
Ilustrasi perilaku orang yang berlagak bak orang kaya tapi sebenarnya hidup pas-pasan menurut psikologi. (Freepik/ senivpetro)
JawaPos.com – Citra sering kali lebih penting daripada kenyataan. Banyak orang berlomba-lomba menampilkan gaya hidup mewah bak orang kaya, meski kondisi finansial mereka sebenarnya jauh dari kata stabil bahkan pas-pasan.
Fenomena ini dikenal sebagai fake rich, di mana seseorang berusaha terlihat seperti orang kaya dengan berbagai cara, mulai dari memakai barang branded, sering memamerkan gaya hidup glamor, hingga berutang demi menjaga citra sosial.
Menurut psikologi, perilaku ini bisa didorong oleh berbagai faktor, seperti kebutuhan akan validasi sosial, tekanan untuk terlihat sukses, atau bahkan ketakutan akan dipandang rendah oleh lingkungan sekitar.
Dilansir dari geediting.com pada Minggu (16/2), diterangkan bahwa terdapat sepuluh perilaku orang yang berlagak bak orang kaya tapi sebenarnya hidup pas-pasan menurut psikologi.
Banyak orang terjebak dalam pola pikir yang memprioritaskan tampilan luar dibandingkan membangun fondasi finansial yang kokoh. Mereka rela menghabiskan uang untuk barang-barang bermerek, mobil mewah, dan gadget terbaru hanya demi mempertahankan citra sukses di mata orang lain.
Sementara aspek penting seperti menabung, berinvestasi, atau melunasi hutang justru terabaikan karena obsesi mereka terhadap penampilan. Di balik gaya hidup glamor tersebut, sebenarnya mereka hidup dari gaji ke gaji dan tenggelam dalam tumpukan tagihan.
Fenomena mengadakan perayaan berlebihan saat momen spesial sangat umum ditemui pada orang-orang yang sebenarnya kesulitan finansial. Mereka nekat menggelar pesta ulang tahun mewah, merayakan liburan secara besar-besaran, atau menyelenggarakan acara dengan dekorasi mahal meski tahu hal tersebut akan membebani keuangan mereka.
Setelah pesta usai, mereka harus berjuang membayar sewa atau bahkan membeli kebutuhan pokok menggunakan kartu kredit. Namun ketakutan dicap “tidak mampu” membuat mereka tetap memaksakan diri menghamburkan uang yang sebenarnya tidak mereka miliki.
Pilihan menyewa mobil mewah menjadi jalan pintas bagi mereka yang ingin terlihat kaya namun sebenarnya tak mampu membeli. Skema leasing memang menawarkan cicilan lebih rendah dibanding pembelian langsung, tetapi pada akhirnya menjadi jebakan finansial karena mereka akan selalu terbebani pembayaran tanpa pernah memiliki aset.
Meski demikian, bagi orang-orang yang hidup dari gaji ke gaji namun terobsesi tampil mewah, godaan untuk mengendarai mobil mewah mengalahkan pertimbangan jangka panjang. Akhirnya mereka terjebak dalam siklus pembayaran sewa yang tak berkesudahan.
Prioritas memiliki smartphone keluaran terkini menjadi ciri khas lain dari mereka yang terobsesi terlihat kaya. Meski ponsel lama masih berfungsi dengan baik, mereka tetap memaksakan diri upgrade ke model terbaru dengan skema cicilan melalui operator seluler.
Kebiasaan ini menambah beban bulanan pada anggaran yang sudah ketat, menciptakan siklus hutang berkelanjutan hanya demi mempertahankan citra status sosial. Bagi kelompok ini, kepemilikan gadget terkini bukan soal kebutuhan, melainkan pembuktian status.
Mereka yang terobsesi terlihat kaya kerap mengabadikan momen liburan di resort mewah dan destinasi eksotis untuk dipamerkan di media sosial. Semua pengeluaran mulai dari tiket pesawat, hotel, hingga makan di restoran mahal dibebankan ke kartu kredit tanpa perhitungan matang.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
