
Ilustrasi anak./ Pexels
JawaPos.com - Di tengah dunia dengan kemajuan teknologi sekarang ini, kamu mungkin familiar dengan istilah influencer. Seperti namanya, influencer merupakan orang yang memengaruhi orang lain dengan melakukan sesuatu.
Istilah influencer ini digunakan dalam konteks media sosial. Para influencer biasa memposting sesuatu di media sosial mereka untuk kemudian bisa mempengaruhi pengikutnya melakukan hal serupa atau membeli barang yang sama.
Sebuah perusahaan bisa membayar influencer untuk memasarkan produknya di akun media sosial mereka.Para influencer tersebut memiliki ketenaran dan juga proyek iklan yang berjalan terus menerus, menjadikannya sebuah pekerjaan menjanjikan.
Kamu mungkin tahu ada beberapa anak kecil yang dijadikan influencer oleh orangtuanya. Anak kecil yang jadi influencer tersebut mungkin terkenal akna tingkah lucu, gemas dan masih banyak lagi.
Namun, menjadikan anak seorang influencer bukannya tanpa akibat. Dilansir dari NBC News dan India Today, berikut 7 akibat dari anak yang menjadi seorang influencer:
1. Jejak Digital tanpa Persetujuan
Akibat pertama dari anak yang tumbuh menjadi seorang influencer adalah adanya jejak digital tanpa persetujuan anak. Anak-anak yang direkam sebagai influencer tentu tidak tahu menahu akan dibuat apa video yang direkam oleh orangtuanya.
Video yang diunggah tersebut kemudian berkeliaran bebas di internet, terutama video yang sangat viral dengan jutaan penonton.
Seorang anak tentu tidak bisa memberikan persetujuan untuk memposting videonya. Meski begitu, video dari anak tersebut akan menjadi jejak digital baginya di internet selamanya.
2. Ketakutan akan Audiens
Akibat kedua dari anak yang menjadi seorang influencer cilik adalah ketakutan akan adanya audiens tak terlihat.
Terbiasa di depan kamera hampir 24 jam membuat anak jadi melakukan akting meski tidak ada kamera sekalipun.
Hidup dalam tuntutan video demi video membuat anak bisa jadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sehingga akan susah untuk lepas ketika tumbuh. Mereka bisa jadi ketakutan dan merasa harus terus berakting dalam keseharian mereka.
3. Kiriman Pesan/Komentar Buruk
Akibat ketiga dari anak yang tumbuh jadi seorang influencer adalah banyaknya komentar atau pesan buruk yang ditujukan pada anak. Kamu tentu tahu bahwa di media sosial, tidak hanya ada orang baik yang akan memuji anakmu.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
