Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Februari 2025 | 16.53 WIB

5 Kebiasaan Buruk Berikut Berpotensi Hambat Kesuksesan

seseorang yang meninggikan suara saat kalah berargumen./(Pexels) - Image

seseorang yang meninggikan suara saat kalah berargumen./(Pexels)

JawaPos.com - Kebiasaan buruk seseorang bisa menjadi penghambat kesuksesan. Itu terjadi di bidang pendidikan, pekerjaan, dan perdagangan atau bisnis. Sebetulnya orang-orang sukses pun memiliki kebiasaan buruk.

Contohnya dalam dunia pendidikan, rasa malas yang berkepanjangan kerap diartikan sebagai tanda bagi orang-orang yang tidak sukses di masa depan. Padahal, tuduhan seperti itu belum tentu benar. Secara realitas ada juga pelajar yang dulu dituding malas belajar, kini berhasil menyelesaikan pendidikannya di universitas terbaik hingga mengembangkan karir secara profesional.

Dalam percakapan umum, sangat jarang kita mendengarkan orang yang sudah sukses digunjingkan oleh umum karena memiliki kebiasaan buruk. Pada umumnya, orang banyak cenderung mengapresiasi mereka yang sukses, meski memiliki kebiasaan buruk atau kesalahan.

Seakan-akan ketika seseorang sukses, maka ia memiliki kebenaran mutlak mulai dari profesional hingga moral. Tak sedikit, kita mendengar ungkapan dari orang-orang, "dengarkan nasihat orang sukses."

Manusia adalah mahluk terbatas dan ringkih sehingga berpotensi melakukan kekeliruan, meski sudah sukses secara pasar bebas. Dapat dilihat juga pejabat publik sebagai orang sukses dalam dunia politik pemerintahan melakukan sejumlah kekeliruan yang fatal, seperti mengambil kebijakan tanpa mengujinya secara akademis.

Alhasil, kebijakan tersebut memicu kematian salah satu warga. Kematian tersebut merupakan imbas dari kebijakan keliru politikus sukses. Berikut lima kebiasaan buruk dari orang-orang sukses, dilansir dari inc.com, Kamis, (20/2).

1. Hasrat Luar Biasa untuk Menambahkan Opini dalam setiap Diskusi

Seringkali, sebagai pemimpin merasa harus mengarahkan pembicaraan. Padahal, karena kita memiliki sesuatu untuk ditambahkan, bukan berarti itu benar-benar berguna.

Kata kunci untuk menghentikan kebiasaan ini adalah kebijaksanaan. Ketika kita memiliki sesuatu untuk ditambahkan, kita dapat mengambil Waktu sejenak untuk melihat apakah itu benar-benar berguna atau lebih baik didiamkan saja.

2. Menggunakan Gejolak Emosi sebagai Alat Manajemen

Orang sukses cenderung semangat dan ekspresif, yang muncul sangat kuat saat stress. Pengalaman hidup mengajar kita bahwa belerang dan api dapat membuahkan hasil. Kembang api yang sama dapat menciptakan ketakutan dan intimidasi yang tidak perlu dalam kelompok yang menghentikan ekspresi dan menghambat produktivitas.

Ketika kita merasakan suhu tubuh meningkat dan darah mulai mendidih, ini menandakan bahwa sudah harus beristirahat. Dengan demikian, mengatasi masalah ini dengan kepala dingin dan hati yang hangat.

3. Ketidakmampuan untuk Memberikan Pujian dan Penghargaan

Menciptakan insentif dan penghargaan untuk menunjukkan apresiasi kepada tim harus dilakukan, karena apresiasi dan penghargaan dapat membuat sebuah pekerjaan atau proyek berhasil. Pasalnya, melalui apresiasi dan penghargaan tim merasa diakui sebagai personal yang sesungguhnya.

Dengan demikian, kelompok harus dirawat dan diperhatikan agar mereka bahagia dan bersemangat dalam bekerja di perusahaan. Peduli dengan mereka menandakan bahwa kita orang yang tulus terhadap mereka sebagai pribadi di luar hasil kerja.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore