Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 November 2024 | 00.28 WIB

5 Hal yang Akan Dilakukan Seorang Manipulator Ketika Anda Akhirnya Membela Diri Sendiri, Salah Satunya Berperan Sebagai Korban

Ilustrasi manipulator dan korbannya. (Freepik)

JawaPos.com - Menghadapi manipulator bisa menjadi tugas yang menakutkan. Orang-orang ini berkembang pesat dalam mengendalikan orang lain melalui berbagai taktik, yang seringkali tersembunyi atau tidak kentara. Tetapi ketika Anda mengumpulkan keberanian dan akhirnya mendorong mundur, tanggapan mereka bisa sangat jelas. Dikutip dari hackspirit pada Senin (18/11), berikut 5 hal yang akan dilakukan seorang manipulator ketika Anda akhirnya membela diri sendiri. Ini tentang memahami pedoman mereka, sehingga Anda dapat mengantisipasi gerakan mereka dan terus mempertahankan pendirian Anda.

Ini tidak akan mudah, tetapi ingat: Anda mengambil sikap untuk kesejahteraan Anda sendiri, dan itu selalu sepadan. Mari selami.

1) Mereka berperan sebagai korban

Salah satu respons klasik seorang manipulator adalah tiba-tiba menjadi korban. Ketika Anda membela diri sendiri, kekuatan mereka terancam. Dan dalam upaya untuk mendapatkan kembali kendali, mereka mungkin mencoba memutarbalikkan situasi, agar tampak seolah-olah merekalah yang diperlakukan tidak adil. Taktik ini, juga dikenal sebagai 'mempermainkan korban', dirancang untuk membuat Anda merasa bersalah atau mempertanyakan tindakan Anda. Ini adalah manuver psikologis yang bertujuan mengalihkan fokus dari perilaku manipulatif mereka dan ke 'serangan'Anda. Jangan tertipu.

Ingat, membela diri sendiri bukanlah tindakan agresi. Itu adalah tindakan harga diri. Anda memiliki hak untuk mengungkapkan perasaan Anda dan menetapkan batasan tanpa dibuat merasa bersalah karenanya. Pertahankan pendirian Anda dan jangan biarkan korbannya memengaruhi Anda. Itu hanyalah taktik manipulatif lain dalam gudang senjata mereka.

2) Mereka mencoba membuat Anda meragukan diri sendiri

Saya ingat dengan jelas satu contoh ketika saya akhirnya berhadapan dengan seorang rekan yang manipulative, tentang kelemahannya yang terus-menerus. Alih-alih mengakui perilakunya, dia langsung membalikkannya padaku. Dia mengklaim bahwa saya bereaksi berlebihan dan terlalu sensitif. Dia menyarankan agar saya membayangkan sesuatu, sehingga menimbulkan keraguan dalam pikiran saya tentang diri saya dan persepsi saya. Ini adalah taktik umum yang disebut 'gaslighting'. Ini adalah bentuk manipulasi psikologis, di mana mereka membuat Anda mempertanyakan kewarasan, ingatan, dan kenyataan Anda sendiri.

Dalam retrospeksi, saya menyadari tanggapannya adalah teknik defleksi klasik untuk menghindari tanggung jawab atas tindakannya. Tetapi pada saat itu, hampir membuat saya menebak-nebak keputusan saya untuk menghadapinya. Melawan seorang manipulator sering kali melibatkan berurusan dengan upaya semacam itu, untuk membuat Anda meragukan diri sendiri.

3) Mereka menggunakan intimidasi

Intimidasi adalah alat lain dalam kotak peralatan manipulator. Saat Anda melawan mereka, mereka mungkin mengancam, berteriak, atau menggunakan bahasa tubuh yang agresif untuk membuat Anda mundur. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, manipulator sering menggunakan taktik intimidasi ketika mereka merasa kendali mereka hilang.

Ini adalah upaya untuk menegaskan kembali dominasi dengan membuat Anda merasa kecil atau takut. Tapi ingat, tidak ada yang berhak mengintimidasi atau menakut-nakuti Anda untuk tunduk. Tidak apa-apa untuk menjauh dari situasi seperti itu dan mencari dukungan jika diperlukan. Membela diri sendiri bukan berarti Anda harus melakukannya sendiri.

4) Mereka memberi Anda perlakuan diam-diam

Setelah Anda melawan seorang manipulator, jangan heran jika Anda bertemu dengan dinding kesunyian. Ini adalah taktik umum yang digunakan untuk menghukum Anda, karena menantang kendali mereka. Perlakuan diam adalah bentuk manipulasi emosional, di mana mereka menahan komunikasi untuk membuat Anda merasa bersalah atau cemas. Ini dirancang untuk membuat Anda mendambakan persetujuan atau perhatian mereka, dan pada akhirnya menyerah pada tuntutan mereka.

Namun, penting untuk diingat bahwa komunikasi yang efektif adalah dasar dari setiap hubungan yang sehat, baik itu pribadi maupun profesional. Jika seseorang menggunakan perlakuan diam-diam, alih-alih menangani masalah secara terbuka, itu adalah tanda bahaya yang jelas. 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore