Jika Anda terus-menerus merasa terlalu banyak berpikir, cobalah 5 teknik mindfulness sederhana ini (freepik)
JawaPos.com - Hidup di saat ini adalah sebuah seni, bukan hanya slogannya. Ini tentang memperhatikan dunia di sekitar Anda, benar-benar hadir dan tidak membiarkan gangguan yang tidak relevan mencuri fokus Anda. Tapi mari kita hadapi itu, kita semua terganggu. Namun, ada beberapa orang yang tampaknya telah menguasai seni hidup di saat ini dan mereka menghindari gangguan umum yang dihadapi sebagian besar dari kita.
Selama bertahun-tahun, saya telah memperhatikan pola-pola tertentu. Ada serangkaian gangguan khusus yang cenderung dihindari oleh mereka yang hidup di saat ini. Dan itu tidak sesulit yang Anda kira. Dalam artikel ini, saya akan membagikan kepada Anda 4 gangguan umum yang dihindari oleh orang-orang yang hidup di saat ini. Berikut 4 gangguannya, dikutip dari geediting pada Jumat (6/12).
1) Media sosial
Ah, media sosial. Pedang bermata dua pamungkas. Di satu sisi, sangat bagus untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga yang berada jauh. Di sisi lain, ini adalah pengisap waktu dan pengalih perhatian yang terkenal kejam. Orang-orang yang telah menguasai seni hidup di saat ini mengetahui hal ini. Mereka memahami bahwa pengguliran, kesukaan, dan komentar yang terus-menerus dapat menjauhkan mereka dari masa kini, jadi mereka menggunakan media sosial dengan hemat.
Mereka telah belajar menetapkan batasan. Mungkin mereka hanya memeriksa akun mereka sekali atau dua kali sehari, atau mungkin mereka bahkan menetapkan hari-hari "bebas media sosial" tertentu. Jangan salah paham, mereka tidak sepenuhnya menghindari media sosial.
Sebaliknya, mereka menggunakannya dengan cara yang tidak mencuri perhatian mereka dari saat ini. Ingat, hidup di saat ini bukanlah tentang isolasi, melainkan tentang keterlibatan penuh dalam apa pun yang Anda lakukan saat itu. Dan pemeriksaan media sosial terus-menerus? Tidak terlalu kondusif untuk itu.
2) Multitasking
Saya yakin Anda pernah mendengarnya sebelumnya: Multitasking adalah mitos. Faktanya, saya mempelajari pelajaran ini dengan cara yang sulit. Beberapa tahun yang lalu, saya menganggap diri saya cukup multitasker. Saya akan mengerjakan sebuah proyek, memeriksa email saya, dan setengah mendengarkan podcast pada saat yang bersamaan. Saya percaya saya menjadi sangat produktif. Tetapi kemudian saya mulai menyadari bahwa pekerjaan saya sedang menderita.
Saya membuat kesalahan konyol, kehilangan informasi penting dari podcast, dan email saya penuh dengan kesalahan ketik. Saya tidak benar-benar hadir dalam tugas apa pun yang saya lakukan. Saat itulah saya menyadari bahwa multitasking tidak lebih dari pengalih perhatian. Alih-alih meningkatkan produktivitas saya, itu malah mengurangi kualitas pekerjaan saya dan kemampuan saya untuk hadir.
Sekarang, saya fokus pada satu tugas pada satu waktu, memberikan perhatian penuh saya sebelum melanjutkan ke tugas berikutnya. Tidak hanya kualitas pekerjaan saya yang meningkat, tetapi saya juga merasa diri saya lebih terlibat dan tidak terlalu stres. Orang-orang yang hidup di saat ini memahami hal ini. Mereka menyadari bahwa multitasking membagi perhatian mereka dan membuat mereka tidak benar-benar terlibat dengan apa yang mereka lakukan. Jadi mereka menghindarinya.
3) Kebisingan yang tidak perlu
Bayangkan berjalan ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan banyak televisi, masing-masing menayangkan acara yang berbeda dengan volume tinggi. Kedengarannya kacau, bukan? Inilah tepatnya yang dilakukan oleh kebisingan yang tidak perlu pada pikiran Anda. Berlawanan dengan kepercayaan populer, otak kita tidak dirancang untuk menangani banyak kebisingan. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan kebisingan yang berkepanjangan atau berlebihan dapat menyebabkan stres dan merusak fungsi kognitif.
Orang yang hidup di saat ini memahami nilai kedamaian dan ketenangan. Mereka meminimalkan kebisingan yang tidak perlu, sehingga mereka dapat fokus pada pikiran, perasaan, dan tindakan mereka saat ini. Ini bisa berupa mematikan TV saat tidak ditonton secara aktif, atau memilih lingkungan yang tenang untuk bekerja. Ingat, lingkungan yang tenang kondusif untuk pikiran yang tenang. Dan pikiran yang tenang lebih siap untuk hidup di saat ini.
4) Perencanaan yang berlebihan

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
