Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 November 2024 | 05.26 WIB

Dibalik Ketenaran Media Sosial, Ini 7 Akibat dari Anak yang Menjadi Seorang Influencer!

Ilustrasi anak./ Pexels - Image

Ilustrasi anak./ Pexels

JawaPos.com - Di tengah dunia dengan kemajuan teknologi sekarang ini, kamu mungkin familiar dengan istilah influencer. Seperti namanya, influencer merupakan orang yang memengaruhi orang lain dengan melakukan sesuatu.

Istilah influencer ini digunakan dalam konteks media sosial. Para influencer biasa memposting sesuatu di media sosial mereka untuk kemudian bisa mempengaruhi pengikutnya melakukan hal serupa atau membeli barang yang sama.

Sebuah perusahaan bisa membayar influencer untuk memasarkan produknya di akun media sosial mereka.Para influencer tersebut memiliki ketenaran dan juga proyek iklan yang berjalan terus menerus, menjadikannya sebuah pekerjaan menjanjikan.

Kamu mungkin tahu ada beberapa anak kecil yang dijadikan influencer oleh orangtuanya. Anak kecil yang jadi influencer tersebut mungkin terkenal akna tingkah lucu, gemas dan masih banyak lagi.

Namun, menjadikan anak seorang influencer bukannya tanpa akibat. Dilansir dari NBC News dan India Today, berikut 7 akibat dari anak yang menjadi seorang influencer:

1. Jejak Digital tanpa Persetujuan

Akibat pertama dari anak yang tumbuh menjadi seorang influencer adalah adanya jejak digital tanpa persetujuan anak. Anak-anak yang direkam sebagai influencer tentu tidak tahu menahu akan dibuat apa video yang direkam oleh orangtuanya.

Video yang diunggah tersebut kemudian berkeliaran bebas di internet, terutama video yang sangat viral dengan jutaan penonton.

Seorang anak tentu tidak bisa memberikan persetujuan untuk memposting videonya. Meski begitu, video dari anak tersebut akan menjadi jejak digital baginya di internet selamanya.

2. Ketakutan akan Audiens

Akibat kedua dari anak yang menjadi seorang influencer cilik adalah ketakutan akan adanya audiens tak terlihat.

Terbiasa di depan kamera hampir 24 jam membuat anak jadi melakukan akting meski tidak ada kamera sekalipun.

Hidup dalam tuntutan video demi video membuat anak bisa jadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sehingga akan susah untuk lepas ketika tumbuh. Mereka bisa jadi ketakutan dan merasa harus terus berakting dalam keseharian mereka.

3. Kiriman Pesan/Komentar Buruk

Akibat ketiga dari anak yang tumbuh jadi seorang influencer adalah banyaknya komentar atau pesan buruk yang ditujukan pada anak. Kamu tentu tahu bahwa di media sosial, tidak hanya ada orang baik yang akan memuji anakmu.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore