Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Februari 2025 | 19.20 WIB

7 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Tua Ini Ternyata Bisa Merusak Mental Anak, Menurut Psikologi

 
 

Orang-orang yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif sering kali menunjukkan 7 sifat ini saat dewasa

 
 
JawaPos.com - Kata-kata yang diucapkan orang tua bisa membentuk pola pikir dan harga diri anak di masa depan. Kita nggak bisa memungkiri bahwa beberapa kata-kata mereka dulu cukup menyakitkan.
 
Coba renungkan kembali cara komunikasi yang lebih sehat dengan anak  agar mereka tumbuh dengan mental yang kuat dan percaya diri. 
 
Nah, di artikel ini, kita akan membahas tujuh kalimat yang sering diucapkan orang tua tanpa sadar kalau itu sebenarnya bisa menyakiti perasaan anak.
 
Yuk, kita bahas satu per satu, dikutip dari Geediting, Rabu (26/2).
 
1. “Udah, jangan nangis. Gitu aja kok baper.”
 
Anak-anak masih belajar cara mengelola emosi mereka. Kalau kita bilang mereka "lebay" atau "baper," kita secara nggak langsung mengajarkan mereka untuk menekan perasaan sendiri.
 
Padahal, anak yang merasa bebas mengekspresikan emosinya justru lebih sehat secara mental dan lebih bisa mengatasi stres saat dewasa.
 
Daripada buru-buru menyuruh mereka berhenti menangis, lebih baik coba bilang, “Kamu sedih, ya? Mau cerita ke Mama/Papa?” Dengan begitu, mereka tahu kalau perasaan mereka valid dan ada orang yang siap mendengarkan.
 
2. “Kenapa sih kamu nggak bisa kayak kakak/adikmu?”
 
Perbandingan memang menyakitkan. Entah itu dibandingkan dengan saudara, teman, atau orang lain, rasanya nggak enak.
 
Menurut penelitian, saudara kandung yang akrab justru bisa meningkatkan kesehatan mental satu sama lain. Tapi kalau sejak kecil sudah diposisikan sebagai saingan, hubungan mereka bisa retak selamanya.
 
Daripada membandingkan, lebih baik fokus pada usaha anak sendiri. Misalnya, “Mama/Papa senang lihat kamu berusaha keras!” Itu jauh lebih membangun kepercayaan diri mereka.
 
3. “Papa/Mama udah ngorbanin banyak buat kamu, jadi kamu harus nurut!”
 
Jadi orang tua memang butuh banyak pengorbanan. Tapi kalau terus-menerus mengingatkan anak tentang semua pengorbanan yang sudah kita lakukan, lama-lama hubungan jadi terasa seperti transaksi.
 
Rasanya seperti mengatakan, “Aku sudah memberi kamu hidup dan memenuhi kebutuhanmu, jadi kamu harus mengikuti semua keinginanku.”
 
Anak yang merasa “berutang” pada orang tua bisa tumbuh dengan rasa bersalah yang berlebihan. Mereka mungkin akan patuh, tapi dalam hati ada rasa kesal dan tekanan batin.
 
Padahal, anak nggak pernah meminta kita untuk berkorban. Mereka hanya butuh kasih sayang dan bimbingan, bukan beban emosional.
 
4. “Pokoknya nurut aja, jangan banyak tanya!”
 
Kalau kita terus bilang, “Udah, jangan banyak tanya,” mereka bisa jadi takut bertanya dan kehilangan rasa ingin tahu.
 
Menurut psikolog Dr. Shefali Tsabary, anak-anak berkembang lebih baik kalau diberi ruang untuk berpikir kritis. Mereka jadi lebih mandiri dan kreatif.
 
Bayangkan kalau anak tumbuh jadi orang dewasa yang nggak berani bertanya atau berpendapat di tempat kerja atau dalam hubungan. Itu bisa membuat mereka sulit berkembang.
 
Daripada membungkam pertanyaan mereka, coba jawab dengan sabar atau katakan, “Wah, pertanyaan bagus! Yuk, kita cari tahu bareng-bareng.”
 
5. “Kamu bikin Papa/Mama malu!”
 
Pernah dengar orang tua berkata seperti ini di depan umum? Atau mungkin kamu sendiri pernah mengalaminya?
 
Menggunakan rasa malu sebagai cara mendisiplinkan anak sebenarnya berbahaya. Itu bisa membuat anak merasa harga dirinya bergantung pada pendapat orang lain.
 
Anak yang sering dipermalukan bisa tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik dan selalu takut melakukan kesalahan.
 
Kalau anak berbuat sesuatu yang kurang pantas, lebih baik bicarakan secara pribadi dan beri tahu mereka mengapa itu salah. Misalnya, “Tadi cara kamu bicara ke orang itu kurang sopan. Yuk, kita coba cara yang lebih baik.”
 
6. “Kamu selalu bikin Mama/Papa kesal!”
 
Kalimat ini bisa membuat anak berpikir bahwa mereka adalah sumber masalah. Mereka mungkin akan tumbuh dengan keyakinan bahwa keberadaan mereka hanya membawa beban bagi orang lain.
 
Daripada menyalahkan mereka secara langsung, coba ganti dengan kalimat yang lebih spesifik, seperti, “Mama/Papa capek, jadi butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri.”
 
Dengan begitu, mereka tahu bahwa emosi orang tua bukan tanggung jawab mereka sepenuhnya.
 
 
7. “Untuk kebaikan kamu sendiri, percaya aja sama Mama/Papa.”
 
Meskipun niatnya baik, kalimat ini bisa membuat anak merasa tidak punya hak untuk memahami alasan di balik suatu keputusan.
 
Kepercayaan itu penting, tapi anak juga perlu belajar berpikir sendiri dan memahami konsekuensi dari suatu tindakan.
 
Daripada memaksa anak percaya begitu saja, coba beri penjelasan sederhana. Misalnya, “Mama/Papa melarang ini karena khawatir itu bisa membahayakan kamu.”
 
Dengan cara ini, anak tidak hanya patuh, tapi juga paham alasan di balik aturan yang dibuat.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore