Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Februari 2025 | 01.55 WIB

Fobia dengan Penerbangan karena Takut Kecelakaan, Simak Terapi untuk Pengidap Aerophobia

Ilustrasi aerophobia. (pexels.com) - Image

Ilustrasi aerophobia. (pexels.com)

JawaPos.com - Salah satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia secara alami adalah terbang seperti burung.
 
Sedangkan seperti ikan, manusia mampu berenang dengan alami meski tidak dapat mencapai kedalaman tertentu atau untuk memanjat pohon seperti monyet, manusia mampu melakukannya secara natural, walau tidak bisa melompat secara agresif. Untuk seperti burung, manusia memerlukan bantuan teknologi yaitu pesawat terbang.
 
Seringkali, seseorang mengalami aerophobia karena terbang bukan sifat natural dari manusia. Aerophobia adalah perasaan takut secara berlebih terhadap penerbangan atau saat sedang terbang dengan pesawat terbang.
 
Salah satu pemicu rasa takut berlebih itu adalah beredarnya informasi kecelakaan pesawat atau helikopter milik militer yang jatuh di beberapa daerah. Fakta tersebut memicu kecemasan sejumlah orang dengan penerbangan. 
 
Alhasil, tak sedikit orang yang bergumul dengan aerophobia dengan berdasarkan tragedi kecelakaan pesawat sehingga muncul rasa ragu dan cemas terhadap penerbangan. Melansir vice.com, Selasa, (4/2) bahwa aerophobia atau ketakutan secara berlebih dengan aktivitas penerbangan adalah fobia paling umum di Amerika Serikat, setidaknya ada 25 juta lebih orang dewasa mengalami fobia itu.
 
Namun, penerbangan adalah bagian dari dinamika kehidupan masyarakat dewasa ini sehingga banyak aktivitas produktif yang menuntut mobilitas dan kecepatan sehingga bertumpu pada transportasi aviasi. Dengan demikian, aerophobia itu harus dikendalikan agar tidak menghambat aktivitas pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi untuk berpindah kota atau negara.
 
Menurut Claveland Clinic bahwa orang dengan aerophobia mungkin takut dengan berbagai aspek penerbengan, seperti lepas landas, mendarat, atau terkunci di dalam pesawat, dikutip dari vice.com, Selasa, (4/2). Fobia tersebut bersifat irasional-statistik karena penerbangan memiliki tingkat kematian atau kecelakaan terendah di antara bentuk transportasi lainnya. Namun, informasi rasional itu belum berhasil menjadi alasan untuk para aerophobia ini keluar dari kecemasan.  
 
Aerophobia memiliki gejala umum seperti jantung berdebar kencang, berkeringat, gemetar, pusing, sesak nafas, nyeri dada, dan sebagainya sebagaimana gejala panik pada umumnya. Alhasil, orang menghindari aktivitas penerbangan sehingga melewatkan sejumlah kepentingan yang mendesak.
 
Menghindari penerbangan adalah upaya untuk melindungi diri dari ancaman kematian dari udara, tetapi kita harus belajar menghadapi ketidakpastian dan mengambil risiko yang sehat.
 
Untuk mengatasi aerophobia dapat dilakukan terapi yaitu pencegahan paparan dan respons, terapi ini sangat bagus juga fobia lainnya, serta gangguan OCD, dikutip dari vice.com. Bentuk terapi ini dirancang untuk secara bertahap mengurangi kecemasan yang memicu obsesi dan dorongan. Salah satu cara yang diperkirakan terjadi adalah melalui proses yang disebut pembiasaan.
 
Melalui metode ini orang menjadi kurang terangsang secara fisiologis oleh rangsangan atau obsesi yang memicu setelah diperhadapkan secara repetitif dan aman. Tentu saja, anda bisa mengekspos diri pada rasa takut dengan cara anda sendiri sambil bekerja dengan seorang profesional yang terpercaya. 
 
Akhirnya, saya bisa naik pesawat dan merasa lebih terbiasa terbang. Pesan moral dari cerita ini adalah jangan terlalu keras pada diri sendiri, dan ketika merasa siap, cobalah untuk kembali ke pesawat. Ada banyak dunia di luar sana yang tidak ingin anda lewatkan.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore