
Ilustrasi playing victim (freepik)
JawaPos.com – Dalam interaksi sosial, kita kerap bertemu dengan orang yang selalu merasa menjadi korban, meski dalam kenyataannya situasinya tidak selalu seperti itu.
Sikap ini dikenal dengan istilah playing victim, di mana seseorang berusaha memposisikan dirinya selalu dirugikan dan menyalahkan orang lain atas permasalahan yang dihadapinya. Perilaku seperti ini, jika tidak ditangani dengan bijak, bisa merusak hubungan personal dan profesional.
Dilansir dari penjelasan Alodokter, pada Selasa, (21/1) sikap playing victim memang bukan tergolong sebagai gangguan jiwa, tetapi perilaku ini bisa menjadi masalah psikologis yang kurang baik untuk dilestarikan.
Agar tidak terjebak dalam perilaku playing victim yang bisa merugikan banyak pihak, penting untuk mengenali ciri-ciri playing victim dan cara menghadapinya dengan bijak. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa menghindari terperangkap dalam dinamika negatif tanpa merusak hubungan yang sudah terjalin.
Apa itu Playing Victim?
Playing victim adalah perilaku seseorang yang selalu merasa dirinya adalah "korban" dan kerap menyalahkan pihak lain atas segala masalah yang terjadi dalam hidupnya. Mengutip penjelasan dari artikel Alodokter sikap ini dapat muncul akibat berbagai faktor, seperti pola pikir yang salah, pola asuh yang kurang tepat semasa kecil, hingga tekanan mental atau emosional yang tidak terkelola dengan baik. Seringkali, individu yang menunjukkan perilaku ini tidak memiliki pertahanan diri yang sehat untuk menghadapi permasalahan hidup mereka.
Selain faktor psikologis tersebut, playing victim juga bisa menjadi tanda adanya gangguan mental yang lebih serius. Beberapa di antaranya adalah gangguan kepribadian borderline (BPD), gangguan kepribadian narsistik, serta gangguan stres pasca trauma (PTSD). Bila tidak segera ditangani, perilaku ini bisa menyebabkan perasaan frustasi, putus asa, dan bahkan berujung pada stres atau depresi.
Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, playing victim juga berpengaruh besar terhadap orang-orang di sekitar pelaku. Mereka yang terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang "salah" atau "merugikan" lama kelamaan akan merasa terbebani dan frustasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui cara menghadapi orang dengan sifat playing victim dengan bijak, tanpa merusak hubungan yang ada.
Cara Menghadapi Orang dengan Mental Playing Victim
Dikutip dari laman Halodoc, menghadapi seseorang yang berperilaku playing victim memang bisa sangat menguji kesabaran. Terlebih lagi, kita sering kali harus menerima tuduhan atau kesalahan yang sebenarnya tidak kita lakukan. Untuk itu, berikut adalah beberapa cara efektif untuk menghadapinya tanpa terjebak dalam permainan mereka:
Buat Batasan yang Jelas
Cara paling mudah untuk menghadapi pelaku playing victim adalah dengan membuat batasan yang jelas. Kamu tidak perlu memutuskan komunikasi sepenuhnya, namun lebih baik untuk hanya berbicara atau berinteraksi apabila ada hal-hal yang memang bersifat mendesak atau urgensi, seperti urusan pekerjaan. Dengan cara ini, kamu dapat menghindari keterlibatan emosional yang tidak perlu.
Cari Tahu Alasan Pelaku Melakukannya
Perilaku playing victim bisa jadi merupakan respons terhadap permasalahan pribadi yang sedang dihadapi oleh pelaku. Mereka mungkin merasa tidak percaya diri atau sedang dalam kondisi mental yang tidak stabil. Jika kamu bisa menemukan alasan di balik tindakan mereka, kamu mungkin bisa memberikan dukungan yang lebih konstruktif dan membantu mereka keluar dari siklus tersebut.
Tidak Memberikan Label
Saat berhadapan dengan orang yang suka playing victim, hindari memberi label negatif seperti "kamu hanya menganggap diri sebagai korban" atau "kenapa kamu selalu menyalahkan orang lain?". Sebaliknya, cobalah untuk mengungkapkan tindakan spesifik yang kamu lihat, seperti banyaknya keluhan atau ketidakmampuan mereka untuk mengambil tindakan yang konstruktif. Hal ini akan membuat diskusi lebih objektif dan solusi dapat ditemukan bersama.
Berikan Umpan Balik dengan Bijak
Dikutip dari sumber lain, Klikdokter mengatakan penting untuk memberikan umpan balik dengan cara yang lembut namun tegas. Cobalah untuk menyampaikan bahwa perilaku mereka bisa memperburuk situasi yang ada, bukan menyelesaikan masalah. Berikan contoh konkret tentang bagaimana sikap mereka berdampak pada orang lain, sehingga mereka dapat melihat perspektif yang lebih luas.
Tawarkan Solusi, Bukan Simpati
Alih-alih terjebak dalam keluhan tanpa henti, dorong mereka untuk mencari solusi yang lebih konstruktif. Ajukan pertanyaan yang membantu mereka berpikir tentang langkah konkret yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah. Hal ini akan memotivasi mereka untuk bertindak lebih positif dan tidak terus-menerus berfokus pada peran korban.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
