperti "Saya melihatnya dari sudut pandang berbeda."
 
7. "Untuk semua maksud dan tujuan"
 
Frasa ini sebenarnya berarti "dalam setiap arti praktis", tapi sering digunakan dalam situasi di mana kata "pada dasarnya" sudah cukup. Misalnya, bukannya berkata "Untuk semua maksud dan tujuan, proyek ini gagal," cukup katakan "Pada dasarnya, proyek ini gagal."
 
Menggunakan bahasa yang lebih sederhana akan membuat Anda terdengar lebih jelas dan langsung ke poin utama.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore