Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 September 2024 | 00.19 WIB

Menjadi Pasangan yang Sempurna! Kenali 3 Perangkap Terlalu Baik dalam Hubungan, Menurut Psikologi

Ilustrasi pasangan yang terlalu baik dalam hubungan. (Pixabay) - Image

Ilustrasi pasangan yang terlalu baik dalam hubungan. (Pixabay)

JawaPos.com – Setiap orang pasti berusaha bersikap baik dalam menjalin hubungan. Mereka yang bersikap baik, akan berusaha berempati dan berkompromi untuk menciptakan keharmonisan dengan pasangan.

Dalam hal ini, kita juga perlu memperhatikan keseimbangan antara bersikap baik dan bersikap akomodatif. Kecenderungan untuk fokus pada sikap menyenangkan akan berisiko mengabaikan diri kita sendiri.

Dilansir dari forbes.com, bersikap terlalu baik dapat menciptakan dinamika hubungan yang tidak sehat, batasan akan menjadi abstrak dan kebencian akan terbentuk. Kita perlu membedakan antara sikap baik dan mengasuh.

Bersikap baik seringkali melibatkan pengorbanan diri dan menghindari kebenaran, sedangkan bersikap mengasuh mendorong kepedulian dan kejujuran dalam hubungan.

Ketika perbuatan baik dapat mengorbankan kesejahteraan Anda, hal itu dapat merusak hubungan, sehingga tidak ada ruang untuk pertumbuhan dan memperkuat hubungan sejati.

Berikut tiga hal yang dianggap terlalu baik dan mampu merusak hubungan Anda.

  1. Pengorbanan diri

Pengorbanan diri dalam hubungan sering kali terlihat mulia, memprioritaskan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan pribadi sebagai bentuk rasa cinta. Anda mungkin merasa terus-menerus menyetujui rencana mereka.

Hal ini sering terjadi ketika menghadiri acara yang sebenarnya Anda hindari, mendahulukan karir pasangan daripada tujuan Anda, atau membuat pilihan berdasarkan prioritas mereka agar hubungan tetap harmonis.

Awalnya pengorbanan akan terlihat baik untuk hubungan. Namun, ketika pengorbanan Anda menjadi kebiasaan, hal itu akan membuat Anda merasa kelelahan emosional.

Terus-menerus mengabaikan kebutuhan Anda tidak hanya merusak identitas dan harga diri Anda, tetapi membuat Anda merasa frustasi. Itu membuat Anda merasa tidak didengar dan diperhatikan oleh pasangan.

Dalam penelitian yang dilakukan pada 2012, penekanan emosional sering kali terjadi karena pengorbanan, ini menyebabkan peningkatan perasaan negatif dan menurunkan kepuasan hubungan.

  1. Menyesuaikan diri

Dalam upaya menghindari konflik atau ketidaknyamanan dalam hubungan, Anda mungkin berusaha menekan perasaan atau pendapat yang sebenarnya Anda rasakan.

Dengan berpura-pura memiliki minat yang sebenarnya tidak Anda pedulikan akan menciptakan rasa harmoni yang singkat. Meskipun menyesuaikan diri tampak mudah, tetapi cara ini dapat memberikan beban emosional yang signifikan.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering menyesuaikan diri dengan keinginan pasangan mereka, cenderung berpura-pura menjadi orang lain dan dapat mengikis jati diri Anda.

Hal ini dapat menciptakan kepuasan sesaat dalam hubungan, sehingga kedalaman dan ketulusan tidak dapat terbentuk dalam diri pasangan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore