Ilustrasi- Manipulator berusaha memanipulasi korban(freepik)
JawaPos.com - Kita semua pasti pernah bertemu dengan orang yang mengecewakan kita. Psikologi menyarankan ada beberapa tipe orang yang harus Anda waspadai sebelum memberikan kesempatan kedua.
Kita berbicara tentang orang-orang yang secara konsisten menunjukkan pola perilaku yang menyakiti atau menghalangi Anda. Mereka yang, apa pun situasinya, tampaknya meninggalkan jejak kekacauan di belakangnya.
Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 tipe orang yang menurut psikologi, mungkin tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Ini semua tentang melindungi kesehatan mental dan emosional Anda sendiri. Berikut 5 tipe orangnya, dikutip dari hackspirit pada Selasa (26/11).
1) Manipulator serial
Psikologi memperingatkan kita tentang manipulator serial. Mereka adalah orang yang memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi, tanpa mempedulikan perasaan atau kesejahteraan orang yang mereka eksploitasi.
Manipulator serial bisa sangat menarik dan persuasif, sering kali muncul sebagai orang yang paling diinginkan dalam hidup kita. Mereka adalah ahli manipulasi, terampil dalam memutarbalikkan situasi dan kata-kata untuk keuntungan mereka.
Namun di balik permukaan, orang-orang ini tidak terlalu peduli dengan orang lain. Fokus utama mereka adalah pada kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.
Memberikan kesempatan kedua pada seorang manipulator serial sering kali hanya akan membuat Anda semakin sakit hati dan kecewa. Mereka tidak mungkin berubah, dan bahkan jika mereka menunjukkan tanda-tanda perubahan, itu mungkin hanya taktik manipulasi lainnya.
2) Korban abadi
Kita semua tahu orang ini, korban abadi. Mereka tampaknya selalu berada di ujung tanduk kehidupan, dan tidak pernah bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Saya pernah memiliki seorang teman yang merupakan korban abadi. Apa pun yang terjadi - tenggat waktu yang terlewat, hubungan yang gagal, kehilangan pekerjaan itu tidak pernah menjadi kesalahannya. Dia selalu menyalahkan orang lain atau keadaan atas kemalangan yang dialaminya.
Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa pola ini menguras tenaga dan beracun. Saya mendapati diri saya terus-menerus berusaha menyelamatkannya atau memperbaiki masalahnya, yang secara emosional melelahkan. Menjadi jelas bahwa dia tidak tertarik untuk mengubah situasinya atau belajar dari kesalahannya.
Menurut psikologi, korban yang terus menerus menjadi korban bisa menjadi orang yang berbahaya untuk diijinkan kembali ke dalam hidup Anda. Mereka menghindari tanggung jawab, yang berarti mereka tidak mungkin mengubah perilaku mereka jika diberi kesempatan kedua. Sulit untuk mengucapkan selamat tinggal, tetapi terkadang itu perlu untuk kesejahteraan Anda sendiri.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
