Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Januari 2025 | 01.17 WIB

Psikologi Sharenting dalam Media Sosial, Dari Motivasi Orang Tua hingga Dampak Psikologis dan Keamanan Data Anak-anak

Ilustrasi sharenting di media sosial. (pexels.com). - Image

Ilustrasi sharenting di media sosial. (pexels.com).

JawaPos.com - Kehidupan kita dewasa ini melekat dengan media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Threats.

Seringkali di media sosial, kita menemui para orang tua yang membagikan informasi anak-anaknya melalui gambar atau foto. Fenomena itu disebut "sharenting" merupakan kombinasi antara "sharing" dan "parenting," dikutip dari verywellmind.com, Selasa, (31/12).

Istilah ini dapat ditelusuri ke sebuah artikel di Wall Street Journal pada 2012 tentang "oversharenting," meski sebelum itu, banyak orang tua yang sudah mulai mengunggah informasi soal anak-anak mereka di media sosial.

Banyak orang tua yang menganggap berbagi foto sebagai cara wajar untuk terhubung dengan teman dan keluarga sekaligus memberikan informasi terbaru soal kehidupan mereka.

Lagipula, para orang tua selalu mengambil foto dan berbagi kabar terbaru tentang anak-anak mereka. Namun, praktik tersebut biasanya dilakukan dalam privasi yang relatif.

Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan bahwa apa motivasi para orang tua melakukan sharenting?

Sebuah penelitian menemukan bahwa bagi orang tua yang memiliki bayi, sharenting dapat membantu meringankan isolasi sosial yang muncul pada periode ini dalam kehidupan anak-anak mereka, dan keinginan untuk menjalin hubungan interpersonal juga membuat orang tua cenderung melakukan sharenting secara berlebihan, dikutip dari verywellmind.com.

Sederhananya, ketika seorang ibu baru menerima reaktif dan komentar positif sebagai tanggapan atas foto-foto bayi yang dibagikan lewat media sosial menjadi sebuah momen validasi sebagai ibu yang baik dan membuat mereka merasa didukung. Meskipun sharenting sering dikaitkan dengan banyaknya foto-foto bayi dan balita yang diunggah, orang tua dari remaja juga berbagi informasi tentang anak-anak mereka di media sosial.

Penelitian telah menunjukkan bahwa motivasi mereka termasuk mengkomunikasikan kebanggaan mereka terhadap prestasi anak-anaknya dan memberi tahu teman dan keluarga soal kehidupan anak-anaknya. Jadi, sharenting dengan alasan untuk berbagi informasi di media sosial untuk berhubungan dengan teman dan keluarga adalah alasan yang ringkih secara psikologis.

Kemampuan untuk terhubung dan tetap berhubungan dengan teman dan keluarga di dunia yang membuat orang-orang semakin berjarak dan berjauhan satu sama lain adalah dengan berbagi tempat tinggal, dikutip dari verywellmind.com.

Namun, berbagi informasi soal anak di media sosial yang bersifat publik memiliki risiko. Bahkan, orang tua yang berhati-hati dengan informasi yang dibagikan secara daring dan selektif, tetap memiliki risiko pencurian data atau penyalahgunaan informasi untuk kejahatan atau kriminalitas berbasis data.

Selain memiliki potensi kejahatan, sharenting juga berdampak kepada kondisi psikologis anak-anak sehingga mengganggu proses tumbuh kembang mereka. Melansir psychologytoday.com bahwa terdapat empat peringatan soal dampak sharenting bagi pertumbuhan psikologis anak-anak:

- Satu dari empat anak merasa malu dengan informasi yang dibagikan oleh orang tuanya di media sosial,

- Pada usia 9 tahun, anak-anak memiliki reaksi yang kuat terhadap apa yang diposting oleh orang tua secara daring tentang mereka.

- Di Amerika Serikat, 92% anak berusia 2 tahun sudah memiliki eksistensi secara daring.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore