Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2026 | 23.05 WIB

8 Hal yang Sering Dikatakan Media Sosial tentang Hubungan, tetapi Menyesatkan Menurut Psikologi

seseorang yang sesat informasi tentang hubungan / foto: Magnific/magnific
seseorang yang sesat informasi tentang hubungan / foto: Magnific/magnifi
 
JawaPos.com - Media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi terbesar mengenai hubungan asmara. Setiap hari, jutaan orang melihat kutipan motivasi, video singkat, hingga konten dari influencer yang membahas cara mencintai pasangan, mengenali pasangan yang "toxic", atau tanda-tanda hubungan ideal. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut didasarkan pada penelitian ilmiah. Banyak konten yang dibuat demi menarik perhatian, sehingga menyederhanakan masalah hubungan yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
 
Psikologi modern memandang hubungan sebagai proses dinamis yang dipengaruhi oleh komunikasi, pengalaman masa lalu, kepribadian, kemampuan mengelola emosi, dan berbagai faktor lingkungan. Karena itu, berbagai klaim populer di media sosial sering kali terdengar meyakinkan, tetapi tidak sepenuhnya benar.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (23/7), terdapat delapan anggapan yang sering beredar di media sosial namun bertentangan dengan pemahaman psikologi.

1. "Kalau Dia Benar-Benar Mencintaimu, Dia Akan Selalu Mengerti Tanpa Perlu Dijelaskan"

Ini adalah salah satu mitos hubungan yang paling populer. Banyak video romantis menggambarkan pasangan ideal sebagai seseorang yang mampu membaca pikiran pasangannya.

Padahal, menurut psikologi komunikasi, manusia tidak memiliki kemampuan membaca isi pikiran orang lain. Pasangan hanya bisa memahami kebutuhan kita jika kebutuhan tersebut dikomunikasikan secara jelas.

Mengharapkan pasangan selalu mengerti tanpa penjelasan justru berpotensi memicu konflik. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, seseorang bisa merasa diabaikan, sementara pasangannya bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan.

Hubungan yang sehat dibangun melalui komunikasi terbuka, bukan melalui tebakan.

2. "Kalau Sering Bertengkar Berarti Tidak Cocok"

Media sosial sering menggambarkan hubungan ideal sebagai hubungan tanpa pertengkaran.

Faktanya, penelitian psikologi menunjukkan bahwa konflik adalah bagian normal dari hubungan. Yang menentukan kualitas hubungan bukanlah ada atau tidaknya pertengkaran, melainkan bagaimana pasangan menyelesaikan konflik tersebut.

Pasangan yang mampu berdiskusi dengan tenang, saling mendengarkan, dan mencari solusi bersama biasanya memiliki hubungan yang lebih kuat dibanding pasangan yang menghindari konflik sama sekali.

Konflik yang dikelola dengan baik justru dapat meningkatkan kedekatan emosional.

3. "Pasangan Sejati Harus Selalu Bersama"

Banyak konten romantis menunjukkan bahwa pasangan ideal menghabiskan seluruh waktu bersama.

Dalam psikologi, hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi masing-masing individu untuk berkembang.

Setiap orang membutuhkan waktu untuk keluarga, pekerjaan, teman, maupun hobi pribadi. Memiliki kehidupan di luar hubungan bukan berarti cinta berkurang.

Sebaliknya, menjaga identitas pribadi dapat membuat hubungan lebih seimbang dan mengurangi ketergantungan emosional yang berlebihan.

4. "Kalau Cemburu Berarti Sayang"

Ungkapan ini sangat sering muncul di media sosial.

Padahal, psikologi membedakan antara rasa cemburu yang wajar dan perilaku posesif.

Sedikit rasa cemburu memang bisa muncul dalam hubungan. Namun jika cemburu berubah menjadi:

mengontrol pasangan,
memeriksa ponsel tanpa izin,
melarang berteman,
membatasi aktivitas,

maka perilaku tersebut bukan lagi tanda cinta, melainkan bentuk kontrol yang dapat merusak hubungan.

Cinta yang sehat dibangun atas dasar kepercayaan, bukan pengawasan.

5. "Hubungan yang Baik Tidak Perlu Banyak Usaha"

Media sosial sering memperlihatkan hubungan yang tampak selalu bahagia dan mudah dijalani.

Kenyataannya, semua hubungan membutuhkan usaha.

Psikologi menunjukkan bahwa kepuasan hubungan dipengaruhi oleh berbagai perilaku positif seperti:

komunikasi yang konsisten,
saling menghargai,
menyelesaikan konflik,
menunjukkan perhatian,
membangun kepercayaan.

Hubungan yang terlihat "mudah" biasanya merupakan hasil dari kerja sama kedua belah pihak, bukan karena semuanya berjalan secara otomatis.

6. "Pasangan Harus Menjadi Segalanya"

Beberapa konten menggambarkan pasangan sebagai sahabat, keluarga, psikolog, sekaligus sumber kebahagiaan utama.

Padahal, memberikan seluruh tanggung jawab kebahagiaan kepada satu orang merupakan beban yang sangat besar.

Psikologi menyarankan agar seseorang tetap memiliki jaringan sosial yang sehat, termasuk keluarga, teman, dan aktivitas yang bermakna.

Hubungan menjadi lebih sehat ketika kedua individu mampu saling mendukung, bukan saling menggantungkan seluruh kebutuhan emosional.

7. "Kalau Hubungan Sulit, Berarti Dia Bukan Jodoh"

Media sosial sering menyederhanakan masalah hubungan menjadi persoalan "jodoh" atau "bukan jodoh."

Dalam kenyataannya, hampir semua pasangan menghadapi tantangan.

Perbedaan karakter, perubahan pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga tekanan keluarga dapat memengaruhi hubungan.

Psikologi menunjukkan bahwa keberhasilan hubungan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan pasangan dalam bekerja sama menghadapi masalah dibanding sekadar tingkat kecocokan awal.

Hubungan yang langgeng biasanya dibangun melalui komitmen dan kemampuan beradaptasi.

8. "Putus Berarti Gagal"

Media sosial sering menganggap putus cinta sebagai kegagalan total.

Padahal, tidak semua hubungan memang harus dipertahankan.

Dalam beberapa kondisi, mengakhiri hubungan justru menjadi keputusan yang paling sehat, misalnya ketika terdapat:

kekerasan,
manipulasi,
pelecehan,
ketidaksetiaan yang terus berulang,
atau perbedaan nilai hidup yang tidak dapat didamaikan.

Psikologi memandang setiap hubungan sebagai pengalaman belajar. Hubungan yang berakhir tetap dapat memberikan pelajaran mengenai komunikasi, batasan diri, dan kebutuhan emosional yang akan berguna di masa depan.

Putus bukan selalu berarti gagal, melainkan terkadang merupakan langkah menuju kehidupan yang lebih sehat.

Kesimpulan

Media sosial dapat menjadi sumber inspirasi mengenai hubungan, tetapi tidak semua kontennya akurat secara ilmiah. Banyak narasi yang dibuat agar mudah dipahami atau menarik perhatian, sehingga mengabaikan kompleksitas hubungan manusia.

Menurut psikologi, hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, kemampuan menyelesaikan konflik, empati, serta komitmen untuk terus bertumbuh bersama. Oleh karena itu, sebelum mempercayai nasihat hubungan yang viral di media sosial, penting untuk mempertimbangkan apakah informasi tersebut didukung oleh bukti ilmiah atau hanya berdasarkan opini dan pengalaman pribadi seseorang.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore