
Ilustrasi seseorang yang mengutamakan pekerjaan dibandingkan hubungan. (freepik.com/master1305)
JawaPos.com - Memiliki hidup yang seimbang adalah tantangan bagi setiap orang, karena banyak urusan yang harus dilakukan. Mulai dari segi pekerjaan, keluarga, hubungan, serta lingkungan sosial.
Tak bisa dipungkiri bahwa ada orang yang mengutamakan salah satu aspek dibandingkan lainnya, sehingga sering timbul konflik atau perdebatan. Seperti mereka yang mementingkan pekerjaan dibandingkan hubungan.
Melansir dari laman Personal Branding pada (01/11), orang yang mengutamakan pekerjaan dibandingkan hubungan, biasanya menunjukkan 7 perilaku ini :
1. Selalu Terhubung
Di era digital ini, sulit bagi kita untuk memutuskan hubungan melalui handphone. Mereka selalu mengecek email terus-menerus, memenuhi panggilan telepon, dan ketidakmampuan untuk mematikan ponsel di waktu-waktu libur.
Kebiasaan ini lambat laun menjadi obsesi, mungkin bisa hadir secara fisik tapi tidak hadir secara emosional. Berhati-hatilah kamu bisa menghilangkan momen-momen tersebut, jangan biarkan pekerjaan menyerbu ruang pribadi.
Baca Juga: Mengetahui Makna dan Arti Psikologi Warna: Mulai dari Mempengaruhi Respons Emosional hingga Terhadap Perasaan dan Perilaku
2. Melewatkan Acara-acara Penting
Orang-orang yang condong pada pekerjaan seringkali mendapati diri untuk melewatkan peristiwa penting kehidupan orang-orang tercinta, seperti ulang tahun, hari jadi hubungan, wisuda, serta momen bersejarah lainnya dalam hidup.
Dalam konteks hubungan, momen-momen indah yang dilewakan seringkali meninggalkan rasa penyesalan setelah ia meninggalkan kita.
3. Percakapan Didominasi Pekerjaan
Bagi mereka yang mengutamakan pekerjaan di atas segalanya, tak heran jika pekerjaan kerap menjadi topik pembicaraan utama bahkan dalam kehidupan pribadinya. Sangat sedikit ruang untuk pembicaraan pribadi dan intim, sehingga akan membuat orang yang dicintai merasa tidak dihargai.
4. Sering Membenarkan Obsesi Kerjanya
Salah satu perilaku yang diperhatikan saat orang-orang memprioritaskan pekerjaan daripada hubungannya adalah kemampuan mereka untuk membenarkan kecenderungan gila kerja.
Mereka juga sering menggunakan ungkapan seperti "Aku melakukan ini untuk kita" atau "Segalanya akan menjadi lebih baik setelah proyek ini selesai". Percayalah bahwa kesuksesan sebesar apapun tidak dapat menggantikan kegembiraan dan kenyamanan hubungan kita.
Baca Juga: Picu Gejala Kecemasan, Ini Perilaku Negatif dari Penggunaan Media Sosial yang dapat Merusak Diri Sendiri
5. Mengabaikan Tanda-tanda Ketegangan
Biasanya mereka terlalu asyik dengan pekerjaannya sehingga tak menyadari bahwa jarak hubungan sudah semakin jauh, keheningan, atau perubahan halus dalam perilaku orang yang dicintainya.
Ketika mereka mulai menyadari itu, seringkali sudah terlambat dan kerusakan telah terjadi. Akibatnya, hubungan itu tidak dapat diperbaiki lagi.
6. Interaksi Sosial yang Terbatas
Seringkali mereka yang mengutamakan pekerjaan dibandingkan hubungan, akhirnya membatasi lingkaran sosial dan hanya terhubung pada rekan kerja. Meskipun kehidupan profesional itu penting, tapi bukan berarti kita mengabaikan hubungan pribadi.
Keberagaman hubungan yang kita miliki adalah bumbu dari kehidupan, sehingga tidak berjalan bosan begitu saja.
7. Sering Mengalami Perasaan Hampa
Orang-orang yang mengutamakan pekerjaan daripada hubungan mereka seringkali mengalami perasaan hampa. Terlepas dari kesuksesan profesional mereka, ada kekosongan yang tidak dapat diisi oleh prestasi kerja.
Kekosongan inilah yang berasal dari kurangnya hubungan emosional. Ini adalah kenyataan pahit tapi membawa sebuah kebenaran penting dan tidak menutupi ketiadaan cinta dan persahabatan.
Dalam kehidupan, sangatlah penting untuk memelihara hubungan pribadi dengan tekun seperti halnya menjaga karier. Bagaimanapun, cinta dan kehangatan dari hubungan inilah yang benar-benar memperkaya hidup kita.
Mengutip dari laman RS Olahraga Nasional Kemenpora, bahwa perilaku ini terjadi karena tidak memiliki work-life balance yang akan membuat seseorang lebih bahagia dan sehat secara fisik maupun mental.
Kendati demikian, perilaku ini bisa dimulai dari kesadaran diri sendiri tanpa harus menunggu rusaknya hubungan, menurunnya kesehatan, atau ditinggalkan orang-orang tersayang.
***

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
