Ilustrasi primbon Jawa yang menyimpan misteri soal ‘kabotan jeneng’ atau keberatan nama.(Freepik/jcomp)
JawaPos.com – Pernahkah Anda mendengar tentang anak yang sering sakit-sakitan, apes, atau sial, lalu orang tuanya mengatakan bahwa ia keberatan nama atau ‘kabotan jeneng’?
Kepercayaan ini sudah mengakar kuat di masyarakat Jawa, bahkan hingga kini di era modern yang serba canggih. Namun, benarkah ada hubungan antara nama dengan kesehatan dan nasib seseorang?
Mari kita telaah lebih dalam fenomena ‘kabotan jeneng’ ini, dari sudut pandang tradisi menurut Primbon Jawa dan psikologi.
Ketika Nama Membawa Beban, Bukan Berkah
Dalam kepercayaan Jawa, nama yang terlalu berat, muluk-muluk, atau tidak sesuai dengan aura seseorang diyakini bisa membawa dampak negatif. Lantas, bagaimana kita menyikapi fenomena ini?
Dilansir dari kanal YouTube Dewi Sundari Praktisi Kejawen, Sabtu (24/8), Jawa Pos akan membahas lebih lanjut tentang konsep ‘kabotan jeneng’ dalam masyarakat Jawa. Kita akan menelusuri akar kepercayaan ini, serta menyajikan pandangan dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi tradisi, maupun psikologi.
Dengan demikian, diharapkan kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena ini dan mengambil sikap yang bijaksana dalam memilih nama untuk anak-anak kita.
1. Kabotan Jeneng: Ketika Nama Menjadi Beban Menurut Primbon Jawa
Kepercayaan tentang ‘kabotan jeneng’ bukanlah hal baru. Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa telah meyakini bahwa nama memiliki makna dan kekuatan yang bisa memengaruhi kehidupan seseorang.
Dalam konteks ini, Kabotan jeneng, kepercayaan masyarakat Jawa sejak zaman dahulu, adalah kondisi di mana seseorang dianggap tidak mampu ‘menyandang’ namanya. Nama yang terlalu muluk atau tidak selaras dengan aura pemiliknya diyakini bisa membawa kesialan, masalah kesehatan, dan ketidakbahagiaan.
Nama yang memiliki makna yang terlalu tinggi dianggap bisa menjadi beban bagi si pemilik nama. Misalnya, seorang anak bernama Indah Suprapti Basuke, yang artinya cantik, sehat, selamat, dan beruntung, justru sering sakit-sakitan. Setelah namanya diganti menjadi Iin Suprapti, ia tidak pernah sakit lagi.
2. Kekuatan Pikiran: Perspektif Psikologis tentang Kabotan Jeneng
Selain perdebatan antara tradisi dan kepercayaam leluhur, ada juga aspek psikologis dalam fenomena 'kabotan jeneng'. Ketakutan atau kecemasan saat nama asli disebut sebelum ritual 'ruwatan' (upacara Jawa untuk melepaskan dari kesialan) dapat dijelaskan melalui teori psikoanalisis Freud tentang superego.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
