ilustrasi seseorang yang diabaikan oleh orang lain. (freepik)
JawaPo.com - Pengalaman masa kecil membentuk kita dengan cara yang sering kali tidak kita pahami sepenuhnya hingga dewasa. Pengabaian, khususnya, dapat meninggalkan jejak abadi pada kepribadian seseorang.
Ketika seorang anak sering diabaikan, hal ini tidak hanya memengaruhi masa kecilnya, tetapi juga membentuk kepribadiannya di masa dewasa.
Mereka yang mengalami pengabaian sering kali menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang berbeda. Memahami ciri-ciri ini dapat membantu kita berempati dengan orang-orang ini dan mendukung mereka dalam perjalanan mereka.
Dalam artikel ini, kita akan mempelajari empat ciri-ciri kepribadian yang biasa terlihat pada orang dewasa yang mengalami pengabaian berlebihan saat kecil. Jadi, mari kita ungkapkan hal-hal yang tidak terlihat dan menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang kepribadian-kepribadian ini. Berikut 4 ciri-cirinya dikutip dari hackspirit pada Rabu (4/12).
1) Kesulitan dengan keterikatan
Salah satu sifat yang paling umum terlihat pada orang dewasa yang diabaikan saat masih kecil, adalah kesulitan dalam membentuk dan mempertahankan hubungan yang dekat.
Anak-anak yang diabaikan sering kali harus berjuang sendiri secara emosional. Hal ini dapat menyebabkan mereka tumbuh dengan perasaan kurang percaya dan aman, yang membuat mereka sulit untuk membentuk hubungan emosional yang mendalam di masa dewasa.
Ini bukan berarti mereka tidak dapat menjalin hubungan sama sekali. Namun, mereka mungkin kesulitan untuk menjalin keintiman, takut berkomitmen, atau sering merasa tidak aman dalam hubungan mereka.
Ingat, memahami sifat-sifat ini bukanlah tentang memberi label atau menyalahkan, melainkan menumbuhkan empati dan kesadaran. Ini adalah langkah menuju pertolongan.
Ingat, memahami sifat-sifat ini bukanlah tentang memberi label atau menyalahkan, melainkan menumbuhkan empati dan kesadaran. Ini adalah langkah untuk membantu mereka yang terkena dampak pengabaian masa kanak-kanak, agar dapat menavigasi hubungan mereka dengan lebih baik.
2) Terlalu mandiri
Saat tumbuh dewasa, saya sering dibiarkan sendiri. Orang tua saya sibuk dengan kehidupan mereka sendiri dan hanya memiliki sedikit waktu untuk saya. Itu adalah kasus pengabaian klasik, meskipun mereka memenuhi kebutuhan materi saya.
Seiring bertambahnya usia, saya menyadari adanya rasa kemandirian yang kuat dalam diri saya. Seolah-olah saya selalu siap menghadapi yang terburuk, siap menghadapi segala sesuatu sendirian. Di permukaan, hal ini mungkin tampak seperti sifat yang positif.
Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kemandirian yang ekstrem ini berasal dari pengabaian masa kecil saya. Itu adalah mekanisme pertahanan saya, cara untuk melindungi diri saya dari rasa sakit karena diabaikan.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
