Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Februari 2025 | 01.24 WIB

Kebiasaan yang Dibenci: Perilaku Sepele yang Tanpa Disadari Membuat Orang Lain Menjauh, Sebuah Refleksi Diri

Ilustrasi orang yang dijauhi. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang dijauhi. (Freepik)

JawaPos.com - Seringkali kita tidak menyadari mengapa beberapa orang menjauh, padahal kita merasa tidak melakukan kesalahan. Perlu diketahui bahwa ada beberapa kebiasaan kecil yang ternyata dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman. Kebiasaan-kebiasaan ini secara perlahan bisa mengikis hubungan baik dengan orang di sekitar kita.

Satu di antara kebiasaan yang membuat orang lain tidak nyaman adalah terlalu banyak mengeluh. Sikap negatif yang terus-menerus dipancarkan dapat membuat orang lain merasa lelah dan terbebani. Dikutip dari Global English Editing Jumat (7/2), kebiasaan mengeluh tanpa henti bisa mendorong orang lain menjauh.

Selain itu, bersikap terlalu menghakimi juga menjadi sifat yang tidak disukai. Ketika seseorang terus-menerus mengkritik atau menilai orang lain, mereka menciptakan suasana negatif. Berdasarkan informasi dari Global English Editing, tidak ada orang yang suka merasa terus-menerus dihakimi. Hal ini tentu membuat orang lain tidak betah berada di dekatnya.

Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah terlalu fokus pada diri sendiri dalam percakapan. Orang yang hanya berbicara tentang diri mereka sendiri dan tidak tertarik pada orang lain akan dianggap egois. Menurut informasi dari TIME, terus-menerus mengalihkan pembicaraan kembali ke diri sendiri membuat orang lain merasa tidak dihargai.

Selanjutnya, kurangnya empati juga dapat menjadi penghalang dalam hubungan sosial. Ketika seseorang tidak mampu merasakan atau memahami perasaan orang lain, mereka akan dianggap tidak peduli. Dihimpun dari Forbes, komunikasi yang buruk seringkali disebabkan oleh kurangnya empati terhadap lawan bicara.

Kebiasaan memotong pembicaraan juga sangat mengganggu interaksi sosial. Tindakan ini menunjukkan kurangnya rasa hormat dan tidak menghargai pendapat orang lain. Berdasarkan informasi dari Forbes Jumat (7/2), memotong pembicaraan membuat orang lain merasa tidak didengarkan dan diabaikan.

Selain kebiasaan-kebiasaan di atas, tidur yang tidak cukup juga dapat berdampak negatif pada kehidupan sosial. Orang yang kurang tidur cenderung merasa lebih kesepian dan kurang tertarik untuk berinteraksi. Menurut informasi dari University of California, kurang tidur dapat membuat seseorang tampak tidak menarik secara sosial di mata orang lain.

Kebiasaan lain yang seringkali tidak disadari adalah penggunaan ponsel yang berlebihan saat bersama orang lain. Terlalu sering memeriksa ponsel saat berinteraksi dapat memberikan kesan bahwa kita tidak fokus dan tidak menghargai kehadiran lawan bicara. Dikutip dari Global News, penggunaan ponsel yang konstan dapat merusak hubungan karena membuat pasangan merasa diabaikan.

Selain itu, terlalu sering mengungkapkan kemarahan juga dapat menjauhkan orang lain. Ekspresi kemarahan yang terus-menerus, meskipun seringkali sebagai bentuk ketidakberdayaan, justru menciptakan suasana yang tidak nyaman. Berdasarkan informasi dari Psychology Today, kemarahan yang berlebihan dapat meracuni hubungan dan membuat orang lain menjauh.

Kebiasaan berikutnya adalah bersikap pasif-agresif, seperti membuat sindiran samar di media sosial. Perilaku ini sama buruknya dengan agresi pasif dan dapat membuat orang lain merasa bingung dan tidak nyaman. Menurut informasi dari The Independent, vague booking di media sosial sama dengan agresi pasif dan membuat orang lain menjauh.

Terlalu banyak berbagi foto di media sosial juga bisa menjadi bumerang. Meskipun niatnya baik untuk berbagi momen bahagia, terlalu sering mengunggah foto justru dapat mengganggu hubungan di dunia nyata. Dihimpun dari The Independent, orang lain selain teman dekat dan keluarga inti tidak terlalu suka dengan orang yang terus-menerus berbagi foto diri.

Kebiasaan suka menunda-nunda juga dapat mempengaruhi hubungan dengan orang lain, terutama dalam konteks profesional. Menunda-nunda pekerjaan atau janji dapat menunjukkan kurangnya tanggung jawab dan tidak menghargai waktu orang lain. Berdasarkan informasi dari Oxford Academic, kebiasaan menunda-nunda tugas berkaitan dengan penggunaan media sosial dan ponsel.

Kemudian, kebiasaan membawa pekerjaan ke rumah juga dapat merusak hubungan personal. Ketika seseorang terlalu fokus pada pekerjaan bahkan di waktu istirahat, pasangan atau keluarga dapat merasa diabaikan. Dikutip dari Global News, membawa pekerjaan ke rumah membuat pasangan merasa tidak dihargai karena perhatian sepenuhnya tercurah pada pekerjaan.

Kebiasaan untuk selalu "tersedia" atau always on juga dapat menjadi masalah. Merasa harus selalu merespons pesan atau panggilan dengan cepat dapat menciptakan tekanan dan mengurangi kualitas interaksi sosial yang sebenarnya. Menurut informasi dari Forbes, merespons terlalu cepat agar terdengar pintar justru menghalangi pemahaman yang mendalam dalam komunikasi.

Selain itu, kebiasaan sering keluar malam tanpa melibatkan pasangan juga bisa menimbulkan masalah. Terlalu sering menghabiskan waktu di luar rumah setelah bekerja tanpa melibatkan pasangan dapat membuat mereka merasa tidak diprioritaskan. Berdasarkan informasi dari Global News, terlalu sering keluar malam membuat pasangan merasa tidak dihargai dan diabaikan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore